My fans

27 Jul 2017

Yang Selalu Menunggu

Cie judulnya :v
pfth \~^~/

ah, co cwit kah?
hehe.. ga lah ya, biasa aja ^^

Menunggu.
Menunggu adalah sebuah kata yang memiliki makna akan banyak hal. Intinya barangkali ialah tentang, "menanti kesempatan", seringkali dibumbui harapan.. keikhlasan.. kekecewaan.. kepasrahan.. kekesalan.. dan.. kerinduan.

Menunggu.
Menanti kesempatan bertemu yang dinanti, entah manusia, kesempatan, jawaban, perkataan, atau.. takdir secara keseluruhan.

Ya si, itu koreksi aja, menunggu dan menanti barangkali sama.. tapi daku menggunakan dengan cara yang berbeda~

Manusia dengan "menuggu" dapat di artikan secara kurang ilmiah, namun terkadang dengan mengukur karakter dengan reaksinya pada menunggu, bisa lah sedikit kita paham.

Banyak para pejuang single, yaaang... hampir jarang sekali membuat postingan yang menekankan arti "menunggu".

Entah status dalam media sosial, entah like foto-foto bertajuk serupa, atau yang lain.

Lelaki atau pria, wanita atau cewe.. menunggu penyempurnaan makna kasih pada hidupnya masing-masing. Mungkin.

Ini kisah yang berbeda kawan, sebuah potongan pendek tentang penantian..

"Itu sayurnya kalo mateng, sisain dimangkok buat bapak", ujar ibu paruh baya, ah sekitar 44 tahun.

Kalimat itu berulang setiap 3-4 hari sekali dalam seminggu, entah kapan saja waktunya.. meskipun ia tahu, meskipun sang ibu tahu bahwa yang di nanti bak arah angin, tak terjangkau diperkirakan.
#End

Dari kisah sepenggal itu, barangkali arti menunggu menjadi anakan makna lain dari hakikat induknya..

#MeEndPov

24 Jul 2017

Kisah Pendek Angkasa

Sebuah kisah dari Angkasa, tentang hari dimana hatinya berpaling.
Meredupkan gemilang bintang yang bersorai menyambutnya, membiarkan tertambat, menyisakan nafas yang kabur..

Bulan indah yang tersambut begitusaja, meninabobokan egoisme manusia, iya.. ramadhan yang indah, penuh warna dan kenyataan bahwa ke Esa-an tetap ada. Tanpa dipungkiri, takdir-takdir tetap terpeta dan terjadwal rapih, pun di bulan yang menggemakan kemenangan ini..

Sesuatu bisa saja terjadi, pun saat ini.
Masa kemenangan yang kunanti dan yang sekaligus kuhindari. Dengan alasan yang berbeda.

Ini kisahku, orangnya belum pandai untuk cukup bersyukur, dan menutup semua kemungkinan untuknya. Untuknya tetap menikmati setiap takdir yang ada.

Bintang namaku. Awan kakaku, berkata bahwa aku anak yang berbeda dari bentuk karakter keluargaku. Kotak berdengung, itu karakternya. Mereka semua terbiasa dengan diam.

Iya benar, seperti ujarmu.. Ramadhan yang baiknya disambut dengan aura kasih dan cinta untuk sesama muslim. Tidak lagi, ia menjadi masa yang ku harapkan waktu berputar cepat di atasnya.

Tahun lalu. Baju baru, aura bahagia bersemarak, kami bertiga bersua setelah sekian lama. Hanya aku, yang terlalu emosional dan merasa momen itu teramat indah. Tanpa sadar kaki ku menari menggapai angkasa tiap melangkah bersama mereka, Kak Awan dan Pelangi, adikku.

Seusai shalat Ied, ayah melangkah santai, mudah saja ku sadari ia memalingkan wajah beberapa kali. Di sisinya berdiri dua sosok wanita yang tak ku kenali. Tersenyum, ah tidak. Senyum itu bukan untukku.. bukan untuk kami. Senyum itu.. untuk ayah.

Dalam perjalanan menuju rumah singgah saudaraku yang lain, tak dapat ku sanksikan wajah ibu yang berwarna abu-abu, biru dan sedikit guratan jingga. 
"Yah, siapa wanita dua ini yah? apakah saudaramu?", aku bertanya dengan sisa suaraku yang hilang bersama tiap rasa bahagia waktu itu.
"Hmm. ", ayahku bergumam tak jelas sembari menyetir mobil mencari bensin.

Kak Awan mulai mengambil camilan dan asik bermain gadgetnya. Pelangi sudah tenggelam dengan obrolan maya bersama teman SMAnya. Berubah, tak lagi ku kenal aura kala itu.

Aku terdiam dan memandang dua wanita di bangku tengah, mobil sesekali berhenti untuk memastikan alamat yang dituju. Bahu mereka kaku, bahkan saat mobil terguncang mereka diam saja seperti pahatan kayu tak rampung. Tapi mereka luwes sekali ikut membantu ibu menjaga kenyamanan ayah.

