My fans

27 Feb 2019

Pinned

Kamu tahu pintu?

Memiliki variasi ukuran, bahkan kamu bisa melihat pintu berukuran dinding bagian depan rumahmu yang kokoh itu atau bahkan hanya seukuran kuku kelingkingmu.

Apa yang menarik?

Ya mungkin,
Hampir selalu semua pintu,
Memiliki lubang kunci yang lebih kecil dari ukuran pintu.

Pertanyaannya,
Kenapa kunci tiap pintu selalu berbeda-beda?


.
.

Wait.

Bagaimana jika kuncinya hilang?

Pikachu~

Pernah gak sih kejadian dimana kalian bergumam,

"Astaga, gue lupa cara ngobrol 😐"

Dan... Udah aja gitu, ngehang otaknya buat mencerna bahasan yang saling bertaburan di sekitar kamu?

Terus.. rasanya mau melipir.. nda keliatan.. merasa tenang ketika ga ada yang terganggu dengan ketidak jelasan kamu, dan merasa tegang, khawatir, cemas kalo ada yang notice keberadaan kamu?

Kalo nda..., selamat!
Kamu memenangkan serantang kol goreng!! ^^

Kalo iya?
Yuk sini, merapat.. kita ngobrol bareng tembok yang cantik ^^

#thats

20 Feb 2019

Revat 3.0 kamu dimana?

"Umi masih di jalan, kamu mandi aja dulu",
Mba Lita yang dengan garangnya menarik paksa tanganku hingga sampai di rumahnya, berujar tegas sambil meletakkan handuk di bahuku.

"Nanti aja dirumah mba..", aku takut-takut melirik mba Lita. Sebenarnya hanya alasan, kamar mandi rumah ini berada di lantai bawah, bersama dengan tempat memasak, dan cuci setrika baju. Apalagi rumah ini sedang ditinggal pemilik rumah lainnya yang masih di perjalanan dari pasar.

"Sini mba anter, sekalian mau masak malem", mba Lita berjalan mendahuluiku, aku mengekor cepat di belakangnya.

..
Sesudah mandi aku tidak menemukan keberadaan mba Lita. Hampir menahan nafas aku berlari menaiki tangga dan terus berjalan hingga ruang tamu.

Sedikit terkejut melihat umi dan abang yang sedang berpamitan dengan mba Lita. Mereka tidak melihatku, setelah mereka pergi, aku melangkah pelan mendekati mba Lita.

"Mba, umi ke rumah?", Aku bertanya sambil menggantungkan handuk di gantungan yang berada di depan rumah.
"Hayoloh diomelin nanti..", sambil pergi, mba Lita memercikkan aura mengerikan dengan tekanan suaranya.

"Mba aku pulang", sambil melangkah pelan, menuju rumah yang cukup jauh dari rumah mba Lita, suara sholawat yang menandakan adzan Maghrib mulai terdengar dari masjid terdekat.

Sesampainya di rumah, aku mengucap salam dan segera bersiap menuju masjid.

"Bang bareng", aku setengah berlari mengikuti langkah abangku yang sudah di depan rumah.

Aku penakut. Yah seperti anak kecil kebanyakan, takut sendiri, takut gelap. Tapi hanya takut, aku bisa berjalan sendiri sebenarnya, meskipun dengan kaki gemetar atau jantung yang berdetak tak normal, tapi aku merasa terbantu jika ada orang lain yang bisa menemani, karena ketakutan ku bisa meningkat 80% jika aku merasa ada orang lain disekitar. Paham nda? Heuheu

..
Seusai mengaji dan sholat isya di rumah.
Aku duduk di ruang tamu sambil menggambar. Abang masih di masjid, dan umi masih di kamar.

Krayon? Aku bukan pengguna krayon yang baik, aku lebih suka mewarnainya dengan warna pensil biasa, terlihat menarik menurutku.

'Krekk..

Pintu depan terbuka, abang langsung melangkah ke kamar meletakkan sarungnya.

