My fans

13 Apr 2021

Jembatan Sore

 Ada masa-masa yang kosong di antara pemberian dan penerimaan.

Transfer, tindakan dari hal-hal yang banyak aspeknya. Transfer, transaksi, tukar tambah, jual beli, pemberian, dan terima kasih.

Lobak yang pucat dan tidak bergairah, umumnya jadi pemberian "ikhlas" kepada entah siapa, dia sendiri, orang lewat, orang kebetulan bertandang, atau orang yang terlihat pantas menerima.

Bentuk lain dari mengapresiasi sebuah benda yang bisa jadi, sebagaian orang sebut sampah atau barang rusak. 


Zhea pernah bercerita tentang kebiasaannya, ia akan bertanya setiap ada forum apapun. 

Sekali, ku temui dia mengikuti kelas yang sangat membosankan dan jauh dari materi. Ia menyaut perkataan terakhir dari pemateri dengan sebuah pertanyaan. Ia bertanya dan tetap bertanya ketika menyadari sekelilingnya sudah muak dan ingin segera menghirup udara kenormalan di habitatnya.

Aku mengirimi sinyal dan menanyakan kenapa dia tetap bertanya. 

Ia menjawab singkat, "Nanti gue cerita".


Entah itu kapan, tapi ia melakukannya setiap kelas itu akan berakhir dan di forum lainnya.

Kali ini, kita berada di forum yang sama ketika materi sangat menyenangkan. Ia terlihat sangat tertarik dan mengikuti pembicaraan dengan antusias, dan tentu saja, ia hanya diam dan menjawab singkat jika ditanya.

Di akhir pertemuan, hampir 2/3 kelas berebut bertanya.

Aku menengok sekilas ke arah belakang ruangan.

Zhea hanya diam menyandarkan tubuhnya di kursi hitam, di sudut ruangan. Tempat favoritnya jika ia sedang lelah dengan dunia. Matanya tenang tapi fokus. Ia tetap diam.

Pertanyaan satu persatu dijawab, di saat itu, ia hanya mencatat sesuatu dan tetap diam sambil menggoyangkan kakinya sesekali.

Setelah forum selesai, aku menghampirinya sebentar dan bertanya, "Ga seru?", dan ia menjawab singkat, "Nanti gue cerita", dan tertidur di meja kecil itu, "Duluan aja Rev", aku pergi setelah meletakkan botol air favoritnya di samping kursi.

Itu bukan terus terjadi, di lain waktu, forum yang ramai itu sedang berlangsung lagi. Setengah jam pertanyaan dijawab, dalam jeda 5 detik di antara sepinya jeda, Zhea mengangkat tangan dan mulai bertanya, pertanyaan sederhana yang memakan waktu setengah jam lainnya untuk menjawab pertanyaan itu.

Setelah forum selesai, aku meringis ke arahnya, memberi gestur "gila lo", ia terkekeh dan menjawab dengan gerakan mulut, "Nanti gue cerita", dan pergi dengan cepat setelah merapihkan jaket abu-abu kramat miliknya.


Kita janji bertemu di JPO kampus tiap sore.

Harinya random, kadang rutin di hari rabu, atau kapanpun tergantung seberapa nyaman suasana sore hari itu. 


Aku berjalan perlahan, menghampiri Zhea yang bersandar menghadap jalan raya.

Tanpa pembatas, tubuhnya sudah ssejak awal terhempas.


Aku ikut bertengger di sana.

Ah, iya sore ini sangat nyaman.


Kami diam lama, sibuk dengan apapun yang dipikirkan atau tidak dipikirkan.

"Gue suka bingung sama orang, kenapa mereka seunik itu", suaranya beriringan dengan gerungan pelan dari mobil yang melaju di bawah jembatan.

Aku diam, dia sedang bersenandung dengan pikirannya.

"Zhe, kenapa muka lo cape terus?", aku bertanya serius.

Ia menoleh dengan cengiran basic nya. 

"Lo senyum aja kayak orang cape tau. Udah gak diminum obat depresannya ya?", aku sedikit berteriak karna kendaraan mulai padat dan ramai.

"Tau gak sih, kenapa seseorang hidup? karna dia percaya sesuatu, pernah denger kan?", ia mengangkat tas gemblok favoritnya dan meletakannya di dada. Sebuah tanda kecemasannya mulai hadir.

