My fans

25 Des 2016

Kind of People

Ini bukan tentang apa-apa,
ini sekedar pemikiran di tengah malam bersama deruman angkot arah ciputat yang nantinya menghentikanku di curug topik.

Selalu ada orang baik di dunia.
Orang yang selalu dikelilingi orang baik..
Orang yang dididik oleh orang baik
Orang yang memiliki cerita orang baik yang selalu saja menggoreskan kesan
Orang yang berperangai sangat baik,
Orang yang mampu membaikkan dirinya disetiap kesempatan..

dan sebagai pengakhir gambaran ini,
Seringkali ada
orang yang terbungkus dengan cantik oleh berbagai kebaikan itu..

see?
Nyatanya banyak orang yang bisa menyegarkan pikiranmu saat bersama orang baik.
Meskipun sering saja tertanam dalam benak,
dengan sadar, hanya bisa membatasi arti sebuah pertemanan karena diri yang jauh dari hal baik..
hehe

by the way,
tadi sesuatu banget..
turun bis langsung memoles aspal dengan sedikit sisa makanan di perut,
dan turun dari kang ojek.. hanya mampu meratapi gerbang yang tertutup, alias udah digembok ._______.

Cape, lelah, ngantuk, eh nggk deng
mager aja besok harus ke kampus lagi~
Tapiii... masih ada tanggung jawab yang dengan bodohnya terlalaikan oleh pertimbangan yang tidak bisa dipertanggung jawabkan ^^
Lah emotnya~

Seneng bisa denger banyak dari kakak yang selalu menginspirasi, yang nyatanya ia hanya orang yang penuh kebaikan.. insyaAllah
Meskipun diri ini lagi lagi hanya mampu membisu dengan berbagai ekspresi tak berfaedah~
well, ternyata ini adalah sebuah kebiasaan..

meet up sama anak GF yang nyatanya empal dem dem dem banget, you know GF?
Pasukan hijau~ segelintir makhluk mamalia yang seringkali berceloteh tentang isu isu serius hingga hal mengerikan yang diserius seriuskan.
Suka dengan ke-pure-an mereka.
namun apa daya..
daku hanya seseorang yang terlalu cemen untuk sebuah kebisingan, gerakkan atau bersuara di dalam kebisingan semakin memperburuk penyakit alakadabra ini~

Menjaga ekspresi agar tak menarik banyak syaraf, dan menahan suara agar... yaa gitu aja sih, sama aja.

Sebut saja saya anti sosial, sebut saja saya cupu, sebut saja saya kek bukan nax mudha~ well.. hanya mencoba tidag memvervuruk keadaan yang sudah keruh di dalam muara ini #nunjuk hatiy

Soo...
Selamat malam minggu ^^
hope you all enjoy your holiday *kalo udah uas*
Disini aku seperti ini saja. Sebagai seseorang tanpa cerita.. tanpa hal baik.. tanpa naluri manusia yang ekselen en komprehensip~

#Bukan orang yang berharap untuk di maklumi, cukup jadika aku sebagai... orang.

#MePovEnd

24 Des 2016

Rintikan yang Nyatanya Hilang

Hai,
Berjumpa di kumpulan goresan warna ku.

Nuansa di hari-hari ini berisi dengan berbagai kampanye dengan propaganda yang bervariasi.
Seruan coblos nomer anu dan anu yang memiliki warna dan temanya sendiri, menghiasi miniatur negara ini, ataupun negara besarku ini.

Hingga hari ini masih saja aku memilih diam. Lagi-lagi mengalah pada rasa lelah dan malas mengolah kesan disetiap detik ini.

Lagi lagi pelatihan dengan konsep yang tak jauh beda berlangsung secara berkala di setiap fakultasnya. Lagi?
iya. Kukatakkan ini bak lingkaran kotak berbentuk segitiga yang tak pernah bertemu mana awal dan akhirnya.
Apa arti yang sebenarnya diharapkan. Hingga akhirnya birokrasi dengan cakar halusnya yang tertancap dengan semena-menanya tetap berlenggok di panggung drama.
Membawa koaran dalam pencapaian kebaikan namun terus saja membawa lagu lama.

