My fans

28 Sep 2020

Do y

 Do you really, wanna save your self?

.

.

.

.

Untuk siapa?

Untuk.. apa, lagi?

27 Sep 2020

Belum Sampai

Ashy merasakan gemuruh di dadanya, udara yang ia hirup tiba-tiba terasa sulit.

Belum ada lima menit Redha pergi, setelah pertemuan kedua minggu ini.

'terlalu banyak pertemuan...

'terlalu banyak..

'terlalu banyak kebohongan.

Suara itu menggaung gaung di telinga Ashy.

Ia mondar mandir mencoba mengurangi tegangan yang mengikat tenggorokannya. Ia mencoba mengambil lebih banyak udara dengan tarikan yang lebih kuat.

'bunuh dia..

'bunuh apapun di depanmu saat ini..

'bunuh mereka yang berisik.

Ashy mencoba berbicara dengan dirinya, tapi semua diam. Semua mengabaikannya.

Ia berhenti di depan pintu kamarnya.

BUK! BUKK!!

Beberapa kali ia memukuli tembok keras di depannya.

'gak cukup..

'kamu harus terluka!

"Nggak.. nggak! Aku ga akan lagi lakuin itu!", Ia mendesis kasar sambil tetap mondar mandir di ruangan itu.

Ia mencoba menenangkan diri dan bergerak lebih pelan.

Ashy bergerak mengambil air wudhu dan mengambil segelas air.

"Oke kamu gak apa apa As, gapapa tenang..", ia melangkah memasuki kamarnya.

Ia diam seketika, mendadak ia berjongkok.

Gemuruh itu terasa semakin berat, dadanya sakit. Tenggorokannya panas dan terasa terluka.

Tiba-tiba ia menangis.

"Enggak nggak.. enggak.. udah diem..", ia menangis dan tak henti menangis. Menangis seperti seorang anak yang kelelahan mencari jalan pulang.

Ashy melihat beberapa lembar kertas sisa dari pekerjaan yang sebelumnya dilakukannya dengan Redha.

"Enggak.. bukan!", Ia masih menangis sambil membisikkan kata kata yang ia tak mengerti. Ashy mengambil kertas kertas itu dan mulai merobeknya secara acak.

'segini aja?

Suara itu benar benar menekannya.

Ia bergerak mengambil pisau kecil di atas meja belajarnya.

"Nggak.. nggak! Aku ga akan melakukannya lagi..", 

Perlahan.. ia menggunakan pisau ditangannya untuk merobek kertas menjadi semakin kecil.

'haha! Aku tahu kamu tidak puas..

'jangan berbohong! Aku tahu kamu mau juga!

Ashy mendadak terdiam.

Posisinya masih berjongkok, tanpa perubahan posisi sedikitpun.

Ia menegak tetesan air terakhir di gelas abu-abu kesayangannya.

Ashy tersenyum! Ia berhenti menangis dan menyunggingkan senyum tipis

Perlahan, tangannya bergerak ke lantai untuk mengasah ujung pisau.

Tanpa ia sadari.. tangannya bergerak mengasah pisau dengan kertas kertas sebagai media bantu.

Bukan. Ia bukan menghadapi situasinya..

Ashy, lagi lagi sejak awal ia bukan mengendalikan dirinya. Ia ikut mempersiapkan, apa yang mereka minta darinya.

Satu dua garis sudah terbentuk,

Perlahan mengeluarkan darah tipis dari lengannya. 

Ia menambahkan garis baru dengan lebih dalam, sambil memejamkan mata.. ia tersenyum.

Ashy menghela napas panjang, "Hmm.. sudah. Hari ini sudah. Aku lelah!", Ia bergerak ke sudut kamarnya, bersandar, dan mulai terpejam.


Ia belum pernah sampai, untuk mengenal apa itu mau, dan apa itu ingin. Semua bagi Ashy hanya kesemuan.

Ia memulai tidur panjang..