"Tau gak, kenapa ada yang tetep mau mati sendiri? karna dia berhenti membuat dirinya berpikir tentang kepercayaan. Tapi jauh sebelum itu, orang yang gak mau percaya apa-apa lagi, berarti dia percaya sama apa yang gak dia percaya, jadi kemungkinan orang bunuh diri bukan lagi tentang pikirannya, tapi kemungkinan di antara jeda dia gak berpikir, sama timing dia lompat atau lakuin apapun buat bunuh diri", Ia meminum air mineral dari botol yang ia letakkan di samping kakinya.

Tangannya gemetar. Selalu ditangan kiri.

Ia sedang mengingat hal yang menakutkan.

Jika di kanan, ia hanya lapar, atau kurang tidur.


Ia bersiap bercerita setelah meletakkan botolnya.

"Makanya jeda itu penting banget gak sih", ia menoleh ke arahku.

Aku hanya ber hmm pelan.

Aku ikut minum dari botol di tanganku. Kita memiliki banyak hobi yang sama, salah satunya minum, dan melamun. Kadang kukira kita kembar, atau berada di tubuh yang sama.

"Kadang, jeda ketika dosen atau orang yang nyampein sesuatu nannya 'Apa ada yang mau ditanya?' itu cukup serius menurut gue. Sering banget orang cuma mau nannya kalo ada reward, gak tau nilai atau apapun, klo gak ada reward orang gak gerak, bahkan otak buat proses bahasan sebelumnya", dia bernapas sejenak setelah mengucapkan itu.

"Apresiasi", aku spontan menghembuskan kata asing itu. Dia menoleh dan sedikit melotot.

"Lo klo dateng nyamperin gue di JPO cuma buat apresiasi undangan gue mending pulang ya! sedih amat", ia terkekeh dengan sedih, dan kembali menatap jauh ke arah jalanan dengan mata kecilnya yang sendu.

Tiba-tiba matanya berisi dan mulai membahas tentang apresiasi dengan semangat.

"Kadang apresiasi nowadays itu udah condong ke arah menyedihkan, ya gak sih", ia bukan bertanya, ia sedang menguatkan opini dan kembali melanjutkan.

"Lo perhatiin deh, sering banget gue denger, 'itu dia udah ikut lomba, apresiasiin pake sertif aja, kasihan' atau contoh lainnya yang sebenernya casenya juga beda-beda. Atau kayak...", aku memotong kalimatnya, 

"Atau kayak lo yang nannya ke pemateri yang di abaikan?", sebuah pertanyaan tajam yang sebenarnya hanya ingin agar dia bercerita tentang sikap anehnya itu.

Ia terdiam.

Muncul sinyal gawat di otak ku.

dalam hati, aku sudah komat kamit agar dia melupakan omonganku.

"Bisa jadi", ia menjawab singkat.

"Tapi gue kasihan si sama keberadaan jeda, menurut gue itu masa kosong yang menyakitkan buat mereka yang menyampaikan atau berusaha ngelakuin sesuatu buat orang lain", ia mempererat genggamannya dengan sampiran bahu tasnya.

"Gue benci banget dikasihani, makanya gue juga benci di apresiasi atau di puji", wajahnya menunjukkan rasa muak yang jelas banget.

"Tapi apresiasi kan sesuatu yang positif gak sih?", sebenarnya di momen ini, bertanya hal seperti itu sangat menakutkan.

"Kasihan, dan apresiasi itu abstrak yang merujuk ke, lo lakuin itu karna sedih aja atau ngrasa perlu, tanpa alesan yang kuat yang jelas dan berani. Kayak lo akan berdiri ketika ada ibu hamil yang nyari kursi, bukan karna lo punya intensitas perasaan yang jelas dan kuat. Ngerti gak loo hah".

Zhea akan berbicara cepat seiring panjangnya dialog dan keterikatan emosi.

"Jadi, kalo lo cuma apresiasi undangan gue, atau sejenis gak enak nolak, atau kerena gue undaang aja, serius, lu pulang aja. Hati gue sakit banget". 

Jeda, Zhea kehabisan napas menyampaikan kesakitannya.

"Tau gak Zhe, gua gak tau Rara cuma apresiasi diri, keberadan, sama perasaan gue doang apa gimana sampe saat ini", Aku tiba-tiba melow.

