Ada masa-masa yang kosong di antara pemberian dan penerimaan.
Transfer, tindakan dari hal-hal yang banyak aspeknya. Transfer, transaksi, tukar tambah, jual beli, pemberian, dan terima kasih.
Lobak yang pucat dan tidak bergairah, umumnya jadi pemberian "ikhlas" kepada entah siapa, dia sendiri, orang lewat, orang kebetulan bertandang, atau orang yang terlihat pantas menerima.
Bentuk lain dari mengapresiasi sebuah benda yang bisa jadi, sebagaian orang sebut sampah atau barang rusak.
Zhea pernah bercerita tentang kebiasaannya, ia akan bertanya setiap ada forum apapun.
Sekali, ku temui dia mengikuti kelas yang sangat membosankan dan jauh dari materi. Ia menyaut perkataan terakhir dari pemateri dengan sebuah pertanyaan. Ia bertanya dan tetap bertanya ketika menyadari sekelilingnya sudah muak dan ingin segera menghirup udara kenormalan di habitatnya.
Aku mengirimi sinyal dan menanyakan kenapa dia tetap bertanya.
Ia menjawab singkat, "Nanti gue cerita".
Entah itu kapan, tapi ia melakukannya setiap kelas itu akan berakhir dan di forum lainnya.
Kali ini, kita berada di forum yang sama ketika materi sangat menyenangkan. Ia terlihat sangat tertarik dan mengikuti pembicaraan dengan antusias, dan tentu saja, ia hanya diam dan menjawab singkat jika ditanya.
Di akhir pertemuan, hampir 2/3 kelas berebut bertanya.
Aku menengok sekilas ke arah belakang ruangan.
Zhea hanya diam menyandarkan tubuhnya di kursi hitam, di sudut ruangan. Tempat favoritnya jika ia sedang lelah dengan dunia. Matanya tenang tapi fokus. Ia tetap diam.
Pertanyaan satu persatu dijawab, di saat itu, ia hanya mencatat sesuatu dan tetap diam sambil menggoyangkan kakinya sesekali.
Setelah forum selesai, aku menghampirinya sebentar dan bertanya, "Ga seru?", dan ia menjawab singkat, "Nanti gue cerita", dan tertidur di meja kecil itu, "Duluan aja Rev", aku pergi setelah meletakkan botol air favoritnya di samping kursi.
Itu bukan terus terjadi, di lain waktu, forum yang ramai itu sedang berlangsung lagi. Setengah jam pertanyaan dijawab, dalam jeda 5 detik di antara sepinya jeda, Zhea mengangkat tangan dan mulai bertanya, pertanyaan sederhana yang memakan waktu setengah jam lainnya untuk menjawab pertanyaan itu.
Setelah forum selesai, aku meringis ke arahnya, memberi gestur "gila lo", ia terkekeh dan menjawab dengan gerakan mulut, "Nanti gue cerita", dan pergi dengan cepat setelah merapihkan jaket abu-abu kramat miliknya.
Kita janji bertemu di JPO kampus tiap sore.
Harinya random, kadang rutin di hari rabu, atau kapanpun tergantung seberapa nyaman suasana sore hari itu.
Aku berjalan perlahan, menghampiri Zhea yang bersandar menghadap jalan raya.
Tanpa pembatas, tubuhnya sudah ssejak awal terhempas.
Aku ikut bertengger di sana.
Ah, iya sore ini sangat nyaman.
Kami diam lama, sibuk dengan apapun yang dipikirkan atau tidak dipikirkan.
"Gue suka bingung sama orang, kenapa mereka seunik itu", suaranya beriringan dengan gerungan pelan dari mobil yang melaju di bawah jembatan.
Aku diam, dia sedang bersenandung dengan pikirannya.
"Zhe, kenapa muka lo cape terus?", aku bertanya serius.
Ia menoleh dengan cengiran basic nya.
"Lo senyum aja kayak orang cape tau. Udah gak diminum obat depresannya ya?", aku sedikit berteriak karna kendaraan mulai padat dan ramai.
"Tau gak sih, kenapa seseorang hidup? karna dia percaya sesuatu, pernah denger kan?", ia mengangkat tas gemblok favoritnya dan meletakannya di dada. Sebuah tanda kecemasannya mulai hadir.
"Tau gak, kenapa ada yang tetep mau mati sendiri? karna dia berhenti membuat dirinya berpikir tentang kepercayaan. Tapi jauh sebelum itu, orang yang gak mau percaya apa-apa lagi, berarti dia percaya sama apa yang gak dia percaya, jadi kemungkinan orang bunuh diri bukan lagi tentang pikirannya, tapi kemungkinan di antara jeda dia gak berpikir, sama timing dia lompat atau lakuin apapun buat bunuh diri", Ia meminum air mineral dari botol yang ia letakkan di samping kakinya.
Tangannya gemetar. Selalu ditangan kiri.
Ia sedang mengingat hal yang menakutkan.
Jika di kanan, ia hanya lapar, atau kurang tidur.
Ia bersiap bercerita setelah meletakkan botolnya.
"Makanya jeda itu penting banget gak sih", ia menoleh ke arahku.