Bukan rahasia lagi bila permainan iblis berbentuk kertas yang dengan bangganya dijilat oleh para penyantap dunia.

Hmmmmm....
Masih.
Dengan malu menyadari,
bahwa aku masih saja terdiam dibalik rintikan ku.
Hahaha
Apa pula harapan Indonesia?
Katakan saja, rinduku kini terburai sejak lalu bersama rintikan yang diam.
Lama sudah kuyakini..

Rintik itu, Nyatanya sudah hilang..

Ini tentang rasa malu ku
bersama berbagai haluan angin yang diam.

#PovEnd

19 Des 2016

Another Rain

Saat berjalan ditengah hujan,
mungkin akan terasa sejuk dan sedikit dingin..
Langkah-langkah yang membawa genangan kecil yang akan terburai kemudian..

Suatu waktu
aku menyadari,
Bahwa nyatanya aku hanya terdiam ditengah hujan
dan kemudian diam-diam melebur bersama rintikannya..

cause
it's just
another rain..

#epilog

10 Des 2016

Pak Ikhsan

Ohayo!
Assalamu'alaykum guys

Malem minggu nih, kemana aja?
well.. pasti pada sama cingu cingunya yakk.. happy holiday buat yang kumpul bareng keluarganyaa.. semangat juga buat yang sama cemiwiwnya biar cepet putus #eh,
trus dihalalin secepatnyaa ^^

Buat yang masih jomblo! well.. ga ada orang yang bener bener jomblo kok, kecuali kalian yang... titik titik titik.

Okeeeeyy ini mau ngomongin apa yah
ohiya, Pak Ikhsan!
siapa sih?
cemiwiw ku? om? bapak? tetangga?
yup.
Gak ada yang bener..
jadiii... pak ikhsan ituuuu.. adalaah..
#lagu pembukaan lima menit

Tsah~
Bapak kos pertama ku ^^

hmm..
hmm..
hmm..

jadi, faedahnya apa ya?

😁 mola~

#skip

yaak, jadi.. bapak ini pemilik kos pertamaku, berletak di *tiiit jalan *tiiit setengah jam kalo jalan cepet ke kampus
jauh ga? wkwk mayan lah.

Bapak ini, adalah.. bapak yang bukan istri dari seorang suami. Ia adalah lelaki paruh baya sekitar 60-an. Selalu memakai baju koko, lengkap dengan sarung dan kopiah putih.. kalo baru pulang siang, biasanya bapak ada di suraunya atau duduk di kursi tamu depan rumah.

Membaca sesuatu, berdzikir atau bercakap dengan tamu bapak itu hal yang sering jadi pemandangan ku jika baru pulang atau pergi kosan.

Setiap jam 10, selalu rajin menggembok pagar terdepan kos.

kata yang sering ku dengar jika keluar dan masuk kos saat awal ngekos itu, "Lampunya jangan lupa dimatiin kalo keluar!" "Sandal/sepatunya langsung tatuh di rak!" "sandalnya dilepas kalo masuk tempat cuci" "itu setrikanya jangan digituin kalo dipake" begitu terus sampai aku bosan dan jarang melakukan kesalahan yang dulu ku anggap sepele. Jujur saja saat-saat itu terasa menyebalkan. Biasa anak muda :v

Saat tetanggaku meminta izin untuk memberikan nomer hp umiku pada beliau langsung saja tanpa ragu kuberikan.

Suatu hari, sebut saja aku kecewa.
Beliau dengan teganya membiarkan temanku pulang ke tangerang meskipun sudah larut tanpa iba sedikitpun. Beberapa hari tidak menyapa, begitu sebal jika melihat sosoknya.
Dan... lambat laun aku membiarkan diriku kembali seperti biasa.
Menyadari, kesalahannya terjadi karena kebodohanku. Menyadari peraturan bahwa tak boleh membawa org lain menginap, dan aku berfikir si bapak mungkin bisa dinego jika melihat sudah malam. Hmm..

itu sedikit rangkuman yang membuatku memiliki kesan pada beliau, bapak yang menyebalkan, tegas, cerewet, dan bla bla bla tentang fikiranku dulu.

