Berfikir adalah kelebihan yang diberikan pada manusia, denganya manusia dapat mengolah suatu bahan pikiran menjadi sesuatu yang dapat dimanfaatkan oleh orang lain, dalam bentuk ilmu yang biasa kita temui dalam buku-buku atau uraian celoteh dari para pemaham itu sendiri.
Pada dasarnya, pengetahuan akan berkembang seiring meningkatnya mutu pertanyaan dalam bahasan mengenai objek tertentu, dengan hal itu maka akan didapatkan suatu paham yang produktif.
Sedikit berkisah mengenai awal semester dalam perkuliahan, seorang dosen paruh baya menyatakan bahwa filosofi adalah ilmu yang penting karena menjadi dasar dari pengembangan suatu hal yang diawali dari kekurang 'nangkep-an' pada suatu proyeksi matrix ilmu baru tertentu.
#ea
Namun sangat penting untuk berhati-hati, karena filosofi sendiri adalah ilmu penalaran, sepanjang kesimpulan saya mengenainya.
Ini sangat berat pada penggunaan perspektif individu dalam menelaah makna dari 'perihal' itu sendiri.
Pertanyaan, ialah kunci utama dalam memulai suatu bahasan pengetahuan yang tidak mudah di 'tangkap' tiap orang, maka dengan uraian penjelasan si 'penangkap' itu, akan dikembangkan dan di pertimbangkan sebagai dasar pengetahuan atas hasil tangkapannya.
Kenapa kita perlu hati-hati?
Hei wahai, perspektif seringkali berkaitan dengan konsep 'saya tahu bahwa saya tahu', dimana bisa dikaitkan dengan keangkuhan pada pengetahuan diri atas sesuatu, maka ini cukup berbahaya jika individu tidak menggunakan 'pedoman pelaksanaan'.4
Oke, bertanya.
Bertanya itu penting, karena dengan bertanya individu dapat menangkap informasi dengan lebih sigap dari kebanyakan orang yang hanya 'kebetulan dapet', hal ini juga dapat menghasilkan sensasi gembira ketika mendapatkan jawaban dari apa yang ditanya. Kemudkan kemampuan bertanya juga penting dalam sebuah komunikasi, ayolah, untuk beberapa orang bisa lebih cerdas dalam bertanya dalam tujuan bersosialisasi, #notlikeme T.T
Yap, itu juga penting.
Tapi ingat, bertanya adalah tahap satu dalam meyakini sesuatu.
Maka bertanya dalam tujuan berfilosofis menjadi hal yang krusial karena seringkali menggunaka subjek atau objek yang pada dasarnya, materinya sendiri bukan hal yang bisa dipahami oleh nalar manusia.
Contoh simple, orang bertanya, "Apakah tuhan benar-benar ada?", biasanya orang akan menanggapi pertanyaan ini sebagai, "Oh dia sedang mencari kebenaran".
What? Ini pertanyaan yang, jangan dicontoh ya.. Kenapa?
Well, karena mempertanyakan ini, untuk era saat ini berarti meyakini dengan taraf sekian persen mengenai pernyataan yang dibuat orang-orang yang tidak mempercayai adanya Tuhan.
Baiknya, segera berwudhu dan bersyahadat jika kamu mempertanyakan, walaupun dari hati. Karena itu bermakna, kepercayaan baru itu, yang hanya sekian persen itu, bisa jadi sudah meretakkan kepercayaan yang ada di hati moe.
Ini satu contoh yaa..
Tahap selanjutnya adalah mempertanyakannya pada orang lain. Yap, ini perlu dalam meningkatkan kapasitas diri individu dalam memahami suatu ilmu.
Tapi lagi lagi.. Sesuaikan kontek pertanyaan, dan objek atau subjek yang ingin kita ketahui, dengan sekiranya pemahaman mengenai 'tingkat' ilmu itu sendiri.
Tahap terakhir pengolahan pengetahuan adalah, bagaimana kamu menyimpulkan kumpulan serpihan puzzle ilmu yang itu tuh, menjadi sepotong gambar yang sesuai.
Sesuai apa? Sesuai pada kaedahnya.. Dan dapat pula dipahami oranglain.
Apakah ini tahapan berfilosofi?
Entahlah, barangkali berfilosofi dan 'semanusiawinya' orang berfikir, tidak ada bedanya.
