My fans

20 Jun 2017

PKM UNJ 2017 (JIlid 2)

PKM UNJ kembali berlangsung untuk Jilid 2 part 1 pada 17 Juni 2017, sabtu lalu berlokasi di Gedung Ki Hadjar Dewantara Lt.8 Kampus A. Saat ini saya mulai berfikir kemungkinan PKM UNJ dilaksanakan di kampus B, D, atau E UNJ agar pengalaman berkunjung sekaligus mengenali properti di semua lokasi kampus tercinta.
   Dengan pakaian lengkap dengan name tag mungil, peserta duduk beralaskan lantai di ruangan yang telah disediakan panitia. Setelah sesi pembukaan seperti pada umumnya, master of ceremony akhirnya memanggil keluar moderator yang nantinya menemani pemateri untuk hari itu. Ialah Ilham Mubarok mahasiswa FMIPA 2014 sebagai moderator untuk pak Arya Sandi Yudha dengan pembahasan mengenai “Managemen Isu”.

Management di UNJ memiliki berbagai fokus pendidikan, ada yang berfokus pada keuangan, pun juga berfokus pada pendidikan, maka barangkali sudah terjamin pula mahasiswa dengan kesempatan belajar management lebih lihai dalam olah management. Management sendiri adalah sebuah usaha untuk mengolah dengan baik dan dengan pertimbangan logis yang pantas, maka dari itu ilmu management sendiri pun sangatlah penting untuk menjadi manusia mandiri.

PKM UNJ kali ini menghadirkan mteri management isu yang dibawakan oleh pembicara yang memiliki kemampuan yang patut di jadikan contoh dalam mengambil tindakan dalam usaha memanagemen sebuah isu. Perawakannya yang tenang, dan santai, penuturannya yang lugas dan rinci sekaligus mendalam, begitulah yang disampaikan dalam video profile yang sebelimnya ditayangkan.
Managemen isu kiranya memiliki beberapa tipologi orang dalam menaganinya, ialah :
  • ·         Pekerja (Worker)
  • ·         Pemikir (Thinker)
  • ·         Lobies (Bagian melobi, biasanya pada keseharian orang yang tenang dan tak banyak bicara)
  • ·         Desaigner (Perencana jangka pendek, menegemen isu dalam bentuk menarik)
  • ·         Selebriti (Karakter Humas, pemegang Live report, banyak penerangan)
  • ·         Leader (Opinion leader, penekan keyakinan, pengelola SDM, Humas ke media)

Kunci managemen dalam organisasi adalah, mengelola organisasi hingga akhirnya mempengaruhi wilayah yang lebih luas, menciptakan perubahan dan pembentukkan opini publik.

Output penting dalam suatu musyawarah atau rapat organisasi dalam rangka memanagemen isu yang ada adalah memunculkannya sesuatu yang baru, penting, quatable, ide pokok, menarik dan unik, dan solutif. Untuk mendukung hasil pemikiran tersebut agar akhirnya bisa di pahami konsep idenya bagi anggota dan masyarakat, diperlukan press release yang apik, serta penyampaian secara verbal dengan kemampuan individu yang dapat menyesuaikan dengan target penengar.

Beberapa point yang diperlukan dalam pengolahan managemen isu ialah,
Membangun relasi dan hubungan baik dengan awak media agar dapat mempermudah penyebaran berita, membuat laporan hasil kegiatan berupa dokumentasi pada media, mempersiapkan jubir yang kompeten, membuat poin kesimpulan pembenaran untuk mendukung isu yang diangkat oleh narasumber bilamana di tekankan hal yang berbeda arus oleh tim media, gunakan trik bila menjadi narasumber dan diajak untuk melakukan dialog dengan argumen (membaca : upgrade wawasan dan pandangan narasumber, scanning : scan dan pahami tema yang di berikan awak media ketika diminta menjadi narasumber, tegaskan : memberi penegasan pandangan secara mendalam, rinci, singkat dan elegan), kenali media yang memiliki nama di kalangan masyarakat untuk menjadi relasi dalam upaya menyebaran isu, sebagai jubir diperlukannya pemahaman visual diri dan pemahaman teknik memotong pada segmen penampilan dalam teknik media, melakukan penutupan yang apik dan berkesan dengan pembawaan gesture terbaik, menyadari sasaran pendengar.