"Perasaan lu gimana? Apa yang lo rasain dari perasaan dia?", ia mulai terduduk karena kelelahan setelah berbicara membahas emosi.

"Gua gak pernah berubah. Dan Lo tau gue feeler kan.. gua tau apa yang dia rasain. Bersyukur banget, sekaligus takut, takut yang gua rasain cuma imajinasi gua doang", aku ikut terduduk disebelahnya.

"Dia pernah bilang gak?"

Aku terdiam dan sedikit terkekeh, mengamati kami, karna kami seperti gembel di jembatan.

Jeda.

Aku malu-malu menyahut, "Mm.. dulu pernah".

Dia menggeplak lenganku dan tertawa.

Dia tertawa sangat renyah sampai aku ikut tertawa bodoh.

Kami tertawa sampai hujan turun.

Dan ia tiba-tiba membahas hal lain.


"Kadang gua suka jeda..

Nikmatin apa aja dan membiarkan sesuatu mengalir. Kadang gue diem ketika orang-orang nannya, biar ngejaring juga 'apa pertanyaan ini penting/ ada orang lain yang mau nannya hal semacam ini juga. Gua bisa gak excited sama hal yang orang rasa itu menarik banget, dan gua bisa se excited itu sama kejadian/hal yang orang abaikan", wajahnya lelah ketika mengucapkan kalimat itu.

"Gak ngerti deh, gua gak pernah ngerti diri gua sebenernya. Semuanya cuma kira-kira dan raba-raba. Makasih ya". Dia pergi setelah melambaikan tangan.

Aku kembali melamun. 

Sampai 'bayi' dari perutku bersuara, 

tanda masuk angin.

Perlahan meninggalkan jembatan.


Aku belum pernah tau Zhea pulang kemana tiap harinya.




9 Apr 2021

Episode

Dan kembali lagi

Kisah kisah yang masih selucu momen pada detik yang sama

dan masih selucu itu untuk tidak ditertawakan

dan hai, kebodohan yang selalu ada dan bertengger sok anggun

Kamu kenapa?

Bisa bisanya lalai, untuk tidak keluar garis.

"Ini hukuman, kamu harus dihukum! kembali peluk ketakutan itu".


Aku terdiam, bergeming tanpa sandaran.

mm.. kemarin itu apa?

apa sejenis butiran keju yang berjatuhan?

Berisik dan tidak menyenangkan?

Lagi-lagi ada di mana?

Kemarinnya siapa?

PLAKK


Aku menyadari Ra menampar pipiku dengan wajah merah dan mata yang terluka

"Ra? kenapaaa? kamu gak apa apa? ayo kalo lagi marah gapapa tampar lagi ajaaa", aku mengulurkan tangan meraih lengannya.

Ia menepis dan berjalan pelan duduk di kursi taman.


Aku takut-takut menghampiri.

Takut dia maunya sendiri, dan aku memperburuk emosinya.


Diam.

Kita hanya diam 20 menit kedepan.

Memandangi orang-orang berjalan, bermain di lapangan dan aktifitas umum yang dilakukan orang di taman kota.

Aku perlahan memegang tangannya.

Mengambil posisi merengkuh kakiku dan meletakkan genggaman tangan itu di sela leherku yang dingin.

Diam lagi.

Hingga satu dua anak menurunkan layangannya dan pergi karna hari mulai gelap.


"Rev, kamu anggep aku apa?", Rara berbicara dengan setengah berbisik. Matanya kosong menatap tanah.

Ia mulai menangis.

"Aku tahu kamu takut, iya setakut itu? iya.. tapi aku juga takut Rev", ia menjeda omongannya setelah mengelap kasar air matanya.

"Aku rasa hubungan kita juga salah dan kamu bakal sakit dan recall terus terusan", nadanya sedikit meninggi tapi suaranya hampir hilang di akhir kalimat.

Aku menghela napas berat.

"Mm.. tadi aku kambuh ya Ra?", aku tersenyum gamang.

Ah memalukan. Aku hanya merutuki diri dalam diam.

Rara mulai menangis lebih teratur.

Aku membiarkannya, ya, tentu dia ketakutan..

Bukankah wajar?

Semua orang akan ketakutan menghadapi "Diriku"


Hingga aku mengantarkannya ke stasiun pemberhentian dekat rumahnya, kami hanya diam.

