My fans

19 Feb 2018

Waktunya Esai ^^

Halo Pemuda/i Indonesia!
Saya siap menjadi bagian dari Peserta Lomba Esai Nasional �Peran Pemuda sebagai Pemimpin Masa Depan dalam Mengatasi Permasalahan Indonesia� yang diadakan oleh Kelompok Peneliti Muda Universitas Negeri Jakarta.

Dan saya siap merebut hadiah : Tiket Liburan So
uth Korea (Include tiket pesawat PP, Hotel, Transportasi

, Makan dan Guide), Studi banding ke 3 Negara(Singapura, Malaysia, Thailand), Medali Emas, Perak dan Perunggu, dan E-Sertifikat untuk Semua Peserta.
Pendaftaran : www.bit.ly/REGLENKPM atau kunjungi @lombakpm

DEADLINE Pendaftaran 20 Februari 2018.

#LENKPM
#LombaEsaiNasional
#WinnerTripToSouthKorea
#WinnerTripTo3Countries
#WinnerGetDroneFPVWiFi
Jangan menyerah, itu  berat. Berjuang saja, dan terus mengusahakan kesuksesan di depan. ^^

Kamu tidak sendiri, jangan sedih. Jika senangmu hilang, kamu akan kembali sendiri. #EhApaanNih -____-

6 Feb 2018

De Ja, Vu . S2

Ini pertamakalinya anak itu memasuki bangunan itu.
Wanita yang membawanya sibuk melangkah cepat sembari memperhatikan peta bangunan di sudut kanan lorong yang cukup sesak, di kanan kiri dipenuhi orang paruh baya di bangku panjang berwarna hijau.
Dia kembali melangkah mengikuti wanita didepannya, sesekali berhenti sejenak ketika bertemu dengan beberapa orang.

'Bagus. Aku suka bangunan ini,  astaga! Lihatlah bahkan ada air terjun di taman itu!' Anak itu tidak pernah berhenti sedikitpun mengamati sekitarnya.

"Misi ya Dek,", seorang pria dengan masker mengejutkannya, ia segera beringsut mendekati tembok di sisi kanannya. Pria itu melenggang dengan kursi rodanya.

'Apa pria itu sedang malas berjalan?'

Sejenak dia berdialog dengan dirinya mengenai alasan pria tersebut berada di kursi roda. Tak hanya satu, bahkan ada anak kecil yang duduk manis di kursi roda, dengan sarung tangan berbahan kain, 'oh lihat! Sarung tangan itu terhubung dengan sebuah kantong air di ujung tiang pada sisi kanannya, anak itu apakah begitu lelah berjalan? Bahkan dibelakangnya seorang lelaki paruh baya mendorog kursinya dengan wajah lelah,'.

'Tempat yang unik'
Dia paham betul tempat apa itu, ia mencoba menghadirkan 'percakapan' untuk menemani diamnya.

Wanita dan anak itu mulai memasuki lorong yang berbeda, dengan banyak pintu.
Nampak lebih sepi dibanding sebelumnya.
Aroma pekat dari bangunan itu, dipadu dengan udara yang panas, menjadikan sensasi lelah ditiap helaan nafas. Berat. Entah apa yang anak itu fikirkan mengenai ini.

-R. Psikiater Anak-

Ia tertegun sejenak,
Sebelum duduk di bangku panjang yang berada tepat di sisi kanan pintu itu, ia sempat membaca tulisan itu, ia terbiasa membaca apapun yang ia lihat. Yah, itu hal biasa karena anak itu sudah mulai membaca tulisan di koran sejak umur 4 tahun.

Dalam diam anak itu berfikir keras, tentang makna psikiater yang tidak ia temukan dalam pengetahuannya.
Ia menyerah, dan mulai memainkan ujung krudung birunya.

'Bosan', ia mencoba turun dan menjelajahi lorong itu, namun langkahnya terhenti ketika namanya disebut oleh seorang wanita berjaket putih.

Ia mengikuti langkah kedua wanita itu, memasuki sebuah pintu.

'Dingin dan segar', sensasi pertama yang ia rasakan ketika memasuki ruangan itu.

Kedua wanita itu mulai becakap dengan nada yang penuh tekanan namum teramat pelan.

Anak itu mulai mengayun-ayunkan kakinya, 'mual' entah mengapa ia merasai mual sejak pertama duduk dikursi tinggi itu. Menggerakkan kakinya seperti memberi dukungan pada perutnya untuk menahan mual itu.

"Halo cantik, apa kabar..?", wanita itu tersenyum sembari menjulurkan tangannya.

Ah, ingatanku.
Hanya tergambar sesosok wanita dengan coretan pensil diwajahnya, bahkan aku tak mengingat sedikitpun tentang percakapan hari itu. Yang aku ingat, anak itu mulai memasang puzzle dengan santai, dan menggambar gunung sesuai gambar pertama yang ia lihat di ruangan itu.