Yah, sudah lama sekali ku tahu hal ini. Sejak lama cerita itu merenggut irama bahagia dalam kisah hidupku.

Sore itu, dua tahun lalu. Ramadhan tinggal menghitung hari.
Pelangi duduk di bangku kelas 5 SD, menyampaikan dengan ekspresi yang tak tergambar.. Ayah telah meresmikan pernikahannya dengan wanita itu. Wanita dengan kerudung hijau di sisi kanan mobil. Teringat isak tangis ibu yang terasa menelan seluruh ruangan dengan warna biru abu, sesak. Aku terdiam, dan diam diam menghilangkan kekagumanku atas ayah.

Malam itu, satu tahun lalu. Ramadhan tinggal seminggu lagi.
Kami berdua saja seperti biasa, canggung. Aku tak terbiasa satu ruangan bersama ibu. Malam itu, ibu dan aku terbalut dalam suasana konyol yang dipaksakan.
"Bintang, jika ayah kembali menikah, apa pendapatmu?", suara tenang ibu terdengar menyayat sebab dipaksakan. 
"Hmm, ya.. @$@%@&%", aku mendengung tak jelas. Pun lupa apa yang ku pikirkan kala itu. Yang ku ingat, setelah itu aku segera pergi menuju teras rumah, menyembunyikan tangisku yang terasa memalukan.
Esoknya, kabar itu datang.
Ayah kembali menikahi seorang wanita yang kini sedang membuka kaleng biskuit untuk ayah, wanita berkerudung merah muda itu.

Ramadhan itu, tak satu patah katapun dari ayah. Tak ada penjelasan langsung.. kami dicukupkan dengan menelan tiap cerita dalam diam.

Awan tak lagi sehalus biasanya kala angin menyapa.. sekuat apapun ia nampak ceria dengan gumpalannya, ia tetap.. mengeras.
Pelangi tak lagi tersumbul bahagia, lengkungannya seperti menanti dibawa pergi badai kemarin.
Bintang, ia tak kehilangan kerlipnya.. berusaha melengkapi satu dua sisinya yang mati, berharap tak ada mata yang mengetahui.

Ramadhan ini, entah lagi.
Aku tak sadar apakah aku menanti.. 
atau menyiapkan hati, untuk kembali tersakiti..

#MePovEnd

23 Jul 2017

Barangkali

Barangkali ini adalah hal yang seringkali setiap orang renungkan..
Saat terdiam, tertawa bersama konco-konco, saat makan, saat menangis, saat mencoba menerawang dialog diri..

Ya, itu.
Apa yang sebenarnya kita butuhkan.
Tak jarang, barangkali, kita tertawa dalam kekosongan..
Terdiam dalam kebisingan, menelan kelaparan, menangisi kehampaan, terhempas didasar laut skrip dialog diri..
Ya, barangkali..

Tak jarang sebilah ketidakpuasan menghentak di dalam episode, dimana seharusnya kita cukup bersyukur, dan tenang.

Zhera, kawanku.
Barangkali ku lupa kapan terakhir kita bercakap. Barangkali fajar lalu.
Sekali tatap, lancar sekali ia bercerita, menyatakan pikirannya.

"He, entah apa yang aku rasa.. entah apa yang sampai saat ini kubutuhkan.
Seringkali di sudut kamar ku tersenggal, bertanya,
apakah aku butuh kasih sayang? ah, tapi orang lain barangkali ada yang benar benar membutuhkannya..
apakah aku butuh pengakuan? ah, barangkali ada orang lain yang lebih membutuhkan pengakuan..
apakah aku butuh penerimaan? ah, batangkali ada yang lebih lama merasakannya..
apakah aku butuh kepercayaan? ah, barangkali ada yang hampir saja mati lelah mencarinya..
He, entah apa yang ku butuhkan..
Tapi aneh, hingga kini.. sisi tubuhku tak pernah lalai untuk menyerngit kecut, seperti luka bedah terkena cuka. hehe."

Masih saja ia tertawa,
bahkan saat bajunya kini sudah basah lagi oleh lukanya. aneh.
Dia lebih memilih meringkuk kembali disudut kamarnya, pamit sekilas dengan senyumnya.

Ya, begitu.
Tak jarang manusia merasa kurang, yaa barangkali terasa saja ada yang tak ada.. sebab itu sifat manusia, kan?

Pun hal itu seringkali yang bisa menarik kita atas kekurangan itu. Mengisinya dengan cara apapun. Atau... yah, banyak kemungkinan lain yang bisa readers pikirkan..

Saat merasa kurang atau tak cukup, tak apa menangis.. kurang kuat dengan cobaan tugas? cobaan masalah? cobaan cibhian? >.<
Yah barangkali tak apa menangis.. tapi jangan lama-lama, yawn.
Sayang, sayang, air matanya buat yang kece kece aja :v

ex: Ortu bisa dinaikin haji, ipk kumlud, inget dosa, inget jodoh(?)#eh

yah gitu aja si,
barangkali.

#MeEndPov