Aku masih sibuk menggambar, semakin tenggelam bersama goresan yang ku buat.

'Grebb!

Hah?!
Tiba tiba bahuku di cengkram dengan kuat.
"Abang?", Aku menoleh ke arah Abang yang kini memegangi bahu dan menarik tanganku dengan kasar.

Aku sesosok anak TK dengan badan kecil, bahkan wajahku pernah diremas oleh sepupuku yang seumuran denganku hanya menggunakan satu tangan saat pertama bertemu dengannya. Tak ada kuasa, aku masih jengah.

Umi melangkah cepat ke arahku, menarik kakiku hingga berselonjor. Menyatukannya dan menggenggam erat dengan satu tangan.

Aku mulai menangis, takut.
Suara gemerincing terdengar keras ketika umi menjatuhkan uraian rantai yang sangat panjang dari toples bening.

'prang!!

'sring~ suara itu merasuki pikiranku, aku benci suara keras! tangisku semakin kencang.

Tanpa bisa bergerak, rantai itu mulai dililitkan dari pergelangan kakiku.

Terus bergerak semakin kencang hingga satu jengkal di bawah pinggang, sisa rantai dililitkan di tangan hingga pergelangan tangan bagian atas.

"Umi ampun... Umi ampun.. umi..",
Aku semakin menaikkan volume suara ku ketika mas dan umi mulai berdiri.

Tanpa sepatah katapun, ia menarikku dan memasukkan tubuhku hingga tembok, tepat di bawah box mainan yang memiliki celah cukup tinggi.

"Umii.. umi.. umi ampun..", aku mulai bergerak brutal ketika ia mengikatkan ujung rantai dengan ikatan asal di salah satu kaki box.

"Umiiiiiiii!!!", Aku bergerak semakin brutal dan berteriak sekuat tenaga ketika lampu ruang tamu di matikan dan ditutup.

Ya, umi menutup pintu yang sangat jarang di gunakan fungsinya, sekat antara ruang tamu dan rumah bagian dalam.

Deg'

Aku masih meronta dan berusaha menarik rantai dari kaki box.

Sakit'

Takut'

"Umi ampun.... Umi ampun..", suaraku mulai bergema di ruangan kosong itu.

Hampir setengah jam, aku masih meronta-ronta, berusaha melepaskan rantai yang mulai melukai kulitku.

Jangan.. jangan tinggalkan aku disini..
Revat? Revat kamu dimana?

"Umi ampun.. umi..", aku mulai terbatuk disela tangisku.
Suaraku mulai hilang,

Aku menarik tubuhku dengan telapak yang masih terbuka,

Gelap'
Lelah'
Takut...

"Rev.. ".
...

"Ra! Ra! Ra!!",
Suara wanita dibarengi sentakan ringan di lenganku.

"Dok, ini temen saya baru aja siuman tadi, tolong dok..", suara itu mulai bergetar dan melemah.

"Mba Rara? Anda bisa mendengar suara saya?", Aroma alkohol seketika menusuk hidungku, aku memaksa untuk membuka mata secara perlahan.

"D-ddimana saya?".

#chpt
#DeJavuS6

19 Feb 2019

Ask

Kenapa masih idup?


Karena masih diizinin Sang Esa dan adik bernama Nuha.

18 Feb 2019

Revat 2.0

Pagi itu masih sama, terasa kering dan sepi.
Ya, jalanan sekitar rumahku masih terbilang ramai penduduk, tapi sangat sepi.
Orang-orang lebih suka beraktivitas di waktu subuh hingga awal pagi dan sore hari menjelang tengah malam.

Disini aku sekarang, tempat favorit ku.
Bersandar malas di teras rumah nenek yang dingin.
Waktu matahari belum terlalu tinggi, pukul 9 siang adalah jadwal ku keluar rumah.

Umi sudah sibuk dengan pekerjaannya, dan abang ku sudah bermain keluar dari sebelum aku bangun.

"Ra!", Suara yang tak asing membuatku refleks menoleh ke sumber suara.