Aku hanya ber hmm pelan.
Aku ikut minum dari botol di tanganku. Kita memiliki banyak hobi yang sama, salah satunya minum, dan melamun. Kadang kukira kita kembar, atau berada di tubuh yang sama.
"Kadang, jeda ketika dosen atau orang yang nyampein sesuatu nannya 'Apa ada yang mau ditanya?' itu cukup serius menurut gue. Sering banget orang cuma mau nannya kalo ada reward, gak tau nilai atau apapun, klo gak ada reward orang gak gerak, bahkan otak buat proses bahasan sebelumnya", dia bernapas sejenak setelah mengucapkan itu.
"Apresiasi", aku spontan menghembuskan kata asing itu. Dia menoleh dan sedikit melotot.
"Lo klo dateng nyamperin gue di JPO cuma buat apresiasi undangan gue mending pulang ya! sedih amat", ia terkekeh dengan sedih, dan kembali menatap jauh ke arah jalanan dengan mata kecilnya yang sendu.
Tiba-tiba matanya berisi dan mulai membahas tentang apresiasi dengan semangat.
"Kadang apresiasi nowadays itu udah condong ke arah menyedihkan, ya gak sih", ia bukan bertanya, ia sedang menguatkan opini dan kembali melanjutkan.
"Lo perhatiin deh, sering banget gue denger, 'itu dia udah ikut lomba, apresiasiin pake sertif aja, kasihan' atau contoh lainnya yang sebenernya casenya juga beda-beda. Atau kayak...", aku memotong kalimatnya,
"Atau kayak lo yang nannya ke pemateri yang di abaikan?", sebuah pertanyaan tajam yang sebenarnya hanya ingin agar dia bercerita tentang sikap anehnya itu.
Ia terdiam.
Muncul sinyal gawat di otak ku.
dalam hati, aku sudah komat kamit agar dia melupakan omonganku.
"Bisa jadi", ia menjawab singkat.
"Tapi gue kasihan si sama keberadaan jeda, menurut gue itu masa kosong yang menyakitkan buat mereka yang menyampaikan atau berusaha ngelakuin sesuatu buat orang lain", ia mempererat genggamannya dengan sampiran bahu tasnya.
"Gue benci banget dikasihani, makanya gue juga benci di apresiasi atau di puji", wajahnya menunjukkan rasa muak yang jelas banget.
"Tapi apresiasi kan sesuatu yang positif gak sih?", sebenarnya di momen ini, bertanya hal seperti itu sangat menakutkan.
"Kasihan, dan apresiasi itu abstrak yang merujuk ke, lo lakuin itu karna sedih aja atau ngrasa perlu, tanpa alesan yang kuat yang jelas dan berani. Kayak lo akan berdiri ketika ada ibu hamil yang nyari kursi, bukan karna lo punya intensitas perasaan yang jelas dan kuat. Ngerti gak loo hah".
Zhea akan berbicara cepat seiring panjangnya dialog dan keterikatan emosi.
"Jadi, kalo lo cuma apresiasi undangan gue, atau sejenis gak enak nolak, atau kerena gue undaang aja, serius, lu pulang aja. Hati gue sakit banget".
Jeda, Zhea kehabisan napas menyampaikan kesakitannya.
"Tau gak Zhe, gua gak tau Rara cuma apresiasi diri, keberadan, sama perasaan gue doang apa gimana sampe saat ini", Aku tiba-tiba melow.
"Perasaan lu gimana? Apa yang lo rasain dari perasaan dia?", ia mulai terduduk karena kelelahan setelah berbicara membahas emosi.
"Gua gak pernah berubah. Dan Lo tau gue feeler kan.. gua tau apa yang dia rasain. Bersyukur banget, sekaligus takut, takut yang gua rasain cuma imajinasi gua doang", aku ikut terduduk disebelahnya.
"Dia pernah bilang gak?"
Aku terdiam dan sedikit terkekeh, mengamati kami, karna kami seperti gembel di jembatan.
Jeda.
Aku malu-malu menyahut, "Mm.. dulu pernah".
Dia menggeplak lenganku dan tertawa.
Dia tertawa sangat renyah sampai aku ikut tertawa bodoh.
Kami tertawa sampai hujan turun.
Dan ia tiba-tiba membahas hal lain.
"Kadang gua suka jeda..
Nikmatin apa aja dan membiarkan sesuatu mengalir. Kadang gue diem ketika orang-orang nannya, biar ngejaring juga 'apa pertanyaan ini penting/ ada orang lain yang mau nannya hal semacam ini juga. Gua bisa gak excited sama hal yang orang rasa itu menarik banget, dan gua bisa se excited itu sama kejadian/hal yang orang abaikan", wajahnya lelah ketika mengucapkan kalimat itu.
"Gak ngerti deh, gua gak pernah ngerti diri gua sebenernya. Semuanya cuma kira-kira dan raba-raba. Makasih ya". Dia pergi setelah melambaikan tangan.
Aku kembali melamun.
Sampai 'bayi' dari perutku bersuara,
tanda masuk angin.
Perlahan meninggalkan jembatan.
Aku belum pernah tau Zhea pulang kemana tiap harinya.