Maka akhir kata, pak Arya dengan segala mterinya mengenai management isu menyatakan sebuah kata penutup yang menjadi penekanan, bahwa tujuan utama dari media adalah Penyadaran, Pencerdasan, dan Penyikapan atas sebuah isu.

PKM UNJ di pending untuk melaksanakan ibadah dzuhur dan istirahat hingga pukul 12.20.
Peserta kembali memasuki ruangan acara untuk melanjutkan kegiatan PKM UNJ, peserta dibagi kelompok sementara untuk melakukan diskusi mengenai isu. Penulis mendapatkan bagian isu mengenai supremasi hukum pada kekerasan seksual, sebuah tema yang cukup sensitif karana terdapat dua sudut pandang dari gender yang berbeda dalam satu diskusi. Penulis sendiri kurang terjangkau untuk akhirnya mengikuti diskusi secara penuh, hanya suara pemimpin diskusi yaitu kak Wafa Wahida selaku Sospol BEM UNJ yang membahas beberapa poin yang seharusnya memiliki kekuatan hukum yang tegas dan adil.
Diskusi ini membuat penulis tanpa sadar membuat sebuah opini atas penerangan pemimpin diskusi mengenai sebuah konsep budaya di Indonesia bahwa wanita sudah lama dijadikan atau dilabeli sebagai kaum yang lemah.

Permasalahan inti yang ditekankan pada kelompok diskusi ini ialah 
sesuatu yang menjadikan kekerasan seksual menjadi semakin terbentang bentuk tindakannya kepada kalangan luas. tidak lagi menjadi suatu hal yang dipermasalahkan dengan serius, bahkan oleh anggota keluarganya sendiri.

Namun, bukankah dalam hal ini, kenyataan bahwa masyarakat umum dikatakan memiliki anggapan bahwa kaum wanita adalah kaum yang tertindas karena kaum wanita sendiri yang mengamini statemen tersebut dengan cara melakukan tindakan mnolak sekaligus meminta hak-hak wanita secara utuh.Barangkali budaya penekanan bahwa wanita adalah kaum lemah dan yang katanya mendapati kenyataan bahwa wanita masih dibeda-bedakan, namun bisa jadi upaya wanita meningkatkan derajatnya tanpa disadari bahwa ia telah memberi penekanan pada kaum wanita itu sendiri, kaum-kaum yang di labeli sebagai kaum yang lemah oleh masyarakat.
Sejatinya, permasalahan apakah kaum wanita adalah kaum yang lemah dan harus merdeka sudah menjadi pembahasan yang menegaskan status kaum wanita di dunia. Hal yang dilakukan dalam upaya perlawanan oleh kaum wanita adalah kenyataan jelas bahwa wanita dijadikan manusia dengan derajat yang sangat rendah atas kepemilikan hak kemanusiaanya. Seringkali diskusi dengan tema peran wanita cukup menjadi hal kurang menghargai sejarah bahwa dalam permasalaham ini tidak mengkaji ulang hasil kajian pada masa lalu. Hal itu menjadi baik bilamana tujuan diskusi menjadi sebuah pemantapan diri kaum wanita untuk menjadi manusia mandiri dan bebas dengan label spesialnya sebagai wanita, tidak mengiyakan label masyarakat dalam memandang bahwa wanita kaum yang lemah.
Dalam diskusi ini telah menyadari bahwasannya kekerasan seksual tidak lagi seperti pada masa lalu, kekerasan seksual dirasa lebih kompleks, dimana sasaran kebejatan perilaku itu mulai merambah pada anak-anak, anak smp, bahkan anak sma secara umum, siswi bahkan siswa. Maka kenyataan ini bukan menjadi penguatan awal bahwa kaum perempuan adalah kaum yang dianggap lemah. Tapi lebih luas.Kesimpulan pada permasalahan ini menekankan pada satu hal dimana bukan mereka yang lemah dan dianggap lemah yang seringkali menjadi korban dan terus menerus diberi layanan spesial, hal itu juga sangat baik untuk upaya pemerintah dalam melayani kaum wanita dan anak. Sebab sejatinya kaum wanita dan anak memang memiliki kelemahan spesial dalam segi fisik, namun yang menjadi permasalahan yang mengakar yang seringkali tidak dipermasalahkan adalah, kaum yang merasa kuat itu sendiri. Kaum yang awalnya memberi penegasan bahwa wanita dan anak anak adalah kaum yang lemah. Kaum yang merasa kuat sehingga merasa berkuasa atas segala tindakannya untuk upaya pemenuhan kebutuhan dan kemauannya.

