Ada sebuah pabrik,
pabrik mandiri yang dijalani oleh seorang kepala produksi, dan pegawai yang silih berganti mengisi dan menjalani rutinitas di dalam pabrik.
Pabrik itu tak besar, pun tak kecil
berdiameter sekitar 15-20
Pabrik hanya memproduksi satu hal, namun dia bekerjasama dengan pabrik mikro lain dengan sebuah hubungan yang rumit.
Sebut saja ini adalah pabrik inti, dia bertugas memproduksi paket-paket konsep sebagai konsumsi dari tiap pabrik mikro.
Manual, bahkan kepala produksi seringkali bekerja sendiri ketika pegawai malas bekerja, atau.. dia sendiri malas mengundang para pegawai datang tanpa kemauannya sendiri.
Produknya adalah sebuah paket yang berisi berbagai barang yang dibutuhkan konsumen, meskipun terkadang diisi dengan barang yang terlihat sesuai menurut sudut pandang pekerja dalam pabrik itu. Barang yang sudah disusun sesuai analisis kebutuhan dan berbagai pertimbangan konsumen dan produsen, mendapat sentuhan akhir, yaitu pembuhkusan dengan bahan terpilih, butuh berhari-hari hanya untuk membungkusnya.
Ribuat partikel atom kecil dikumpulkan untuk melapisi di awal, kemudian diberi cairan batu cair yang dibekukan dan terakhir, kerangka dengan pita berwarna yang disesuaikan dengan produk. Kerangka itu terbuat dari daging tanpa darah yang di ikat dengan untaian fiber berwarna transparan.
Produk itu bernama, konsep.
Kepala produksi menyadari, bahwa banyak hal yang harus dikembangkan dari pabrik, seperti jenis paket, jumlah isi paket, estimasi waktu, pemasaran, komponen paket, dan gaji pegawai.
Selagi bekerja, kepala pabrik selalu memikirkan kemungkinan cacat dalam pabrik, dan solusi memperbaiki yang dilakukan secara perlahan dan kasat mata.. sesekali pegawai yang menyadarinya, ikut berfikir dan bersolusi.. namun sangat terbatas. Pun waktu bercakap dirasa tak pernah pas.
Seringkali ada konsumen yang komplain mengenai produk, bahkan tak jarang pegawaipun ikut komplain.
Kebiasaan kepala pabrik yang tidak suka menjelaskan sesuatu, karena dia sadar.. kata-katanya seringkali keliru dengan apa yang difikirkan, pun dia memikirkan kemungkinan jawaban dari konsumen.
Komplain tidak cukup, atau terkadang ada konsumen yang malas berkomplain dan bertanya tanya saja dalam diri.
Mereka mendatangi tumpukan paket yang sudah rapih, dan membuka paksa tanpa konfirmasi dari kepala produksi.
Usaha berhari-hari, lenyap dengan usaha buka paksa selama beberapa jam.
Menyisakan retakan besar yang menganga dari lapis paket kedua, bersiap membuka paksa lapis terdasar.
Dar.
Satu pabrik dipenuhi asap hitam putih polkadot yang bergerak zig zag.
selama beberapa jam sistem dalam pabrik berhenti, para konsumen menghilang tanpa jejak, meniggalkan kerusakan atas satu dua paket yang mereka rusak.
Beberapa dari mereka, sebenarnya hanya bayangan atas mereka. Dan ternyata, sebagian lainnya, adalah pegawai yang sebelumnya membantu ketua pabrik dalam berfikir dan mencari solusi terbaik untuk produk.
Selang beberapa minggu, pabrik tetap berjalan dangan tenang..
terlalalu tenang,
ketika kepala produk memilih bekerja hingga larut, untuk melupakan..
tetap untuk melupakan, tumpukan konsep terdalam, yang disembunyikan dalam sebuah peti, yang kuncinyapun di paketkan.
Kepala pabrik memilih terus bekerja, sendiri saja tak masalah katanya.. sebab kontrak kerja dengan pemilih pabrik masih ada..
katanya menguatkan, "Produksi sebanyaknya tak apa, asal tak ada pabrik mikro yang kekurangan.. tak ada konsumen yang kecewa".
Beberapa kali pabrik meledak, ah tidak, hanya sekali ledakan besar. Hingga memicu kerusakan sistem yang bisa mengeluarkan gas asam yang memaksa kepala produksi berdiam diluar pabrik.
Masih mengharapkan kebaikan
Tapi entahlah,
kepala produksi masih bertanya..
sampai kapan?