"Raaaa.. Revat nih, kamu liburnya sampe kapan?", Bocah itu ikut duduk bersandar di sisi lain teras.
Aku diam sejenak. Eh? Anak kecil yang kemarin ya?
Jujur saja aku memiliki kesulitan menghafal wajah orang. Payah.

"Eh iya, mm.. kata abang masuknya Minggu depan", bingung.

Yee! Minggu depan aku sudah TK nol besar!
Sebentar lagi aku dan abang akan satu kelas!
(Fikirku kala itu..)

Setelah jeda panjang yang diisi tanpa percakapan.
Tiba-tiba Revat berdiri dan mendekat.

"Main yuuuhhh, aku sekarang punya mainan bongkar pasang! Ada mobilnya sama warnanya bagus!", Dengan semangat yang sangat mengejutkan, dia mengajakku untuk bermain kerumahnya.

Mau? Mau! Satu-satunya mainan di rumahku hanya robot dan mobil yang dibelikan sekaligus dua, mas bahagia, aku? Aku ikut senang dan berusaha memainkannya jika bosan belajar.

"Aku bilang umi dulu ya, kamu dimana rumahnya?", Aku bertanya cepat sambil mengenakan sandal. Ah pasti akan menyenangkan!

"Di deket kali, sebelum terowongan", Revat sedikit berteriak karena aku sudah mulai berlari ke arah rumah.

Tenang, nenekku tak akan terganggu, mayoritas penduduk di sini adalah pedagang di pasar, termasuk nenek. Itulah kenapa daerah rumahku sering sepi.

Setelah mengatur nafas, aku memasuki rumah berpintu coklat itu.

"Mi.. aku mau main ke temen", aku melangkah pelan mendekati umi yang sibuk dengan mesin jahitnya.
"Rumahnya deket kali sebelum terowongan mi, kan deket rumah budhe, boleh ya mi?",
Sebenarnya aku terbiasa dengan larangan, maka saat ini aku mempersiapkan diri untuk tidak diperbolehkan, seperti biasa.

Setelah lama menunggu, sambil meraih kain coklat di sisi kanannya.
Tiba-tiba umi melirikku dan terkejut, dengan posisi sedikit bergerak mundur, umi langsung terjatuh dengan suara keras.

Aku jengah.
Eh?
Umi terdiam dan menunduk, sesaat dia mendengak ke arahku dengan wajah yang cukup mengejutkan.

Umi menangis..

Eh?
Hal konyol yang bisa kulakukan adalah,
dengan depat mengulang semua yang ku katakan sebelumnya, aku hanya teringat Revat yang menuggu, dan segera berlari keluar rumah setelah melihat umi mengangguk.

Setelah menutup pintu, aku mendekati jendela depan rumahku.
Jendela yang hampir dua kali lipat tinggi dan tiga kali lipat lebar tubuhku, dengan jelas dapat kulihat umi yang bergerak, kembali duduk di kursi plastik berwarna hijau dan mulai menjahit lagi.

Masih bingung.
Aku hanya melanjutkan langkahku menghampiri Revat.

"Taraaaa...", Revat menjatuhkan mainan yang ia janjikan dari sebuah kotak kardus.

"Keren kan?", Kembali menampilkan seringai pamer dengan gigi kelincinya.

Aku membulatkan mata, keren.
Mengambil kertas yang ikut terjatuh dan berseru dengan semangat ketika melihat aneka gambar dan formasi yang dibentuk dari mainan ini.

Aku bisa membaca koran sejak usia 2 tahun, kau ingat? Dan.. saat ini aku hanya melempar kertas itu sembarangan, karena memiliki kata-kata yang tidak ku kenal.

Revat mulai menyusun mainan dengan cekatan.
Aku? Aku memperhatikan tiap bagian, karena bentuknya yang berbeda-beda.
"Ini buat apa?", Aku mengangkat benda yang berbentuk bulat dan berlubang.