Sebelumnya saya sangat prihatin atas pernyataan sikap dari sebuah forum perkumpulan wanita yang menolak hukum kebiri pada para pelaku kejahatan seksual, dengan alasan ham. hal ini sangat bertolak belakang dengan usaha mereka dalam memberantas penjajahan pada kaum tertindas di Indonseia. Hal ini hendak penulis jadikan bahan tambahan diskusi, karena memang perintah awal adalah untuk berdiskusi, namun terbatas waktu.

Selanjutnya kelompok diminta membuat skenario untuk melakukan sosiodrama.Drama yang kelompok dari penulis tampilkan adalah mengenai upaya orang tua dalam membahagiakan anaknya yang sudah lama pengangguran untuk akhirnya memiliki pekerjaan dan gaji. Maka orang tua memberikan anaknya pada sebuah agensi untuk penyaluran pekerja yang pada kenyataannya dijadikan pengedar narkoba, dan pekerja di sebuah klub malam. Setelah akhirnya klub tersebut di lakukan sidak, terjaringlah agensi tersebut saat melakukan transaksi narkoba. Hakim yang diharapkan melakukan keputusan seadil adilnya dibutakan oleh suap rutin yang dilakukan ketua agensi dan hanya memberikan hukuman ringan pada terdakwa.

Hari semakin sore, yang menandakan akan diakhirnya sesi PKM UNJ 2017 pada Jilid 2 part 1 hari itu.
Keesokan harinya, pada hari minggu 18 Juni 2017 berlokasi di Aula Daksinapati Lt.1 Kampus A. PKM UNJ kali ini melanjutkan Jilid 2 menjadi part 2.

Dimulai dengan cukup terlambat, dan diisi presentasi tiap kelompok dalam pembahasan mengenai anjangsana menuju BEM BSJB Depok dan Kementrian dalam Negeri, beberapa kelompok tidak menayangkan pembahasan anjangsana pada UPT UNJ karena terbatas waktu untuk wawancara.Acara pada akhirnya ditutup sekitar waktu ibadah maghrib.

Maka dengan ini PKM UNJ Jilid 2 telah selesai dan berlanjut setelah lebaran untuk PKM UNJ Jilid 3,
Sebelumnya mohon maaf dari penulis jika ada salah kata..
Minal Aidzin Wal Faidzin, Taqabalallahu Minna Wa Minkum..
Selamat Menunaikan ibadah Puasa di bulan Ramadhan ^^

#PKMUNJ2017 #PemudaMasaKini #PemimpinMasaDepan


12 Jun 2017

PKM UNJ 2017 (Jilid 1)

Sebuah tulisan rangkuman kecil dalam upaya menegaskan dan mengikat pemahaman mengenai materi yang telah disampaikan pada kegiatan PKM UNJ sebagi wujud dedikasi dalam mengerjakan tugas individu dalam PKM UNJ dengan tujuan membagi pengalaman dan pengetahuan pada pihak lain, semoga bermanfaat
BEM UNJ Menghadirkan kegiatan pelatihan bagi para mahasiswa UNJ, salah satu persyaratannya adalah bagi mahasiswa yang telah lulus dalam pengkaderan/ pelatihan kepemimpinan tingkat prodi dan tingkat fakultas. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan wawasan pengelolaan kepemimpinan yang sangat berguna bagi diri pribadi dan lingkungan sosial, yang selanjutnya di sebut PKM UNJ atau Pelatihan Kepemimpinan Mahasiswa UNJ.