Filosofi seringkali berkonotasi negatif, karena dapat menghadirkan percekcokan dalam berargumen. Sebab, ya itu, kan ya, penggunaan nalar dan perspektif masing-masing individu, yang di takar dengan ilmu yang dimiliki, dan sangat tidak mungkin ditemukan keimbangan jika di timbang antara satu individu yang berpendapat, dengan yang lain.
Mari kita bahas mengenai cinta.
Dosen pada awal kuliah menyatakan bahwa cinta adalah suatu bentuk rasa atau sensasi yang timbul karena sesuatu dan pada sesuatu. Sedikit ditekankan bahwa cinta adalah hedonisme atas sebuah rasa.
#bah
Perlu ditelan mentah?
Up to you, baiknya jangan. Nanti kamu primitif, aku atut.
Goreng dulu, bumbui secukupnya, agar dapat ditelan dengan nyaman.
Hedon dan cinta barangkali dualisme yang berbeda, hedon sendiri adalah sikap berlebihan seseorang dalam "memblablakan" sesuatu.
Dont too much, nanti buncit :')
Cinta itu sendiri.. Aih, jadi baper T.T
yah, cinta itu sesuatu yang lebih sakral, unik, dan penuh tantangan.
Loh kok?
Ya.. Senangkep saya, cinta itu suatu fitrah manusia yang bak hewan liar, dia bisa mengeong pada individu yang, kita nda tahu, pun kita gatau juga kapan aja-nya. Tapi.. Dia punya pedoman, dan alur permainannya, asik kan?
Yah, fokus kuliah ae dulu yah~ fufufu
Dalam suatu seminar akhir-akhir ini, seorang pembicara menyatakan bahwa ciri-ciri orang jatuh cinta adalah,
1. Hatinya berdegub lebih cepat jika dekat orangnya
2. Selalu ingin bersamanya
3. Kurang suka jika ada orang lain yang mendekatinya
Eh kayanya kurang deh, ya itu yang saya inget.
Apakah ini fakta? Berupa materi saklek mengenai definisi ciri-ciri rasa cinta seseorang?
Nyatanya saya pribadi adalah orang yang sangat mudah mengalami peningkatan degub jantung, bahkan abis minum atau makan, #alayTenanYes
Bagi saya, bertemu orang adalah hal yang menegangkan, kenapa? Karena manusia itu rumit T.T kita bisa dibenci dan dijauhi karena hal sepele, atau bahkan tidak kita ketahui. Why? Karena terkadang orang hanya sibuk dengan 'kepentingan'nya sendiri. Kenapa saya sebut kepentingannya?
Oke, kepentingan seseorang itu bersifat pribadi, itu dapat berhubungan dengan antar sesama manusia atau pada dirinya sendiri, dan kitaa.. Sebagai individu diluar jangkauan ke'kepentingannya' tidak memiliki andil di dalamnya.
Ah rumitkan?
Atau saya yang merumitkannya yah T.T
Daann.. Readers tak perlu menelan konsep ini, ok?
Yap, kita kembali.
Sebelumnya saya bertanya mengenai ciri-ciri diatas, pada seorang kk, dan jawabannya adalah...
Itu mungkin ciri-ciri kita segan terhadap seseorang, saya nda nannya ga suka di deketin orang lain sih~
Siapa yang menjadi subjek dalam pertanyaan saya? Ialah keluarga saya sendiri..
Beberapa kasus keluarga, bisa saja barangkali, untuk timbu situasi semacam itu. Apakah saya cinta? Cinta yang semacam apa? Bahkan saya jeles sama ade-ade saya jika mereka lebih hafal tanggal kelahiran kakak tetangga daripada saya sebagai kakak kandungnya T.T
Apakah ini cinta?
Apakah.. Cinta yang alay :')
Intinya, saya selalu ingin melakukan yang terbaik pada semua orang, terkhusus pada orang yang percaya pada saya.
Dan masalahnya.. Saya tidak terpercaya brur T.T
Jadi.. Selalu ada keinginan untuk membuat setiap orang disekitar saya merasa bahagia, no cry, no depress. Meskipun dengan ketiadaan saya sebagai hal yang dapat membahagiakan orang-orang tersebut.
Jadi.. Filosofi cinta sendiri, sangatlah rancu.
Maka.. Pelajarilah cinta itu, bukan dari pendapat orang.
Tapi, dari pedoman hidupmu itu, sebaik baik pedoman ialah quran dan hadits, sunnah? Pun. Cermati pemaknaan cinta pada sumber ilmu yang 'pasti'.
Gak mahal kok, mau bahas tentang filosofi rezeki?
