My fans

18 Sep 2016

Si Manja

Bukan main anak ini..
bahkan umur yang tak lagi muda masih saja terpekur.
Mengatakan tentang lelahnya terus berjalan.
Mengatakan tentang lelahnya terus berharap.

Angin kencang dari kipas itu membawa ku terlalu nyaman dan malas untuk bergerak.
Teringat bintang itu.
bintang kecil itu..
Terus saja ia berputar dan bersinar, meski menyadari bahwa ia tak cukup kuat untuk menerangkan langit malam..
dan tak secuilpun mampu menghangatkan di lelapku tiap malam..
hm, tanpa lelah dan bosan.
Seperti kata menyerah tak pernah ada dalam kamusnya..

Si anak itu..
hah.
bahkan melangkah sedikit saja sudah tamat satu bundel berisi kata lelah.
Ia anak itu.. si aku ini.

Lelah juga berfikir untuk menyerah.. karena selalu saja timbul rasa dan rasionalisasi yang semakin merumitkan definisi lelah..
.........................
Si anak manja ini lupa sekali tentang makna makna tentang hal ini itu yang ia ciptakan sendiri..
Bahkan lupa ketika seorang kakak memegang bahumu, memperbaiki almamater yang asal kupakai dan berkata, "Kuatkan pundaknya, amanah baru"

Sekarang?
Berhentilah bercerita!
telinga seseorang tak selalu untuk mendengar alur hidup makhluk manja.
Ini tentang pilihan..
Jangan terlalu lama mematut diri. Bahkan dirimu tak memiliki apapun ketika meninggalkan raga ini..

Hey anak manja!
Ya si aku yang anak manja.
Jatuhlah kamu.. rasakanlah jatuh itu, terkadang kamu harus jatuh untuk menyadari seberapa jauh kau berlari.
Seberapa banyak keindahan yang kau lupakan ketika berlari, dan hanya bertemu terpaan angin?

Menangislah.
Bahkan orang yang paling kuat adalah orang yang pandai menangis untuk menjadi kuat.

Teruslah berjalan... ya kan?
Tetaplah berjalan.. meskipun duniamu meninggalkanmu..
Bismillah.. #AdaAllah

-Me End Pov

14 Sep 2016

Di dalam Goa

harusnya tetap diam..
harusnya tetap bersembunyi..
harusnya tetap terbungkam..

aku masih lemah.
Seperti percikan air kotor yang mengganggu..
aku masih rapuh.
serapuh batang berkambium dominan..
aku masih buta.
Sebuta cermin yang tetap tertawa saat melihat air mata..

entah langkah yang mana lagi yang memulai..
entah saraf mana lagi yang menggores senyum..
entah mata mana lagi yang harus terjaga dalam kilauan entah..

ku sadari diri ingin sendiri.
menepi di pulau seberang tanpa hunian..
terpekur menatap pasir terlahap ombak
menikmati setiap kasih Yang Kuasa dalam desiran harumnya..
harum angin yang membawa senyap..

namun kembali mata ini berkelahi dengan kenyataan..
ini bukan waktu untuk diam.
bukan waktu untuk terantuk oleh duka.
bukan waktunya untuk ini itu..

Ah.
lelahnya pertengkatan ini..
pertengkaran waktu yang aku pun tak tahu..
Hanya mampu terus bertanya.. dan mencoba menemukan jawaban.

Menanti goa ini terbuka..
goa yang gelam.. dan dingin.

1 Sep 2016

Mata Air Pecinta Indonesia

Pertama baca judulnya, sempet bertanya tanya.. Siapa Rudy Habibie? adiknya kah? anaknya kah?
Nama Pak Habibie bukannya B.J. Habibie?

Oke, hmmmm... dan, setelah nonton filmnya bareng adikku tercuyung, yang minta di traktir -_-

Akhirnya aku paham, kalo itu tentang setengah full kehidupan beliau dari kecil.
kenapa setengah? karena kehidupan pasca kuliah sudah di serap di film Habibie dan Ainun.

Secara keseluruhan, film ini bercerita tentang masa muda dari seorang visioner bernama Rudy (panggilan kecil B.J. Habibi). "Jadilah mata air", itu pesan almarhum ayahnya yang selalu diingat Rudy Habibie.
Pesan itu yang membawanya terbang kuliah di teknik penerbangan universitas RWTH di kota Aachen demi mewujudkan keinginannya membangun Industri Dirgantara di Indonesia. Di Aachen, Rudy tak hanya belajar membuat pesawat tapi juga belajar arti persahabatan.

Rudy menjadi dekat dengan Lim Keng Kie, seorang keturunan Tionghoa, AYU, seorang adik putri keraton Solo, Poltak, pemuda Batak yang jujur dan jenaka, dan Peter, seorang mahasiswa senior. Namun demikian, Ilona, mahasiswi keturunan Polandia, justru yang paling percaya pada cita-cita Rudy. Tapi tak mudah mencari seorang yang sepaham dan mau mendukung.

