My fans

27 Mar 2021

Trauma?

Kata yang sampe saat ini bikin bergidik tiap denger.

Sounds like smthng menyakitkan yang orang orang berhati besar bisa lewatin. Gatau si aku ngefans bgt sama kalian kalian yang bertahan sejauh ini.

Karna menurut Revat, trauma itu bener bener menyakitkan.

Beda sama "ketakutan".

Siapa sih yang ga punya ketakutan?

Banyak.

Sebagian pilih biarkan,

Sebagian pilih diamkan,

Sebagian pilih bawa jalan.


Ketakutan juga relatif. Bisa dirasain ketika mendekati simptom tertentu atau bahkan ketika itu cuma dalam bentuk "ketakutan".


Revat pernah cerita kalo dia takut jadi sosok yang menyerupai orangtuanya.

Dia takut dan semakin takut, karena dia liat dirinya makin banyak miripnya.

Padahal, kata orang normal, "Ya pasti akan ada miripnya, antara anak sama orangtua".

Iya. Iya? Iya kan?

Tapi.. dia setakut itu.

"Gue cape banget setakut ini gilak. Kayak gak bisa berhenti jadi setakut itu. Bahkan cuma buat cari diri. Takut banget. Bokap sama nyokap gue sama sama terluka karna sikapnya dan terluka dengan hubungan mereka. Gue slalu...", Revat ga sesempet itu melanjutkan cerita.

Aku berjalan cepat ke arahnya dan menamparnya dua kali.

Aku berhenti,

dan memandanginya lekat lekat.

Dua tiga tamparan lagi, mengikuti.

"Reeeeeeevvvv!", 

Aku menjerit bersama tamparan terakhir.

"Rev please..", 

aku menggenggam tangannya dan mulai menangis.

"I cant handle your feeling dude.., but i will hold your hand whenever you need me", aku menunduk, ini berat.

Aku juga takut.

Aku juga takut. Aku setakut itu menghadapinya..

Aku takut memahami ia seterluka itu.

Aku takut.

Suatu hari, aku menjadi alasan dari ketakutannya yang lain.


....

Aku terbangun.

Terlalu pagi untuk kehilangan kantuk, terpejam sesaat.

Dan kembali lelah.

Menghembus kebingungan,

"Kenapa akhir akhir ini banyak yang terasa nyata?".



22 Mar 2021

Selfish Person

"Kebenaran itu, akan benar pada saatnya".


Untuk kamu,

Bagiku, rumah bukan tempat kembali, rumah adalah rumah, dengan segala isinya.

Dan ketika bertemu denganmu, aku bukan menemukan rumah. Aku menemukanmu. 

I found you as you are.


Bagiku, kenyamanan bukan rasa tenang, kenyamanan adalah nyaman, dengan segala rasanya.

Dan ketika aku bertemu denganmu, aku bukan menemukan kenyamanan. Aku menemukanmu.

I found you as you are.


Aku menemukanmu tanpa permintaan, aku menemukanmu bukan karena kesakitan, aku menemukanmu bukan ketika mencari kenyamanan.

I just found out, that you alive. Aint near, but enough.


Itu menjadi masalah.

Karena bersamamu, aku menemukanmu.

Tapi tidak denganmu. Kamu tidak pernah menemukanku.

Aku tidak membuat diriku ditemukan, aku lupa, aku kehilanganku terlampau lama.

Setiap inci tubuhku penuh luka. Aku baru ingat, setiap kenangan pelukanku adalah keterlukaan. Aku belum pernah belajar tentang pelukan kebahagiaan. Aku belum pernah belajar, tentang pelukan cinta.

Aku tidak memintamu menyembuhkannya, itu tanggung jawabku. Sungguh.

Aku mengatakan tentang ini itu perihal luka, agar ketika menyentuhmu, kamu tidak terkejut atas apa-apanya. Aku ingin, ketika menyentuku, kamu menemukanku.

"Apa kenyataan menurutmu?",

"Ketika kehadiranku, ditemukan".


Memori ini menyenangkan, aku terluka, kelelahan, bahagia, menangis dan tertawa, dengan kesadaran bahwa ini adalah aku. Dengan sebuah kisah ketanpaan.


Ya, aku masih egois.