Nyohh.. Nyoh.. Pira melih butuhe kowe? Nyoh..
#terhipnotisPerilakuYangTakBervaedah
#MePovEnd
Pada dasarnya, pengetahuan akan berkembang seiring meningkatnya mutu pertanyaan dalam bahasan mengenai objek tertentu, dengan hal itu maka akan didapatkan suatu paham yang produktif.
Sedikit berkisah mengenai awal semester dalam perkuliahan, seorang dosen paruh baya menyatakan bahwa filosofi adalah ilmu yang penting karena menjadi dasar dari pengembangan suatu hal yang diawali dari kekurang 'nangkep-an' pada suatu proyeksi matrix ilmu baru tertentu.
#ea
Namun sangat penting untuk berhati-hati, karena filosofi sendiri adalah ilmu penalaran, sepanjang kesimpulan saya mengenainya.
Ini sangat berat pada penggunaan perspektif individu dalam menelaah makna dari 'perihal' itu sendiri.
Pertanyaan, ialah kunci utama dalam memulai suatu bahasan pengetahuan yang tidak mudah di 'tangkap' tiap orang, maka dengan uraian penjelasan si 'penangkap' itu, akan dikembangkan dan di pertimbangkan sebagai dasar pengetahuan atas hasil tangkapannya.
Kenapa kita perlu hati-hati?
Hei wahai, perspektif seringkali berkaitan dengan konsep 'saya tahu bahwa saya tahu', dimana bisa dikaitkan dengan keangkuhan pada pengetahuan diri atas sesuatu, maka ini cukup berbahaya jika individu tidak menggunakan 'pedoman pelaksanaan'.4
Oke, bertanya.
Bertanya itu penting, karena dengan bertanya individu dapat menangkap informasi dengan lebih sigap dari kebanyakan orang yang hanya 'kebetulan dapet', hal ini juga dapat menghasilkan sensasi gembira ketika mendapatkan jawaban dari apa yang ditanya. Kemudkan kemampuan bertanya juga penting dalam sebuah komunikasi, ayolah, untuk beberapa orang bisa lebih cerdas dalam bertanya dalam tujuan bersosialisasi, #notlikeme T.T
Yap, itu juga penting.
Tapi ingat, bertanya adalah tahap satu dalam meyakini sesuatu.
Maka bertanya dalam tujuan berfilosofis menjadi hal yang krusial karena seringkali menggunaka subjek atau objek yang pada dasarnya, materinya sendiri bukan hal yang bisa dipahami oleh nalar manusia.
Contoh simple, orang bertanya, "Apakah tuhan benar-benar ada?", biasanya orang akan menanggapi pertanyaan ini sebagai, "Oh dia sedang mencari kebenaran".
What? Ini pertanyaan yang, jangan dicontoh ya.. Kenapa?
Well, karena mempertanyakan ini, untuk era saat ini berarti meyakini dengan taraf sekian persen mengenai pernyataan yang dibuat orang-orang yang tidak mempercayai adanya Tuhan.
Baiknya, segera berwudhu dan bersyahadat jika kamu mempertanyakan, walaupun dari hati. Karena itu bermakna, kepercayaan baru itu, yang hanya sekian persen itu, bisa jadi sudah meretakkan kepercayaan yang ada di hati moe.
Ini satu contoh yaa..
Tahap selanjutnya adalah mempertanyakannya pada orang lain. Yap, ini perlu dalam meningkatkan kapasitas diri individu dalam memahami suatu ilmu.
Tapi lagi lagi.. Sesuaikan kontek pertanyaan, dan objek atau subjek yang ingin kita ketahui, dengan sekiranya pemahaman mengenai 'tingkat' ilmu itu sendiri.
Tahap terakhir pengolahan pengetahuan adalah, bagaimana kamu menyimpulkan kumpulan serpihan puzzle ilmu yang itu tuh, menjadi sepotong gambar yang sesuai.
Sesuai apa? Sesuai pada kaedahnya.. Dan dapat pula dipahami oranglain.
Apakah ini tahapan berfilosofi?
Entahlah, barangkali berfilosofi dan 'semanusiawinya' orang berfikir, tidak ada bedanya.
Filosofi seringkali berkonotasi negatif, karena dapat menghadirkan percekcokan dalam berargumen. Sebab, ya itu, kan ya, penggunaan nalar dan perspektif masing-masing individu, yang di takar dengan ilmu yang dimiliki, dan sangat tidak mungkin ditemukan keimbangan jika di timbang antara satu individu yang berpendapat, dengan yang lain.