Rudy juga harus berhadapan dengan Panca dan teman-temannya: para mantan Tentara Pelajar yang percaya kalau Indonesia butuh solusi yang berbeda dengan visi Rudy. Perlawanan dua kubu ini akhirnya membuat kata berubah menjadi airmata; airmata berubah menjadi darah; dan darah berubah menjadi pertaruhan nyawa.

Film RUDY HABIBIE diadaptasi dari Novel berjudul sama karya Gina S. Noer. Film RUDY HABIBIE disutradarai oleh Hanung Bramantyo, sementara naskah cerita ditulis oleh Ginanti S. Noer dan diproduseri oleh Manoj Punjabi. Film ini merupakan prekuel dari film Habibie & Ainun. Film pertama Habibie & Ainun telah ditonton sekitar 4,3 juta orang dan dibintangi Reza Rahadian sebagai Habibie dan Bunga Citra Lestari sebagai Ainun. Film RUDY HABIBIE tayang di bioskop pada akhir Juni 2016. Adapun para pemain yang membintangi film RUDY HABIBIE diantaranya Reza Rahadian, Chelsea Islan, Ernest Prakasa dan Boris Bokir.

Menonton film dokumenter tentang perjalanan seorang ilmuan berbakat yang berjasa dalam meningkatkan teknologi di Indonesia, khususnya teknologi penerbangan. Rancangan bentuk teknologi penerbangan yang akhirnya di renggut oleh pihak-pihak picik di negeri sendiri.

Kisah dalam film ini seharusnya mampu menyadarkan wajah Indonesia agar mampu menjadi negara yang benar - benar merdeka. Dimana kemajuan didalam suatu negara, ditunjang oleh segala sumberdaya yang ada. Sumberdaya di indonesia seperti SDM maupun sumberdaya lainnya yang bila mana dioptimalkan dengan sebaik-baiknya, mampu dengan segera melesatkan posisi Indonesia di tingkatan negara maju.

Dalam film ini juga, kita dapat mengambil kesimpulan tentang mengapa Indonesia yang tingkat populasi masyarakat remaja dan dewasa berada dalam mayoritas, namun seperti menggerus setiap kalimat Ir. Soekarno, "Berikan aku 10 pemuda, maka dengannya aku goncangkan dunia".

Pada awal tahun ketika Habibie mengikuti perkuliahan di Jerman, Habibie bertemu dengan sekelompok pemuda yang bertitel Laskar Pelajar.
Para mahasiswa kiriman Soekarno dari Laskar Pelajar sebagai hadiah atas jasanya dalam melawan Belanda. Menggunakan hak belajarnya di Belanda dengan ketidakseriusan yang melibatkan rasa tinggi hati karena telah membela negara. Malas berdiskusi tentang negara dan mendahulukan hiburan bagi diri pribadi.
Sebuah cerminan mengenai pola sosial pemuda Indonesia masa kini, yang sudah menjamut dan terbagi menjadi beberapa golongan lagi yang semakin kolot untuk memahami arti mahasiswa itu sendiri.

Keteladanan Habibie sebagai pemuda yang diperankan oleh Reza, sebagai mahasiswa yang kritis, pemberani, cerdas dan berakhlak baik, cukup membuat getaran bagi Indonesia. Satu getaran yang seketika diredam, tidak bisa menggerakkan setitik debupun. Dibutuhkan lebih dari satu getaran agar mampu menerbangkan ribuan debu yang menutupi.

Kelebihan yang ada dalam film ini adalah tentang penggambaran tokoh tokoh dalam film Rudy Habibie yang akurat dan memberikan kesan mendalam tentang sebuah perjuangan dalam mencintai Negeri sendiri.

Ketika Rindu memahami rindu

Judul novel     : Rindu

Pengarang      : Darwis Tere Liye

Penerbit         : Republika

Tahun terbit  : 2014

Tebal buku     : 544 halaman

“Apalah arti memiliki, ketika diri kami sendiri bukanlah milik kami?

Apalah arti kehilangan, ketika kami menangis terluka atas perasaan yang seharusnya indah? Bagaimana mungkin, kami terduduk patah hati atas sesuatu yang seharusnya suci dan tidak menuntut apapun?

Wahai, bukankah banyak kerinduan saat kami hendak melupakan? Dan tak terbilang keinginan melupakan saat kami dalam rindu? Hingga rindu dan melupakan jaraknya setipis benang saja.”

