Kata yang sampe saat ini bikin bergidik tiap denger.
Sounds like smthng menyakitkan yang orang orang berhati besar bisa lewatin. Gatau si aku ngefans bgt sama kalian kalian yang bertahan sejauh ini.
Karna menurut Revat, trauma itu bener bener menyakitkan.
Beda sama "ketakutan".
Siapa sih yang ga punya ketakutan?
Banyak.
Sebagian pilih biarkan,
Sebagian pilih diamkan,
Sebagian pilih bawa jalan.
Ketakutan juga relatif. Bisa dirasain ketika mendekati simptom tertentu atau bahkan ketika itu cuma dalam bentuk "ketakutan".
Revat pernah cerita kalo dia takut jadi sosok yang menyerupai orangtuanya.
Dia takut dan semakin takut, karena dia liat dirinya makin banyak miripnya.
Padahal, kata orang normal, "Ya pasti akan ada miripnya, antara anak sama orangtua".
Iya. Iya? Iya kan?
Tapi.. dia setakut itu.
"Gue cape banget setakut ini gilak. Kayak gak bisa berhenti jadi setakut itu. Bahkan cuma buat cari diri. Takut banget. Bokap sama nyokap gue sama sama terluka karna sikapnya dan terluka dengan hubungan mereka. Gue slalu...", Revat ga sesempet itu melanjutkan cerita.
Aku berjalan cepat ke arahnya dan menamparnya dua kali.
Aku berhenti,
dan memandanginya lekat lekat.
Dua tiga tamparan lagi, mengikuti.
"Reeeeeeevvvv!",
Aku menjerit bersama tamparan terakhir.
"Rev please..",
aku menggenggam tangannya dan mulai menangis.
"I cant handle your feeling dude.., but i will hold your hand whenever you need me", aku menunduk, ini berat.
Aku juga takut.
Aku juga takut. Aku setakut itu menghadapinya..
Aku takut memahami ia seterluka itu.
Aku takut.
Suatu hari, aku menjadi alasan dari ketakutannya yang lain.
....
Aku terbangun.
Terlalu pagi untuk kehilangan kantuk, terpejam sesaat.
Dan kembali lelah.
Menghembus kebingungan,
"Kenapa akhir akhir ini banyak yang terasa nyata?".