25 Sep 2020

Kenapa

Menceritakan luka?

Memang apa gunanya?

Hanya.. aku akan berhenti melakukannya, sampai rasanya menjadi "biasa saja"

Yang menyakitkan hanya tentang, 

"Menemukan tempat bercerita"

Karna percaya pada manusia, berarti mempersiapkan luka baru.

Ha.

Refleks

Gatau dari kapan,

Refleks itu bisa terjadi, entah disadari entah tidak


Seperti.. "Sosok orang baik" itu ga akan pernah ada.

Maka refleks diri, ketika merasa ada orang yang sepertinya "baik" pada dirinya, ia akan merespon dengan hal hal aneh.


Salah satunya, membuat dirinya terlihat dan semakin merasa "diracuni" dengan keberadaan, pun dengan kontak apapun. 

24 Sep 2020

Kritis

Judulnya dulu,

Bahasannya nanti.. kalo ingatannya sudah lebih baik, sudah bisa "baik-baik" saja ketika mengingatnya.

20 Sep 2020

Do I?

Do i really want to?

Do i? Do i? Is that so?

Do i am?

Siapa yang peduli juga kan?

Gak masalah sih.

Tapi kapan, sampe titik diri "punya mau" sendiri.


Motonya masih sama,

"I will make you fine"

Itu ga ganggu. Bukan masalah sama sekali.

Tau ga sih rasanya ga berguna?

Nggak tentu.

Kamu, kamu tentu jalannya beda.


Cerita kita beda arah.

Kenapa aku terlalu melihat "tentang" kita sama?

Semua orang mau menjdi berguna,

Tapi untuk ini, menjadi berguna adalah seharusnya.


Bukan manusia aku tu.

Karna, udah jadi bukan apa apa ketika ga make people fine. 

18 Sep 2020

 Makin sakit karena lupa didiamkan saja.

Air Mata Pertama

Bukan hal biasa untuk seorang Reva untuk menangis sedih, ia dikelas 4 dan teman-temannya sesenggukan karena mendengar muhasabah yang mendayu dayu.

Masih teringat kalimat kalimatnya, hampir sama dengan muhasabah di tahun tahun berikutnya. Tapi ada yang berbeda..

Tangisan pertamanya adalah rasa takut, badannya pertama kali bergetar ketakutan setelah kayu sepanjang tangan diulurkan ibunya dengan mudah ke mukanya. Ingatan sebelum SD itu masih teringat jelas. 

Ia tidak menangis kala itu.

Tapi marah. Karena itu membuatnya berdarah dan kesakitan yang panjang, dan Reva diam saja.

Pecutan sabuk di hari hari biasanya, sering membuatnya menangis, tapi tidak ketakutan, pun menangis agar segera usai.

Malam itu, pertama kali ia menangis, mengingat perkataan ibunya, "Tuh Ayah pergi karena kamu".

Malam itu Reva menangis singkat, perasaan takut yang besar. Ia sangat ketakutan ditinggal pergi oleh orang yang baik terhadapnya..

Reva bahkan tidak peduli banyak luka di tubuhnya yang belum kering, diberikan ayahnya karena entah alasan apa. Selama ia bersikap dan berkata baik, maka ia baik baik saja.

Waktu banyak berlalu,

Namun yang tertanam hanya satu.

"Jika ada sebuah kesalahan, maka ia penyebabnya. Tidak ada alasan lain".

Hingga tiba dititik ia memasuki jenjang perkuliahan,

luka ditubuhnya belum kering, sisa pukulan keras terakhir di penghujung libur untuk persiapan menyinggahi kos baru.

Malam yang panjang.

Bulan demi bulan, ia habiskan tanpa libur.

Hingga lupa, dia tak pernah lagi menangis.

Reva merasa hatinya terasa keras ketika melihat kesedihan, meskipun ia berusaha mersimpati.

Tidak ada gerakan sedikitpun dalam hatinya.