Mari kita bahas mengenai cinta.
Dosen pada awal kuliah menyatakan bahwa cinta adalah suatu bentuk rasa atau sensasi yang timbul karena sesuatu dan pada sesuatu. Sedikit ditekankan bahwa cinta adalah hedonisme atas sebuah rasa.
#bah
Perlu ditelan mentah?
Up to you, baiknya jangan. Nanti kamu primitif, aku atut.
Goreng dulu, bumbui secukupnya, agar dapat ditelan dengan nyaman.
Hedon dan cinta barangkali dualisme yang berbeda, hedon sendiri adalah sikap berlebihan seseorang dalam "memblablakan" sesuatu.
Dont too much, nanti buncit :')
Cinta itu sendiri.. Aih, jadi baper T.T
yah, cinta itu sesuatu yang lebih sakral, unik, dan penuh tantangan.
Loh kok?
Ya.. Senangkep saya, cinta itu suatu fitrah manusia yang bak hewan liar, dia bisa mengeong pada individu yang, kita nda tahu, pun kita gatau juga kapan aja-nya. Tapi.. Dia punya pedoman, dan alur permainannya, asik kan?
Yah, fokus kuliah ae dulu yah~ fufufu
Dalam suatu seminar akhir-akhir ini, seorang pembicara menyatakan bahwa ciri-ciri orang jatuh cinta adalah,
1. Hatinya berdegub lebih cepat jika dekat orangnya
2. Selalu ingin bersamanya
3. Kurang suka jika ada orang lain yang mendekatinya
Eh kayanya kurang deh, ya itu yang saya inget.
Apakah ini fakta? Berupa materi saklek mengenai definisi ciri-ciri rasa cinta seseorang?
Nyatanya saya pribadi adalah orang yang sangat mudah mengalami peningkatan degub jantung, bahkan abis minum atau makan, #alayTenanYes
Bagi saya, bertemu orang adalah hal yang menegangkan, kenapa? Karena manusia itu rumit T.T kita bisa dibenci dan dijauhi karena hal sepele, atau bahkan tidak kita ketahui. Why? Karena terkadang orang hanya sibuk dengan 'kepentingan'nya sendiri. Kenapa saya sebut kepentingannya?
Oke, kepentingan seseorang itu bersifat pribadi, itu dapat berhubungan dengan antar sesama manusia atau pada dirinya sendiri, dan kitaa.. Sebagai individu diluar jangkauan ke'kepentingannya' tidak memiliki andil di dalamnya.
Ah rumitkan?
Atau saya yang merumitkannya yah T.T
Daann.. Readers tak perlu menelan konsep ini, ok?
Yap, kita kembali.
Sebelumnya saya bertanya mengenai ciri-ciri diatas, pada seorang kk, dan jawabannya adalah...
Itu mungkin ciri-ciri kita segan terhadap seseorang, saya nda nannya ga suka di deketin orang lain sih~
Siapa yang menjadi subjek dalam pertanyaan saya? Ialah keluarga saya sendiri..
Beberapa kasus keluarga, bisa saja barangkali, untuk timbu situasi semacam itu. Apakah saya cinta? Cinta yang semacam apa? Bahkan saya jeles sama ade-ade saya jika mereka lebih hafal tanggal kelahiran kakak tetangga daripada saya sebagai kakak kandungnya T.T
Apakah ini cinta?
Apakah.. Cinta yang alay :')
Intinya, saya selalu ingin melakukan yang terbaik pada semua orang, terkhusus pada orang yang percaya pada saya.
Dan masalahnya.. Saya tidak terpercaya brur T.T
Jadi.. Selalu ada keinginan untuk membuat setiap orang disekitar saya merasa bahagia, no cry, no depress. Meskipun dengan ketiadaan saya sebagai hal yang dapat membahagiakan orang-orang tersebut.
Jadi.. Filosofi cinta sendiri, sangatlah rancu.
Maka.. Pelajarilah cinta itu, bukan dari pendapat orang.
Tapi, dari pedoman hidupmu itu, sebaik baik pedoman ialah quran dan hadits, sunnah? Pun. Cermati pemaknaan cinta pada sumber ilmu yang 'pasti'.
Gak mahal kok, mau bahas tentang filosofi rezeki?
Nyohh.. Nyoh.. Pira melih butuhe kowe? Nyoh..
#terhipnotisPerilakuYangTakBervaedah
#MePovEnd