Hai, reader yang satu dua kali terbawa arus keder~
Akhirnya daku kembali berniat menggores sedikit cuap cuap yang menginspirasi para.. jamur? Di pekarangan.. dapur.(?)
#iki opo -_-
#Skip
Wan kawan.. sekarang dik manis (?) ini menapaki semester 4 loh.
Kheoh~
Semester yang kata orang, cukup ekstrim karna sebentar lagi semester 5.
Heol :3
Sebenernya ini hal yang tidak terlalu penting untuk di jabarkan, namun apa daya bila bilangan bertemu bilangan lain dengan variabel yang berbeda menjadi cinta sejati dengan kode pangkat dua. ._.
Demiapah saya semakin ngledor.
#MulaiSerius
Pertanyaan pertama, pernahkah kamu menyentuh perasaanmu secara utuh dan dengan kesadaran penuh?
Oke pasti ini agak membingungkan ya.
Jadi, permulaannya adalah saat aku semester 4.
Nice sekali pas liat jadwal, ternyata selama seminggu masuk jam 8 semua~
Rapopo rapopo, kataku. Awalnya.
Lambat laun, sebuah tekanan psikis, semacam tekanan emosi dan fikiran menyurutkan semangat belajar diriku yang tak tahu terimakasih pada orangtuaku yang telah membiayai ku semenjak hampir ada, hingga masa kini. hmm
Masanya melihat dunia dengan sedikit-sedikit rasa congkak dan merasa keputusan diri adalah privasi sendiri yang sangat tidak dimungkinkan akan terimbas kepada pihak lain.
Akhirnya aku memilih. Aku semakin sering melebur menjadi partikel kecil tiap paginya, sampai-sampai PJ kelas tidak melihatku duduk di bangku kelas.
Yah, membolos adalah pilihan bodoh ku.
Salahkah? Pasti.
Gimana rasanya? Em, cukup tenang.. bisa menghindari permasalahan yang terjadi.
Terselesaikan kah? Nda T.T
Konsekuensi? Banyak T.T
Berusaha melupakan permasalahan dengan menyibukkan diri pada tugas dan orderan yang menyita sebagian besar waktu.
Lelah? Iya.
Lupa? Sekilas saja..
Kesimpulannya, 90% yang kulakukan sekedar kesia siaan.
At least, i touched it.
Hari itu kamis, cukup cerah dan semalam memaksa diri untuk berdiri tegap kembali. Pagi itu melangkah dengan harapan sesuatu yang baik akan menyapa dengan senyum manis dengan lesung tipis, berkacamata dan... EH.
Sleb. (Anggap saja ini bunyi masuk kelas).
Kosong-
Aw aw aw
Galaw. Nyempil di sekret, danbaru liat info di hp ternyata kelas di ubah ke tempat sidang. Nice.
#Skip
Kuliah dimulai, dan menariknya, itu bukan perkuliahan T.T
Yah sejenis tapi, satu angkatan di kumpulkan. Kami belajar refleksi dan Mind fullness.
Praktek dan penjelasan menjadi santapan pagi itu.
Memuaskan.
Seusai jeda dzuhur, kami berlanjut membahas mind fullness.
Its Time.
Kesadaran itu datang pada menit-menit yang kegerahan di sembur api naga kantuk.
Terduduk dengan polos :3 , dan hal yang paling sulit bagiku, menutup mata.
Ibu dosen memulai ceracah perkataan dengan intonasi yang halus.
Hampir saja aku tidur. Sungguh. Malangnya aku bila benar tertidur hingga pulas.
Pertanyaan itu sedikit sedikit menarik paksa kantuk ku.
“Coba bayangkan bagian tubuh yang paling sakit.. sentuhlah bagian itu”, “Bayangkan orang yang menyayangimu menyentuh bagian itu.. menguatkanmu, bayangkan kedua orangtua dan orang-orang disekitarmu”.
NICE.
Bagian penjelasan tentang apa yang ku bayangkan di sini disensor karena urusan pribadi.
Kau tahu, tanpa sadar aku menyentuh bagian yang orang sering sebut letak hati. Dan begitu saja.
Perlahan.. aku merasa berada diruangan sendiri, menangis begitu lama, bertanya diam diam tentang mengapa.. tanpa tahu jelas alasannya, tergugu kaku, sesak.
Bahkan sampai lampu dinyalakan, dosen membuka sesi komentar, ah konyolnya diriku. Masih tergugu dalam diam.
Memaksa tangisanku berhenti yang menjadi semakin absurd.
Iya Benar.
Iya, bahkan tanganku tahu letaknya..
letak yang terdzolimi begitu lama.
Hal yang aku lakukan belum bisa menolong salah satu teman sejatiku, hati. Seringkali ku katakan ia telah hilang,
ia telah terjatuh,
ia tak pernah ada.
Caraku melepaskan kisah kisah yang menggelayuti tiap sisi di hati.
Meskipun hingga kini belum kutemukan obat baginya, PR besarku adalah terus menemaninya.
Memberikan treatment terbaik dengan membiasakannya tersenyum dan berlapang. Belajar..
Andai di tiap-tiap malam, satu satu secara bergilir anggota tubuhku melepaskan diri dan bisa ku ajak bicara dan bermain.
Barangkali aku akan menemani mereka dalam diam, tak apa.
Kita semua sewajarnya menyadari kepemilikan akan diri kita, pinjaman, iya. Bahkan perasaan dan pikiran ini.
Tak jarang kita luput dan memilih terus terjatuh dan terpuruk di dalam lumpur, yang sebenarnya bisa kita bersihkan perlahan untuk menjadi tempat berkecipakan yang bersih , pun menyenangkan oranglain.
Bukan suatu perkara yang dapat disangsikan manakala hanya satu pelajaran yang dapat membersihkan lumpur itu, dengan perlahan.. maupun sekaligus. Sebab setiapnya cukupkan pada IziNya sebagai penopang.
"Wahai manusia! sungguh, telah datang kepada kamu pelajaran (Alquran) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman"
(Q.S Yunus : 58)
When i touched it...