Genggaman tangan itu hanya lepas ketika dia pergi.

Ketika dia memilih pergi, dan semua akan sewajarnya terjadi.

Aku bahkan dengan egoisnya mengabaikan hal itu.

Karna waktu bersamanya seberharga itu.

Ya, aku egois.

27 Mar 2021

Trauma?

Kata yang sampe saat ini bikin bergidik tiap denger.

Sounds like smthng menyakitkan yang orang orang berhati besar bisa lewatin. Gatau si aku ngefans bgt sama kalian kalian yang bertahan sejauh ini.

Karna menurut Revat, trauma itu bener bener menyakitkan.

Beda sama "ketakutan".

Siapa sih yang ga punya ketakutan?

Banyak.

Sebagian pilih biarkan,

Sebagian pilih diamkan,

Sebagian pilih bawa jalan.


Ketakutan juga relatif. Bisa dirasain ketika mendekati simptom tertentu atau bahkan ketika itu cuma dalam bentuk "ketakutan".


Revat pernah cerita kalo dia takut jadi sosok yang menyerupai orangtuanya.

Dia takut dan semakin takut, karena dia liat dirinya makin banyak miripnya.

Padahal, kata orang normal, "Ya pasti akan ada miripnya, antara anak sama orangtua".

Iya. Iya? Iya kan?

Tapi.. dia setakut itu.

"Gue cape banget setakut ini gilak. Kayak gak bisa berhenti jadi setakut itu. Bahkan cuma buat cari diri. Takut banget. Bokap sama nyokap gue sama sama terluka karna sikapnya dan terluka dengan hubungan mereka. Gue slalu...", Revat ga sesempet itu melanjutkan cerita.

Aku berjalan cepat ke arahnya dan menamparnya dua kali.

Aku berhenti,

dan memandanginya lekat lekat.

Dua tiga tamparan lagi, mengikuti.

"Reeeeeeevvvv!", 

Aku menjerit bersama tamparan terakhir.

"Rev please..", 

aku menggenggam tangannya dan mulai menangis.

"I cant handle your feeling dude.., but i will hold your hand whenever you need me", aku menunduk, ini berat.

Aku juga takut.

Aku juga takut. Aku setakut itu menghadapinya..

Aku takut memahami ia seterluka itu.

Aku takut.

Suatu hari, aku menjadi alasan dari ketakutannya yang lain.


....

Aku terbangun.

Terlalu pagi untuk kehilangan kantuk, terpejam sesaat.

Dan kembali lelah.

Menghembus kebingungan,

"Kenapa akhir akhir ini banyak yang terasa nyata?".



22 Mar 2021

Selfish Person

"Kebenaran itu, akan benar pada saatnya".


Untuk kamu,

Bagiku, rumah bukan tempat kembali, rumah adalah rumah, dengan segala isinya.

Dan ketika bertemu denganmu, aku bukan menemukan rumah. Aku menemukanmu. 

I found you as you are.


Bagiku, kenyamanan bukan rasa tenang, kenyamanan adalah nyaman, dengan segala rasanya.

Dan ketika aku bertemu denganmu, aku bukan menemukan kenyamanan. Aku menemukanmu.

I found you as you are.


Aku menemukanmu tanpa permintaan, aku menemukanmu bukan karena kesakitan, aku menemukanmu bukan ketika mencari kenyamanan.

I just found out, that you alive. Aint near, but enough.


Itu menjadi masalah.

Karena bersamamu, aku menemukanmu.

Tapi tidak denganmu. Kamu tidak pernah menemukanku.

Aku tidak membuat diriku ditemukan, aku lupa, aku kehilanganku terlampau lama.

Setiap inci tubuhku penuh luka. Aku baru ingat, setiap kenangan pelukanku adalah keterlukaan. Aku belum pernah belajar tentang pelukan kebahagiaan. Aku belum pernah belajar, tentang pelukan cinta.

Aku tidak memintamu menyembuhkannya, itu tanggung jawabku. Sungguh.

Aku mengatakan tentang ini itu perihal luka, agar ketika menyentuhmu, kamu tidak terkejut atas apa-apanya. Aku ingin, ketika menyentuku, kamu menemukanku.

"Apa kenyataan menurutmu?",

"Ketika kehadiranku, ditemukan".