Kemudian, tiba tiba saja ia menangis.

Menangis tersedu sedu tentang kerasnya hatinya.

Tangisan pertama untuk dirinya.


 Lupa.

Task

Ngelamun panjang.

Bingung apa lagi yang bisa dibantu. Apalagi yang bisa dilakukan dan dihadapi.

Mondar mandir cari permintaan dan porsi kosong.

Tidak ada.

Lupa bahwa semua sama sama punya sibuk serupa.

Sama sama punya ceritanya.

Sama sama isi diri agar bisa bilang "tidak apa apa".


Diingat ingat, 

Muncul tugas yang selalu sengaja dilupa

Kepada diri yang lupa diajak bicara

Obrolan ringan tentang, "Hari ini mau apa"

Tentang, "Hari ini senyum untuk siapa"

Tentang, "Kemarinmu sudah tak ada, kamu baik baik saja"


Diajak lomba,

Kencang kencangan tertawa,

Kepada banyaknya cerita 

Kepada banyaknya pura pura

Kepada rasa yang anta


Kamu unik, kamu asik, kamu spesial.

Tugasmu banyak, tapi tak apa jika hingga kini belum selesai.

-Ra


14 Sep 2020

Meredam

Tentang marah yang meronta ronta seperti singa lapar di kebun binatang

Hampir gila jika terdengar.

Sudah gila benar lah si singa.

Pelan pelan singa menerawang lagi, "Ah, jika belum saatnya makan, untuk apa aku berlelah lelah mengaum?". Gila kali aku buang ini itu.

"Sebentar, marahku bukan untuk lapar. Namun kepada para penjaga yang meringankan lalai dan lupa banyak dari akibat kemarin". Singa mulai berdiri meskipun perutnya terasa sakit, tak makan dua malam.

"Jika mereka datang malam ini, akan ku terkam mereka dan kucabik cabik tubuhnya". Ia mengaum pelan melihat dua kawannya yang terbaring lemah.

"Tapi bukankah seharusnya aku berterima kasih ketika akhirnya mereka memberi makan? Mungkin saat ini mereka bersusah susah mencari makan? Bukankah yang terpenting makanan dari mereka?".

Singa berputar-putar mencari entah yang ia tak tahu.

Hatinya terasa meledak hampir hancur.

Instingnya ingin menerkam satu dua makhluk hidup untuk membuatnya tenang.

Tapi ia hanya berputar-putar terus menerus, menunggu penjaga yang dua malam kemarin meninggal.

Kebun binatang sudah tak berjalan sejak tiga bulan lalu, hanya penjaga terakhir yang setia merawat hewan di kebun binatang itu.

Entah apa yang lebih dulu mendatangi nasib para singa dan hewan lainnya, pilihan tindakan detik itu yang akan mrmpengaruhi banyak hal ke depannya.

12 Sep 2020

 It was me.

Not you, or neither.

Ah kenapa berhalusinasi lagi. Ini sangat lucu.

9 Sep 2020

Mimpi Indah

Malam di Kota Jogg tempat Reva dibesarkan memang hanya seukuran petak kecil dibanding kota lain di Provinsi Kina.

Jika air pasang, kota ini bahkan bisa terangkat air dan mengikuti arus jika tidak diikat dengan tembaga tembaga pada batang pohon dan batu besar di hutan sebrang.

Malam itu lebih gelap dari biasanya, Reva pulang larut setelah melakukan konseling mingguan.

Masih teringat pertanyaan wanita tadi, "Apa ketakutan terbesarmu?", Suaranya datar namun tatapannya hangat, diam diam memberikan Reva rasa dihargai tiap melakukan konseling.

Memikirkan pertanyaannya, Reva tiba tiba teringat tentang malam waktu itu. 18 tahun lalu ketika umurnya 4 tahun.