Setelah melalui pemberkasan untuk mahasiswa yang berminat mengikuti rangkaian PKM UNJ, Mahasiswa di beri informasi 2 hari sebelum acara untuk menjalankan PKM UNJ Jilid 1 part 1 di Gedung Sertifikasi Guru Lantai 1 dengan tema Pemuda Masa Kini, Pemimpin Masa Depan. Peserta PKM UNJ sangat antusias dalam mengikuti rangkaian acara yang ada, terlihat dari hadirnya tiap-tiap prodi dari masing-masing fakultas sebagai peserta PKM UNJ.

Acara pada hari minggu, 4 Juni 2017 dimulai pada pukul 09.00 dengan dibuka dengan Tilawah, menyanyikan lagu Indonesia Raya, dan totalitas perjuangan. Setelah itu dilanjutkan dengan pembahasan tata tertib PKM UNJ, pembagian kelompok, diskusi kelompok dalam menentukan ketua kelompok dan diskusi penugasan sampai waktu ibadah dzuhur. 
Setelah itu peserta diberi waktu istirahat dan menunaikan ibadah sholat dzuhur sampai pukul 12.45. 
Setelah peserta berkumpul kembali di tempat kegiatan, segera acara dilanjutkan dengan materi Public Relation oleh Bambang Irawan selaku koordinator pusat Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) pada 2015, tepatnya masa kepemimpinan BEM SI sebelum Bagus Tito selaku Ketua BEM UNJ menjadi koordinator pusat BEM SI.

Pak Bambang membawakan materi  dengan santai dan menarik, beberapakali Pak Bambang menceritakan kisah inspiratif dan menghibur dari kisah nyata yang ia alami, hal itu cukup membantu mahasiswa dalam memahami materi yang ia sampaikan. 

Pak Bambang menerangkan dasar dari Public Relation dimana hal tersebut adalah sebuah usaha hubungan, salah satunya sebagai pola dalam isi organisasi yaitu, proses interaksi, opini publik, menanamkan keinginan baik, kepercayaan, dan citra yang baik. Beberapa kali Pak Bambang menyorot poin penting dalam Public Relationship adalah, media, konten organisasi, relasi dan lobi. 

Media adalah hal yang sangat penting dalam upaya peningkatan citra bagi suatu lembaga, aktifitas atau organisasi dalam menyokong tujuan dari masing-masing penyelenggara dari instansi itu sendiri. Media yang menarik, propagandis sangat diperlukan dalam mengangkat isu atau berita yang ingin disampaikan pada konsumen dengan sasaran yang tepat. Selanjutnya ada konten organisasi, yaitu bentuk atau struktur yang menunjukkan tingkat kekuatan dari instansi tersebut, memberikan citra yang kuat dan terstruktur mampu meningkatkan kepercayaan dari pihak yang menjadi sasaran. 

Relasi dan lobi, dua hal tersebut adalah kata kunci dalam pembentukan hubungan, namun perlu ditekankan bahwa hal ini adalah sebuah hal yang dilakukan tidak dengan singkat, dikemas dengan baik, dan diniatkan untuk menjalin silaturrahmi. Hal ini ditekankan karena Public Relation yang baik, bukanlah seperti halnya habis manis sepah di buang, namun pendekatan atau hubungan yang dilakukan dalam rangka melebarkan sayap kebersamaan dengan wilayah luar yang saling membantu.