Memori ini menyenangkan, aku terluka, kelelahan, bahagia, menangis dan tertawa, dengan kesadaran bahwa ini adalah aku. Dengan sebuah kisah ketanpaan.


Ya, aku masih egois.

Keberadaanmu akan masih sama.

Kan aku bilang, "aku jatuh cinta sekali saja".


15 Mar 2021

14 Mar 2021

Syarat

Ada syarat, entah tertulis entah nggak.

Tapi mewakili semua aspek ini yang berhubungan..


Semua memang bersyarat, bahkan tidak memiliki syarat, masih ada syaratnya.

Semua. Iya semua..

Berita baiknya, syarat di hadirkan untuk orang orang agar berjuang. Mendapatkan apa yang dimau, dan memiliki makna dari apa yang didapat.

Apa perjuanganmu?

Apa semua yang dilakukan untuk "persyaratan" yang ada? Mencapai kesempurnaan?


I dunno.

Menyadari diri gak layak sesuai standar persyaratan yang ada, menekanku untuk akhirnya berpikir, "Oke, lakuin dengan syaratku sendiri".

I did. Itu berhasil.

Tapi gagal ditengah manusia.

Ah iya.. mungkin memang, caranya salah.

Yel yel bersosial selalu sama, hal sulit, bagi diriku yang "sulit", menghadapi standar ini.


Sederhananya disampaikan begini,

Jika kamu mau berteman, jadilah teman untuk dirimu dulu

Jika kamu mau mencintai, cintailah dirimu dulu

Jika kamu mau memiliki, miliki dirimu dulu


Dang.

Aku stuck.

Standar terberat.

Mau kemana lagi?

"You need to be ok with your own".


Ok, belajar.

Iya, aku belum siap. Aku belum siap dari segi standar orang umum. Karna siapku berdasarkan ego atas syaratku.


Iya masih egois..

Selalu seperti biasa.

Jaman tk pun.

Minta diajari pecahan ketika tulisanku masih buruk rupa. Guru bilang, "jangan, tulisannya dibagusin dulu".

"Dan aku terluka".


Standar ini sangat menarik. Sangat sesuai dengan kebanyakan manusia. 

Ah astaga, berlebihan memang.

Mungkin hanya masih berduka, karena standarku jauh dari syarat dan harapannya.


13 Mar 2021

Aku dan Waktuku

Refleksi tentang waktu,

Baru sadar jika waktu dan aku bukan sohib yang akur. Kita layaknya tetangga yang aku belum tahu semua tentangnya, tapi hanya perihal suara keras atau hal semacam ini itu yang bercerita, dan aku memilih mendengar. Semuanya.

"Rasanya gamang",

Untuk jawaban waktu di tiap kesempatannya.

"Belum pantas mencintai"

Untuk pertanyaan yang tepat dari setiapnya.


Cara terbaik menghindari diri dari ketersakitan, sebuah sikap otomatis yang tak terkendali, dan waktu selalu mendengarnya.

Karena aku berteriak agar hanya dia yang mendengar.


Bukan perihal aku tersakiti,

Tapi diam diam, aku sadar, ternyata aku sengaja menyakiti. Sengaja mengejutkan dan sengaja memupuk benteng, melindungi diri dari jangkauan cakrawala.

Iya, masih takut.

Iya, masih lemah.

Iya, masih bodoh.

Iya, masih saja.

Lupa jika diri belum pandai, meramu rasa.


Waktu sering berkata, tapi aku kira aku sudah lupa, tapi ternyata hanya sedang ingin kembali punya cerita.

Ia berkata tentang, hatiku yang masih belum ditemukan. Terjatuh di puluhan tahun lalu, masa di antara tidak adanya masa dan massa. 

Di sela hari dimana aku menemukan dan kehilangan.

Detik dimana aku mulai kira, "Ayo, semua tentang majas saja, tentang apa yang tersamapaikan tanpa penjelasan".

Dan waktu menambahkan, "Semua orang hanya butuh the best part of you", dia ia pulang pergi dengan arogan.

Sialnya dia benar.

Sialnya waktu selalu benar.

Sialnya, ketika bersama waktu, aku tidak pernah sial.

Hanya terus saja membuat soal.

Karena aku takut masa sadar.

Karena aku takut masa, di mana aku tidak lagi bisa gentar.


Aku tidak menyesal.

Sebal saja dengan waktu, ketika dia menyadarkanku tentang, "Buru buru".