"Gelap..", terbata bata Reva menjawabnya. "Dingin..", seorang anak kecil muncul dalam ingatannya, dengan kaki dan tangan terantai kuat, ia menjerit jerit minta ampun bahkan ketika diangkat dan dimasukan kebawah kotak mainan besar di ruang tamu rumahnya.

"Sesak..", "Berat..", Reva melanjutkan jawabannya.

Anak kecil itu menyadari semua orang meninggalkannya setelah lampu ruang tamu dimatikan. Pintu ditutup dan hanya ada keheningan diselingi tangisannya yang tak kunjung reda.

Ia tahu tidak ada yang akan datang menolongnya. Bukan bibi di depan rumah, bukan nenek baik di samping rumahnya, dan tentunya bukan ibu dan kakaknya yang memilih meninggalkannya setelah meletakkan anak kecil itu disudut.

"Percaya pada seseorang...".

Malam itu Reva akhirnya menangis di depan seseorang yang entah dia percaya atau tidak.

Setelah menghapus air matanya dan berapamitan, ia bergegas pulang karena adiknya sendiri di rumah.

"Dek, kakak pulang nih, makan yuk", adiknya baru 6 tahun, sudah 4 tahun lamanya Reva membesarkannya seorang diri.

Adiknya kini sedang lahap memakan semangkuk sup yang dibawa kakaknya.

Reva bergerak sedikit untuk menyalakan televisi.

"Sekali lagi saya ulangi, malam ini diprediksi akan ada hujan lebat dan badai, seluruh warga Jogg diminta mengungsi ke kapal besar dekat hutan. Perkiraan badai akan datang 15 menit dari sekarang dari arah utara, sekian dari..", tanpa menyelesaikan makanannya, Reva bergegas mematikan tv dan semua lampu dirumahnya, mengambil kantung uang dan baju hangat adiknya.

"Dek ayo ikut kakak", mereka sedikit berlari menaiki tangga untuk keluar, karena rumah mereka berada di bagian bawah rumah teman dari ayah Reva.

Setelah sampai di atas, ia menyadari hanya segelintir orang yang bergegas menuju arah selatan bersama keluarganya.

Hujan deras tiba tiba mengguyur seluruh kota Jogg. 

"Dek, sini kakak gendong, kamu pegang yang kuat", 

Hati Reva tak karuan, hujan badai 4 tahun lalu menyapu bersih orang orang yang enggan mengungsi, Reva yang kebetulan sedang membawa adiknya mengunjungi teman yang sakit, ikut berlarian ke pengungsian malam itu. Namun semenjak itu ia tidak menemukan jejak keluarganya.

Ia menerobos kerumunan orang dan berhasil menemukan tempat kosong, namun di tepi kapal yang sebenarnya ia hindari.

Udara semakin dingin dan angin kencang membawa air hujan terasa berat dan menyakitkan jika terkena kulit. 

Ia memeluk erat adiknya yang hanya terdiam.

"Dek gapapa kok klo nangis.. kamu takut ya?", Ia menoleh dan mengangguk, mulai menangis pelan sambil memeluk Reva.

Air laut mulai naik, posisi Reva cukup rendah, berada di tengah badan kapal karena lantai teratas hanya untuk pejabat kota.

Mengungsi di kapal dimaksudkan jika terkena gelombang air maka kapal akan mengikuti arus dan bisa tetap berada di permukaan. Sedangkan jika di kota, seluruh kota akan tenggelam setinggi 10 kaki atau lebih, belum termasuk posisi kota yang miring 45 derajat karena sebagian terikat dengan pasak di hutan.

Air sudah mengenai pinggang Reva, ia mengangkat adiknya dan memeluknya di dada. 

Kapal mulai bergoyang hebat, setengah jam berlalu namun badai masih meronta ronta.

Lampu kapal padam beberapa menit lalu.

Karena terlalu lama mengangkat adiknya, ia merasa kebas dan sesak karena beban berat adiknya, meskipun berat badan adiknya tidak seberapa.