Novel ini bercerita tentang perjalanan panjang sebuah kerinduan. Berbagai kerinduan dalam memahami hal yang dirindukan.
Mulai dari bagaimana ia menghadapi perjalanan dengan penuh dosa di masa lalu. Lalu seseorang yang melakukan perjalanannya dengan penuh kebencian. Ada punya dia yang kehilangan cintanya menjadi sebab mengapa ia melakukan perjalanan ini. Semuanya bertajuk pada kerinduan mendapatkan jawaban dan hal mesterius lain yang dirindukan hati yang bertanya.

Cerita yang berlatar waktu pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Yakni pada masa ketika Belanda masih menduduki Indonesia. Pada masa itu, pemerintah Hindia Belanda memberikan layanan perjalanan haji untuk rakyat pribumi yang memiliki cukup uang. Perjalanan dilakukan lewat laut yakni menggunakan kapal uap besar yang merupakan perkembangan teknologi transportasi tercanggih pada masa itu. Salah satu kapal yang beroperasi untuk melakukan perjalanan haji ini adalah Blitar Holland. Di kapal besar inilah segala kisahnya dimulai.

Tere Liye, seperti biasa yang mampu meracik cerita dengan begitu menarik. Belum lagi dengan nuansa yang berbeda seperti kehidupan di atas kapal uap besar. Di atas kapal yang terjadi interaksi sosial antar penumpang kapal yang menyerupai perkampungan nusantara berbentuk lebih kecil.
Bahkan didalam kapal terdapat fasilitas-fasilitas umum seperti kantin, masjid, dan tukang jahit kapal, hingga klinik dan tempat cuci.

Diceritakan mengenai keluarga Daeng Andipati yang terdiri orang tua, seorang pembantu rumah tangga, serta dua anak yang mengikut perjalanan haji ini, yakni Anna dan Elisa. Mereka menjalani lamanya waktu perjalanan haji dengan riang gembira. Seakan tidak pernah mengerti tentang apa yang terpendam di hati Daeng, ayah mereka. Kerinduan untuk melupakan apa yang terpendam.

Ada pula tokoh yang bernama Ambo Uleng. Dia adalah seorang pelaut. Hampir seluruh hidupnya dihabiskan di atas lautan. Ambo Uleng rupanya menuruni sifat ayahnya yang seorang pelaut juga. Ia menaiki kapal Blitar Holland tidak dengan tujuan apapun. Tidak untuk bekerja, mengumpulkan uang, atau apapun. Ia hanya ingin pergi sejauh-jauhnya meninggalkan tanah Makassar yang ia jalani melalui kisah pilunya. Begitu merindukan apa yang kosong dalam hatinya.

Di sisi lain, ada seorang keturunan Cina. Ia sering mengajari anak-anak mengaji di mushola kapal sepanjang perjalanan haji. Anak-anak biasa memanggilnya Bonda Upe. Bonda Upe ini rupanya sedang memendam masa lalunya sebelum memeluk Islam. Hingga tiap malam ia selalu menangisi dosa-dosanya yang dulu. Merindukan ketenangan sebagai pribadi yang kini berhijrah.

Dari sini pula diceritakan Gurutta Ahmad Karaeng, ulama tersohor asal Makassar yang mengikuti perjalanan haji. Beliau rutin melaksanakan solat berjamaah bersama penumpang lain. Secepat itu pula Gurutta meminta izin kepada kapten untuk mengadakan pengajian di atas kapal. Beliau adalah sosok yang selalu memberikan jawaban terbaik atas pertanyaan orang-orang. Namun ternyata ia sendiri telah memendam lama sebuah pertanyaan yang tak mampu seorang pun menjawab. Merindukan hal yang mampu menguatkan sisi hatinya yang kerdil.

Dalam satu buku ini, terjawablah satu demi satu kerinduan dalam memahami yang dirindukan.

Pada hakekatnya setiap pertanyaan dan jawaban adalah sekumpulan pertanyaan yang sering dituturkan oleh manusia pada umumnya. Pertanyaan yang mengharapkan jawaban di atas kapal yang membawa para penumpang menuju tempat yang suci. Tempat suci yang disemogakan untuk terisinya segala kerinduan.

Setelah membaca buku ini, mungkin kita akan bergumam tentang, 'Ah ternyata begitu jawabannya..', dan semacamnya yang mengekspresikan kepuasan atas pertanyaan para pembaca itu sendiri.
Namun tidak bisa dipungkiri bahwa pastinya akan ada yang bergumam setelah membaca satu demi satu jawaban, seperti, 'Hm, tidak semudah itu jawaban yang aku rindukan..', 'Masalahku tidak semudah itu terjawab' atau 'Aku masih merindukan dalam kekosongan pertanyaanku'.

Karena memecahkan masalah tidak selamanya semudah memecahkan pertanyaan yang ada dalam buku Rindu.

Tapi dengan novel Rindu, memahaminya dengan bijak mampu mengurangi percekcokan dalam diri.