My fans

20 Feb 2017

Senja

Terkadang, ada warna-warna yang sesungguhnya tak bersuara~
.
.hai sang wahai,
potret sekilas yang menemani jalanku dalam diam beberapa hari lalu.
Pun dalam diam kugoreskan keindahan karuniaNya dalam bentuk serendah rendahnya sentuhan tangan manusia..
.
.Teringat betul malam itu, adik sudah terlelap terakibat kak rosnya sedang dirumah.
kemudian terlanjutlah percikan yang menjadi bara dengan sang ia hingga akhirnya menjadi kenyamanan tersendiri.. kenyamanan dalam diam seakan hidup dalam cermin yang berbeda.
.
.Tentang ketidak mampuan diri menahan ego.
malam itu.. potret kecil tak bersuara ini menjadi saksi bisu.
Dan entah, pun dalam bisu dan kosong.. tergoreslah kumpulan warna yang tadinya tak ada dan tak terarah..
.
. -Menanti Malam-

14 Feb 2017

Lukisan yang abstrak

Lukisan yang timbul di beberapa sisinya, cat minyak yang banyak.

Tersimpan dalam ruang gelap dan pengap dengan bingkai terbatas milik sang pengkoleksi.
Dikelilingi tembok putih pucat yang dingin, warna coretan berisik dari lukisan semakin terlihat jelas.

Warna biru dan abu abu pekat yang memberikan aura suram yang menakutkan, membentuk garis garis kerutan diberbagai bagian.

Dua goresan lain berwarna coklat dan merah maroon membentuk gurat tipis dibawah lekuk senyum yang tak ada, pun di beberapa bagian lain dengan lebih halus.

Latarnya adalah campuran lima warna kontras yang berbeda, ialah hitam, kuning, hijau daun, dan maroon.

Uraian bentuk rambutnya hampir sepenuhnya menutupi piggiran bingkai yang sedikit terbakar.

Yang menarik adalah goresan 4 cm dari bagian bawah lukisan yang membentuk bercakan darah yang pekat bersama biru lebam yang terkesan antik.

Sedikit percikan warna yang paling menonjol adalah warna putih kehijauan, membentuk garis melintang yang cukup jelas.

Disudut kiri bawah tertera tanda tangan sang pelukis,
-AKU-

1 Feb 2017

Yang Terbendung dengan Kokoh

Biasanya seperti ini memang..
sesak lagi..
pedas rasa nafas didalam dada.
sakit.

Selalu terbayang berendam di air yang banyak untuk sekedar melupakan, ya kutau hanya untuk sejenak.

Tentang sulitnya diri ini melalui pasir hisap dengan tenang. Aku terus meronta.
Menggapai apapun yang ku andai bisa menolongku, memijak apapun yang ku andai bisa menyanggahku.
Tiap hirupan nafas cukup sudah menutupi tiap kerongkongan.

Jatuh.

Entah sampai kapan aku tetap menjadi pengemis kasih, mengharap pertolongan pada yang mampu tersentuh..
Tersadar dengan baik, bahwa kunci termanis adalah menjadi tenang.
Sedang bila tenang.. aku takut.
Aku takut tak kuasa keluar dari pasir yang bergeming ini.
Takut..

Aku sepengecut ini, wahai angkasa..
Sedang legaku hanya mampu kubayangkan, sedang derai ini terasa hangat hanya sekejap dalam bayangan..
Aku tercekat.
Tercekik dalam rasa malu.. takut, tentang masa masa bertemu masing masing sosok berjuta senyum,

Lagi lagi tersadar,
aku tak sekokoh itu..
bahkan selalu kalah untuk melawan yang dicinta~

Masih disini wahai Yang Maha Mengetahui,
aku masih menanti beberapa warna lagi..
Kutahu, entah musibah entah anugrah.. Sang Mahligai penggenggam kisah, dengan apik memberikan yang terbaik~

#MePovEnd