Keberadaanmu akan masih sama.

Kan aku bilang, "aku jatuh cinta sekali saja".


15 Mar 2021

14 Mar 2021

Syarat

Ada syarat, entah tertulis entah nggak.

Tapi mewakili semua aspek ini yang berhubungan..


Semua memang bersyarat, bahkan tidak memiliki syarat, masih ada syaratnya.

Semua. Iya semua..

Berita baiknya, syarat di hadirkan untuk orang orang agar berjuang. Mendapatkan apa yang dimau, dan memiliki makna dari apa yang didapat.

Apa perjuanganmu?

Apa semua yang dilakukan untuk "persyaratan" yang ada? Mencapai kesempurnaan?


I dunno.

Menyadari diri gak layak sesuai standar persyaratan yang ada, menekanku untuk akhirnya berpikir, "Oke, lakuin dengan syaratku sendiri".

I did. Itu berhasil.

Tapi gagal ditengah manusia.

Ah iya.. mungkin memang, caranya salah.

Yel yel bersosial selalu sama, hal sulit, bagi diriku yang "sulit", menghadapi standar ini.


Sederhananya disampaikan begini,

Jika kamu mau berteman, jadilah teman untuk dirimu dulu

Jika kamu mau mencintai, cintailah dirimu dulu

Jika kamu mau memiliki, miliki dirimu dulu


Dang.

Aku stuck.

Standar terberat.

Mau kemana lagi?

"You need to be ok with your own".


Ok, belajar.

Iya, aku belum siap. Aku belum siap dari segi standar orang umum. Karna siapku berdasarkan ego atas syaratku.


Iya masih egois..

Selalu seperti biasa.

Jaman tk pun.

Minta diajari pecahan ketika tulisanku masih buruk rupa. Guru bilang, "jangan, tulisannya dibagusin dulu".

"Dan aku terluka".


Standar ini sangat menarik. Sangat sesuai dengan kebanyakan manusia. 

Ah astaga, berlebihan memang.

Mungkin hanya masih berduka, karena standarku jauh dari syarat dan harapannya.


13 Mar 2021

Aku dan Waktuku

Refleksi tentang waktu,

Baru sadar jika waktu dan aku bukan sohib yang akur. Kita layaknya tetangga yang aku belum tahu semua tentangnya, tapi hanya perihal suara keras atau hal semacam ini itu yang bercerita, dan aku memilih mendengar. Semuanya.

"Rasanya gamang",

Untuk jawaban waktu di tiap kesempatannya.

"Belum pantas mencintai"

Untuk pertanyaan yang tepat dari setiapnya.


Cara terbaik menghindari diri dari ketersakitan, sebuah sikap otomatis yang tak terkendali, dan waktu selalu mendengarnya.

Karena aku berteriak agar hanya dia yang mendengar.


Bukan perihal aku tersakiti,

Tapi diam diam, aku sadar, ternyata aku sengaja menyakiti. Sengaja mengejutkan dan sengaja memupuk benteng, melindungi diri dari jangkauan cakrawala.

Iya, masih takut.

Iya, masih lemah.

Iya, masih bodoh.

Iya, masih saja.

Lupa jika diri belum pandai, meramu rasa.


Waktu sering berkata, tapi aku kira aku sudah lupa, tapi ternyata hanya sedang ingin kembali punya cerita.

Ia berkata tentang, hatiku yang masih belum ditemukan. Terjatuh di puluhan tahun lalu, masa di antara tidak adanya masa dan massa. 

Di sela hari dimana aku menemukan dan kehilangan.

Detik dimana aku mulai kira, "Ayo, semua tentang majas saja, tentang apa yang tersamapaikan tanpa penjelasan".

Dan waktu menambahkan, "Semua orang hanya butuh the best part of you", dia ia pulang pergi dengan arogan.

Sialnya dia benar.

Sialnya waktu selalu benar.

Sialnya, ketika bersama waktu, aku tidak pernah sial.

Hanya terus saja membuat soal.

Karena aku takut masa sadar.

Karena aku takut masa, di mana aku tidak lagi bisa gentar.


Aku tidak menyesal.

Sebal saja dengan waktu, ketika dia menyadarkanku tentang, "Buru buru".