Beberapa waktu setelah masa MPA berlalu, aku berjalan ke kosan dengan rasa tanpa rasa.. bingung, sakit, dan.. entahlah. Baru saja aku menghadiri pemakaman kakak tingkat yang sudah ku anggap sangat dekat, orang pertama yang membuatku merasa tidak sendiri dan membuatku sedikit melupakan ketakutanku masuk kuliah.
Aku masuk kos dengan wajah yang kubuat tersenyum saat bertemu bapak.
Menyapanya, dan langsung memasuki kamar.
Terduduk.
Merasa ada yang hampa..
lagi-lagi aku membodohi diri.
Kenapa aku tadi datang? siapa aku? bahkan lebih banyak orang terdekatnya yang menyayanginya namun yang kupikirkan hanya sakitku. Begitu banyak orang yang lebih lama berteman dan menyayanginya.
Hanya menatap yang bisa kulakukan.
Bingung. Tanpa rasa.
Memikirkan betapa singkatnya..
Betapa jahatnya aku mengirim pesan terakhir seperti "maaf ka salah kirim" yang sebenarnya hanya caper :v
Ketika ia menjawab sedang sakit karena tidak ikut acara yang ia janji datang, aku menjawab singkat karena kecewa.
Ya, dia.. sudah ku anggap kakak.

Satu dua tetes akhirnya keluar,
tetapi segera ku hapus saat terdengar suara bapak. "Wafaa.. sepatumu masukin itu!" Deg, ah.. sepatu!
Aku keluar dan mengambilnya, daan..
bapak mengatakan nasehat yang cukup panjang dengan nada sulawesinya.
Tak apa, aku yang salah. Ku bawa sepatu itu dan meletakkannya di rak.

Kembali masuk kamar, dan memegang hp. Satu dua pesan ku kirimkan ke nomer "kakakku" masih berharap ada seseorang yang membalasnya..

Kemudian diam,
menetes lagi.. tersekat. Sakit.
Tetangga kamarku belum ada yang datang. Tak ada suara bapakpun.
Dan.. aku menangis. Mengeluarkan semua rasa sakit. Lama.. beberapa kali berhenti saat sadar semua sudah berlalu, kemudian terasa sakit lagi, dan menangis lagi.. hah, cengengnya diriku :'(
Sekejap berhenti saat mendengar tapak kaki dan suara pintu dari tetanggaku.
Kemudian terlelap, lelah.

Esoknya, beliau berkata karena sesuatu hal yang mungkin kulupakan, atau tiba-tiba ia berkata, "Wafa, jadi wanita harus kuat! bapak ingetin sepatu dan sering ngingetin kamu agar bla bla bla bla.."
beliau tiba2 menerangkan alasan ia membuat peraturan..

Bingung. Aku hanya mengiyakannya dan bergegas keluar.

Beberapa hari setelahnya, tiba tiba abiku menanyakan kabar.
Sedikit terkejut, karena itu hal yang sangat langka. Bertanya apakah ada masalah dengan bapak kos.
Bapak menelpon rumah dengan nadanya yang seperti marah-marah menanyakan apakah ada masalah denganku dirumah, menanyakan kenapa aku tak kunjung pulang kerumah, dan.. bercerita bahwa aku menangis dengan suara yang terdengar hingga keluar.

Ah.. ternyata bapak dengar.
dan.. entah mengapa aku seketika menyayangi bapak seperti kakekku sendiri.

Di awal semester 2, aku memutuskan pindah karena menghindari tuntutan bapak untuk mencari teman kos untuk mengisi kuota kamarku yang memang untuk 2 orang.
Aku pergi, dengan beberapa kekecewaan pada bapak, karena.. beberapa hal yang sulit ku sampaikan.

Jadi... untuk apa aku menulis ini?
entahlah, aku hanya sedikit rindu dengan bapak. dengan.. "kakek ku"

#MeEndPov