Public Relation adalah hal yang sangat dibutuhkan bagi siapapun itu, tidak terpaku bilamana Anda sekalian berniat menjadi pemimpin. Pun sebuah kenyataan bahwa seorang pemimpin harus memiliki Public Relation yang baik, tidak melulu tentang orang yang memiliki kepercayaan diri yang tinggi, atau memiliki pamor dalam lingkup sosialnya. 

Hal ini ditekankan oleh Pak Bambang bahwa dengan kalimat, “Tetaplah Berproses”, maka jadilah materi pada jilid 1 part 1 menjadi hal yang sangat berguna bagi peserta PKM UNJ.

Selang waktu seminggu, PKM UNJ Jilid 1 part 2 kembali diselenggarakan di Gedung Hasyim Ashari lantai 3 pada tanggal 10 Juni 2017 yang kembali, di infokan 2 hari sebelum acara. 
Sangat disayangkan bahwa kali ini saya pribadi tidak diberi kesempatan untuk mengikuti pelatihan pada part 2 kali ini karena sebuah hal, namun untuk selanjutnya saya akan bersuha menerangkan materi pada hari itu dengan judul materi, “Rekayasa Sosial atau perubahan sosial”, yang dibawakan oleh Muhammad Rusdi (Deputy President KSPI). 

Pak Rusdi mengatakan bahwa perubahan sosial dalam masyarakat sebagai akibat adanya ketidaksesuaian Unsur-unsur nilai dan norma sosial yang dianut selama ini (diambil melalui teori Max Weber). Tujuan dari adanya perubahan sosial yaitu terciptanya tatanan sosial (masyarakat) ekonomi, budaya, dan politik yang lebih baik (berkeadilan, beradab, sejahtera). Seperti yang telah secara umum diketahui, bahwa peran pemuda sangatlah dibutuhkan untuk meningkatkan upaya perubahan sosial menjadi lebih baik, maka materi ini menjadi sangat cocok disampaikan pada peserta PKM UNJ. 

Pada pukul 12.45 setelah istirahat siang, dilanjutkan kembali materi kedua tentang “Urgensi Kontra Intelijen”, oleh Moses Caesar Assa, S.pd., M.Sc. Moses menyampaikan bahwa Kontra Intelijen secara tidak sadar sudah dilakukan oleh kita. 
Kontra Intelijen merupakan suatu upaya untuk mengendalikan Lawan-lawannya dengan menghalangi atau memanipulasi informasi yang relevan (dikutip menurut Sims dan Gerber, 2009). Tujuan dari Kontra Intelijen yaitu untuk kepentingan nasional yang tercantum dalam UUD 1945 Alinea ke-4. Hal yang dapat dilakukan untuk kontra intelijen dengan melalui tahapan seperti emerging issue, interpretation, signals, dan future. Dalam mengelola kasus melalui Wild Card, Weak Signals, dan Strong Signals. 
Antisipasi yang dilakukan dalam Kontra Intelijen yaitu melakukan “Tracking Weak Signals”, mengklasifikasikan weak signals ke dalam Clustering Trends, menganalisis dan membuat skenario terhadap Trend atau strong signals, strategi dalam melakukannya. Berakhirnya materi Urgensi Kontra Intelijen menandakan bahwa berakhir juga rangkaian kegiatan PKM UNJ jilid 1, yang kemudian akan dilanjutkan dengan jilid 2.

#PKMUNJ2017 #PemudaMasaKini #PemimpinMasaDepan

8 Jun 2017

Hei

Hei kamu,
yang rela-rela saja menemaniku.
Kau tahu?
iya ku tahu kau mengetahuinya..
Ku tahu hal yang paling menyebalkan adalah, mengenalku.
Malu betul jika bersamamu,
sebab ku tahu.. pribadi yang membosankan ini tak pernah benar benar menyenangkanmu
Andai aku goblin,
ku ingin pergi sejenak..
barang satu dua abad,
untuk mempelajari cara terbaik membalas baikmu itu.

Tetap bahagia, tetap berproses.
Tetap temani aku..ya? meski pastinya membosankan dan menyebalkan.

dari Oncom untuk Berlian