Ia menggenggam erat pinggiran tiang tempatnya duduk. Kesadarannya mulai kabur..

Reva menggelengkan kepalanya keras agar terjaga, jika ia hilang kesadaran, adiknya akan jatuh!

Badannya sudah gemetar hebat, tangannya sudah hampir lepas kendali.

Seseorang di belakang kami tiba tiba bersuara, "Hey, kemarikan adikmu, posisi kami dekat pemanas ia lebih aman di sini",  seseorang bertudung entah pria atau wanita, Reva mempercayakan adiknya pada orang itu.

"Adikku harus selamat, tolong jaga dia".

Setela memberikan kain adiknya, ia terhuyung dan pandangannya menjadi gelap.

Ia merasakan seseorang memegang lengannya dengan kencang.. 

.

.

hingga tiba tiba, terdengar suara seseorang memasak. 

"Ah, aku kesiangan lagi..", ia keluar dari kamar kosnya dan mencuci muka.

"Kamu piket ya hari ini", tetangga kos memastikan aku mendengar nya, dan pergi setelah mendengar "iya".


8 Sep 2020

Menjadi Kuat

 "Kuat itu gimana kak?", Rae terduduk di taman belakang rumahnya, di sepetak koran yang dia bawa diam-diam dari ruang tamu.

Ia mengulang lagi pertanyaan itu, "Kuat itu gimana kak?".

Berharap kakaknya yang entah kini ada di mana akan menjawabnya lewat hembusan angin.

Rae sesekali mengecek pintu belakang takut-takut ada yang tiba-tiba datang, serta memastikan tubuh kecilnya tersembunyi di balik tumpukan bata.

"Aku, tiap bersama orang tertentu, rasanya hal yang aku lalui terasa begitu sederhana.. aku bisa tersenyum, tertawa, bahagia, dan mencoba melakukan hal-hal baik. Apa itu yang disebut kuat kak?".

Pelan tanpa aba-aba,

Mata Rae mulai memanas.

Dadanya terasa tercekat dan berat untuk dialiri udara.

"Aku, ketika sendiri, melangkah ke sana ke mari mengurus ini dan itu tanpa orang lain, apa-apa yang berat pun menjadi terabaikan dan hanya merasa ini itu yang berat bukan suatu hal. Apa itu yang disebut kuat kak?".

Rae berusaha kuat untuk tersenyum, ia menggigit bibirnya dan berusaha tetap bernapas.

"Tentunya Allah Yang Maha Besar, kekuatan dan bantuanNya lebih besar dari apa apa yang berat yang kurasakan, iya kan kak?".

"Terkadang lebih banyak waktu rasanya aku bahkan gak mampu mengatakan hal baik padaku, dan detik itu menjadi kelemahan yang mudah dicabik-cabik"


'Itu sangat baik karna kamu bertahan selama ini...'


Rae membelalakkan mata.

Kucing putih yang sedari tadi tertidur di depannya, seketika memandang lurus ke matanya. Seperti suara tadi muncul darinya.

Sedetik kemudian kucing itu kembali tidur setelah menjilat tangannya.


"Kak? Apa aku sudah gila?"


Rae mengabaikan suara dan refleks aneh kucing tadi.

"Kak..."

"Bukankah seseorang yang gak bisa mengendalikan dirinya berarti dia gila?"

Rae tiba-tiba berdiri, ia menyadari langit mulai mendung.

Ia bergegas mengangkat baju kering di jemuran, dan segera memasuki kamarnya.

Semuanya ia lakukan dengan cepat, tanpa sadar bahwa sedari tadi air matanya mengalir tanpa henti..

Dalam batinnya, "Aku harus kuat. Untuk orang orang yang ku sayang".

3 Sep 2020

Memori Kucing

Ezha keluar dari kamarnya tiba-tiba.

Dengan raut wajah yang sangat jarang dan bisa muncul secara random tiap minggunya.

