Ohayo!
Assalamu'alaykum guys
Malem minggu nih, kemana aja?
well.. pasti pada sama cingu cingunya yakk.. happy holiday buat yang kumpul bareng keluarganyaa.. semangat juga buat yang sama cemiwiwnya biar cepet putus #eh,
trus dihalalin secepatnyaa ^^
Buat yang masih jomblo! well.. ga ada orang yang bener bener jomblo kok, kecuali kalian yang... titik titik titik.
Okeeeeyy ini mau ngomongin apa yah
ohiya, Pak Ikhsan!
siapa sih?
cemiwiw ku? om? bapak? tetangga?
yup.
Gak ada yang bener..
jadiii... pak ikhsan ituuuu.. adalaah..
#lagu pembukaan lima menit
Tsah~
Bapak kos pertama ku ^^
hmm..
hmm..
hmm..
jadi, faedahnya apa ya?
😁 mola~
#skip
yaak, jadi.. bapak ini pemilik kos pertamaku, berletak di *tiiit jalan *tiiit setengah jam kalo jalan cepet ke kampus
jauh ga? wkwk mayan lah.
Bapak ini, adalah.. bapak yang bukan istri dari seorang suami. Ia adalah lelaki paruh baya sekitar 60-an. Selalu memakai baju koko, lengkap dengan sarung dan kopiah putih.. kalo baru pulang siang, biasanya bapak ada di suraunya atau duduk di kursi tamu depan rumah.
Membaca sesuatu, berdzikir atau bercakap dengan tamu bapak itu hal yang sering jadi pemandangan ku jika baru pulang atau pergi kosan.
Setiap jam 10, selalu rajin menggembok pagar terdepan kos.
kata yang sering ku dengar jika keluar dan masuk kos saat awal ngekos itu, "Lampunya jangan lupa dimatiin kalo keluar!" "Sandal/sepatunya langsung tatuh di rak!" "sandalnya dilepas kalo masuk tempat cuci" "itu setrikanya jangan digituin kalo dipake" begitu terus sampai aku bosan dan jarang melakukan kesalahan yang dulu ku anggap sepele. Jujur saja saat-saat itu terasa menyebalkan. Biasa anak muda :v
Saat tetanggaku meminta izin untuk memberikan nomer hp umiku pada beliau langsung saja tanpa ragu kuberikan.
Suatu hari, sebut saja aku kecewa.
Beliau dengan teganya membiarkan temanku pulang ke tangerang meskipun sudah larut tanpa iba sedikitpun. Beberapa hari tidak menyapa, begitu sebal jika melihat sosoknya.
Dan... lambat laun aku membiarkan diriku kembali seperti biasa.
Menyadari, kesalahannya terjadi karena kebodohanku. Menyadari peraturan bahwa tak boleh membawa org lain menginap, dan aku berfikir si bapak mungkin bisa dinego jika melihat sudah malam. Hmm..
itu sedikit rangkuman yang membuatku memiliki kesan pada beliau, bapak yang menyebalkan, tegas, cerewet, dan bla bla bla tentang fikiranku dulu.
Beberapa waktu setelah masa MPA berlalu, aku berjalan ke kosan dengan rasa tanpa rasa.. bingung, sakit, dan.. entahlah. Baru saja aku menghadiri pemakaman kakak tingkat yang sudah ku anggap sangat dekat, orang pertama yang membuatku merasa tidak sendiri dan membuatku sedikit melupakan ketakutanku masuk kuliah.
Aku masuk kos dengan wajah yang kubuat tersenyum saat bertemu bapak.
Menyapanya, dan langsung memasuki kamar.
Terduduk.
Merasa ada yang hampa..
lagi-lagi aku membodohi diri.
Kenapa aku tadi datang? siapa aku? bahkan lebih banyak orang terdekatnya yang menyayanginya namun yang kupikirkan hanya sakitku. Begitu banyak orang yang lebih lama berteman dan menyayanginya.
Hanya menatap yang bisa kulakukan.
Bingung. Tanpa rasa.
Memikirkan betapa singkatnya..
Betapa jahatnya aku mengirim pesan terakhir seperti "maaf ka salah kirim" yang sebenarnya hanya caper :v
Ketika ia menjawab sedang sakit karena tidak ikut acara yang ia janji datang, aku menjawab singkat karena kecewa.
Ya, dia.. sudah ku anggap kakak.
Satu dua tetes akhirnya keluar,
tetapi segera ku hapus saat terdengar suara bapak. "Wafaa.. sepatumu masukin itu!" Deg, ah.. sepatu!
Aku keluar dan mengambilnya, daan..
bapak mengatakan nasehat yang cukup panjang dengan nada sulawesinya.
Tak apa, aku yang salah. Ku bawa sepatu itu dan meletakkannya di rak.
Kembali masuk kamar, dan memegang hp. Satu dua pesan ku kirimkan ke nomer "kakakku" masih berharap ada seseorang yang membalasnya..
Kemudian diam,
menetes lagi.. tersekat. Sakit.
Tetangga kamarku belum ada yang datang. Tak ada suara bapakpun.
Dan.. aku menangis. Mengeluarkan semua rasa sakit. Lama.. beberapa kali berhenti saat sadar semua sudah berlalu, kemudian terasa sakit lagi, dan menangis lagi.. hah, cengengnya diriku :'(
Sekejap berhenti saat mendengar tapak kaki dan suara pintu dari tetanggaku.
Kemudian terlelap, lelah.
Esoknya, beliau berkata karena sesuatu hal yang mungkin kulupakan, atau tiba-tiba ia berkata, "Wafa, jadi wanita harus kuat! bapak ingetin sepatu dan sering ngingetin kamu agar bla bla bla bla.."
beliau tiba2 menerangkan alasan ia membuat peraturan..
Bingung. Aku hanya mengiyakannya dan bergegas keluar.
Beberapa hari setelahnya, tiba tiba abiku menanyakan kabar.
Sedikit terkejut, karena itu hal yang sangat langka. Bertanya apakah ada masalah dengan bapak kos.
Bapak menelpon rumah dengan nadanya yang seperti marah-marah menanyakan apakah ada masalah denganku dirumah, menanyakan kenapa aku tak kunjung pulang kerumah, dan.. bercerita bahwa aku menangis dengan suara yang terdengar hingga keluar.
Ah.. ternyata bapak dengar.
dan.. entah mengapa aku seketika menyayangi bapak seperti kakekku sendiri.
Di awal semester 2, aku memutuskan pindah karena menghindari tuntutan bapak untuk mencari teman kos untuk mengisi kuota kamarku yang memang untuk 2 orang.
Aku pergi, dengan beberapa kekecewaan pada bapak, karena.. beberapa hal yang sulit ku sampaikan.
Jadi... untuk apa aku menulis ini?
entahlah, aku hanya sedikit rindu dengan bapak. dengan.. "kakek ku"
#MeEndPov