#MePoveEnd

5 Feb 2018

Senandung Ilusi

Pelangi malam adalah sebuah proyeksi arti dari harapan
Mengagumkan dengan goresannya yang elegan
Ringkas saja buratan di lembar yang kelam itu
ku sebut itu rumah
Selalu menarik tuk di sarangi
Nyaman dan menyenangkan..
Namun raga ini payah dan kalah, Ia tak tergapai.
Bak meratapi senandung ilusi
Yang nyatanya tak pernah ada
Hanya bintang yang teronggok tak pasti
Satu dua, berbinar salah tingkah
Menyuarakan sisa cinta dengan sunyi

Angin dingin dalam gulita tiap pekan, tak bosan

Untuk Maha-ku

Sang Maha,
Kau ciptakan tiap tiap aku dengan sempurna..
Buih manis dalam kumparan kehidupan,
Kau dendangkan dalam awal nafas tunggalku.
Terujarkan, Kau islam.. kau selamat, hai manis.

Kini umurku telah cemburu dengan waktu
Lara menggelayut di pelupuk lautan langit
Menyaksikan aku yang tak tahu malu
Masih tertidur manis, sedikit menggeliat
Saudaraku mati, beriring detik lelapku

Sempurna apa makhluk ini Maha-ku?
Bilamana tak pandai sempurnakan imanku?
Manis hidupku, mengguras habis beradabnya kalbu.
Aku malu, Maha-ku
Ku tak pantas akan hidupku, Maha-ku

Bahkan nafasku tak kan pandai, bila orang lain tak sudi melahirkanku
Bahkan langkahku tak kan pandai, bila manusia lain tak ajarkanku
Lautan langit bersaksi, manusia lain hidup untuk menghidupiku
Maka hidupku, untuk tiap-tiap selainku

Aku padaMu, menuju pemuda beradab di Era Global bisu.

Bermimpi, Menangis, dan Melesatlah!

Wahai waktu..

Kini aku bertanya pada genangan yang diam
Menanyakan nasib jiwa mungil yang kian padam
Aku bertanya pada fatamorgana yang suram
Menanyakan generasi emas bangsa yang kau kecam

Karena diatas rumput hijau tak bernyawa
Jari kecil kan selalu tersenyum bahagia
Menjentikkaan alun melodi tanpa lara
Dan menari diatas nada-nada dunia

Karena dibawah langit biru tak berangin
Irama mimpi melambungkan asa yang berlantunan
Berlompatan mereka dengan riang tanpa keraguan
Menggapai tujuan dan angan bersamaan

Kini kau terbangun dan mulai menangis
Menangisi mimpi dan kenyataan yang tak dinamis
Aku hanya diam dan merengkuh wajahmu yang pias
Namun ku yakin hatimu bukanlah kapas

Percayalah waktu yang akan membalasnya..
Pejamkan matamu, dan berlarilah..
Karena yang terlemah akan menjadi yang terkuat

Generasi emas, yang lebih bersinar

Awal Fajar

Gua yang lembab
Tanpa kebisingan
Gelap dan sepi..
Saat yang tepat bagi kepekatan malam
Menyerbu dalam diam
menarikku kembali bersembunyi bersamanya

Takut
Detik yang menakutkan..
Jeritan yang terbungkam dan terabaikan
Kembali menari di atas dinding gua
Seakan nafasku mencekik tanpa beban

Larut..
Kian larut, terlalu larut mungkin
Larut yang sendu nan mencengkam
Kembali memaksaku meringkuk dalam kekosongan
Membisikkan harapan kosong dalam menanti..
Untuk datangnya yang dijanjikan..
Aku akan terus menantimu,

Awal fajar..

Aku Bosan, Yah.

Terduduk kaku dipojok lorong yang sesak
Ini, aku disini..
Kupingku pecah.
Mengotori lembar tugas yang tersumpal padat,
Seakan begah tumpang tindih di dalam tas kecil ini

Katamu aku harus belajar dengan benar, ya kan
Agar otakku encer.
Kupun tetap belajar dengan baik agar kau tersenyum
Ah, manisnya senyummu itu.

Satu dua puluhan piagam melatari ruang santaimu
Otakku semakin encer, kan yah?
Kau terenyum manis, saja
Lama- lama aku bosan yah.

Kepalaku terhuyung konyol pagi itu
Isinya cukuplah otakku yang encer
Terombak kecil ditiap langkah
Tak apa, katamu
Senyum manis itu lagi, ah

Sore itu,
Terduduk kaku di pojok lorong yang sesak
Cairan otak mendebur dengan garang, penuh, katanya
Kepalaku mengamuk, ingin dikosongkan.
Lelah menghadirkan ketidak nyamanan, hanya semakin penuh dan penuh
Kupingku pecah.

Bolehkah aku tak belajar sejenak?
Menekuri arti kebenaran sepertinya asik yah
Senyum manis itu mencicit kabur
Tak boleh?

Ah, Aku bosan yah.
Ku panggil sajalah engkau,
kampusku yang manis.
Ceracasku, agar di hari kelahiranmu nanti

Senyummu, Bijakmu

-Sebuah puisi lawas, dari beberapa masa di awal perkuliahan-

Sekarang Bagaimana?

Opini

Pendidikan Indonesia memiliki konsep pendidikan yang tidak jauh berbeda dari konsep pendidikan pada umumnya, pemegang filosofi pendidikan yang sangat dasar dan bahkan cukup memprihatinkan dibandingkan dengan berbagai negara lain yang menghadapi esensi dari pendidikan dengan cara yang bijak dan universal secara maknanya.