Ia mulai duduk di kursi ruangan tengah dan mendadak tersenyum riang sambil menyentuh bagian leher "Moka" kucing abu-abu umur 3 bulan di depannya.

Moka mendekatkan dirinya dan mendusel dusel ke area badan Ezha.


"Eyy.. laper ya?", Ezha membiarkan Moka menaiki badannya dan bertengger di dadanya.

Ezha memeluk Moka sebelum beberapa menit selanjutnya ia mulai menangis. 

Hal yang jarang terjadi adalah Moka tidak berusaha melepaskan diri. Dia hanya diam dalam pelukan Ezha.

"Lucu ya?, Aku harusnya diem aja kan?", Ezha meletakkan Moka di atas meja dan menatap matanya yang bulat.

Ia mengelus elus perlahan daerah kepala Moka, bulunya yang sudah kembali sehat tanpa ada jamur lagi membuat Moka semakin menyenangkan untuk dielus.

Sekejap.

Mendadak senyum Ezha hilang.

Tangan yang tadinya mengelus Moka, mengarah ke leher kecilnya dan mulai mencekik sembari memeluk tubuh kucing itu.

"Maaf ya..", suara sedih Ezha kembali terdengar. Segera setelah melepaskan Moka yang sebelumnya hampir kehilangan napas.

Ia mengambil air dan mencuci mukanya.

Ia menghampiri Moka perlahan.

Moka yang terlihat gelisah, langsung mencakar dan menggigit tangan Ezha yang terjulur untuk mengelusnya.

Ezha membiarkan tangannya luka luka karena cakaran dan gigitan kucing itu.

"Bukankah seharusnya begitu?".

Moka kucing yang pintar, ia akan melindungi diri ketika ia mendapatkan tindakan yang menyakitinya

Kan?

..........

Ia terbangun siangnya,

Tetangga kanan kiri sudah bergegas pergi kerja, tersisa satu yang sedang dalam masa rehat.

Aku terjongkok di depan kamar, mengumpulkan nyawa dan sinyal otak.

Moka berjalan perlahan menghampirinya,

Mengendus endus dan berputar putar sambil menggesekkan badannya.

"Kamu biasa emong dia sih dari kecil, jadi tau siapa yang sayang kedia", ujar tetanggaku sambil menyuci.

Aku tersenyum hambar,

Memandang Moka yang perlahan mulai menaiki tubuhku minta di elus.

Im sorry Moka. Terima kasih..

2 Sep 2020

Suka Lupa

 Gila kali ya.


Baru dua detik tenggelam dalam lamunan, Era mulai merutuki teguran diri yang muncul di kepalanya.

"Gila kaliiii! Argh!"


"Ya Allah, astaghfirullah.. kebiasaan banget! Innalillahi!"


Sambil melepas atribut 'ke luar rumah' iya kembali merutuki 'rutukannya'.


Mendadak ia berdiri menghampiri kaca bulat di samping kasur.


"Gila kali kamu Raaaa! Kenapa sih suka seberisik ini?"


Dan, Era mulai menangis.

Ia kembali terduduk di sisi kasur, tangisannya mulai 'lebat'.


"Era berisik mulu ihhhh!", Ia mengambil bantal dan membekap wajahnya agar suaranya terbenam.


'PING


Hp Era berkedip, layarnya menyala beberapa detik. Nampak sebuah pesan singkat dari seseorang.

"Gak apa apa besok cerita lagi ya".

Era sekilas melihat pesan itu, dan kembali terbenam pada bantal hijau yang mulai basah sana sini.


Ia lupa, 


dirinya selalu minta,


Untuk tidak pernah lagi memulai cerita.


Era menekan power off hpnya untuk waktu lama, hingga kedipan lampunya redup.


Menuju kamar mandi dan mengambil wudhu.

Tangisnya ikut jalan kaki, bahkan dibawa mandi dan masak nasi.

Sabar ya, Ra.