"Itu jadi orang nok", aku sedikit terperanjat ketika suara wanita dewasa menjawab pertanyaan ku.

"Ini diminum ya, sama ada jajan dimakan aja.. tumben Revat bawa temen ke rumah. Makasih ya..", wanita itu meletakkan nampan di atas meja.

Sambil tersenyum, mengacak-acak rambut Revat, sebelum akhirnya meninggalkan kamar Revat.

Yap, kami bermain di kamar Revat, lebih tepatnya di kasurnya yang lebar.

Sesaat setelah memasuki rumahnya, aku cukup kagum dengan kerapihan dan kesederhanaan di dalam nya.
Ibu Revat sedang menerima tamu, dan Revat langsung membawaku memasuki kamar.

Aku mulai sibuk membangun rumah-rumahan ala kerajaan.

Revat sedang sibuk membangun... Entahlah, seperti bangunan lurus yang sangat tinggi. Aku iseng menyenggol, dan...
'Pranngk..

Matanya sudah berkaca-kaca, aku buru-buru memberikan bangunan ku padanya.
Aku kembali membagun rumah dari awal.

Tanganku terhenti ketika mendengar suara umi memanggilku.

Revat menemaniku keluar rumah setelah pelan-pelan kembali mengajaknya berbicara.

"Eh Ra! Tadi umi nyari.. katanya mau ngajak pergi ke rumah Bila mau nganter pesanan", Seorang wanita paruh baya yang sering datang ke rumah nenek menyampaikan secara singkat, sebelum ia kembali melangkah pergi.

"Rev...", aku melirik Revat dan, Astaga! mukanya sudah sangat jelek. Bahkan sisa air mata sebelumnya masih berbekas.

"Siang aja pulangnya Ra", suaranya bergetar, menahan tangis.

Kami pun kembali ke rumahnya dan melanjutkan permainan. Aku juga senang, karena bisa minum air dingin yang selalu dilarang umi.

Saat ini pukul 1 siang, setelah cukup mengantuk, aku melihat Revat yang sudah tertidur pulas dengan hamburan mainan di badannya.

Aku beranjak turun dan pamit pada ibu Revat.

-Umi ke rumah Bila sama mas-

Aku terdiam melihat secarik kertas yang ditempel di pintu rumah.
Pintu rumah pun dikunci, biasanya jika rumah dikunci maka aku akan diajak pergi, karena umi akan pergi lama.

Terdiam beberapa saat,
Bila temen abang di TK kan ya?
Umi pernah bawa ke toko ka Bila beberapa Minggu lalu, aku ingat! Pasti mereka disana..

Aku berjalan santai
Lapar? Ah aku hanya ingin bertemu umi saat ini.

Aku terus melangkah, melewati pasar, mall besar sampai melewati rel kereta. Jaraknya kurang lebih, jika kamu orang Rawamangun, seperti dari Sunan Giri ke TUgas. Tidak jauh kan?

Di depanku kini, sebuah persimpangan jalan yang sangat luas. Ada 5 ruas jalan yang berbeda. Di salah satu sisi jalan itu, adalah Toko ka Bila.
Aku mulai berjongkok diujung trotoar.
Menunggu.

Umi akan keluar dari sana kan?

Aku hanya berfikir bahwa sangat berbahaya jika aku menyebrang sendiri, dan kini hanya menunggu sambil memperhatikan orang dan kendaraan yang lewat.

Hari mulai sore.

Sudah berkali-kali aku merubah posisi duduk, sesekali bermain di becak yang kosong dan berseru-seru ketika kereta melintas.

"Heh! Ngapain? Ayo sini pulang!", Sebuah tangan menepuk pundak ku agak keras. Aku menoleh refleks.

"Eh mba? Aku nunggu umii..", kembali memunggungi anak dari Budhe ku dan memandangi toko diujung jalan.

"Umi dimana? Heh udah mau Maghrib Ra! Ayo pulang aja nanti ketemu", ia menarik paksa tanganku.

Aku menurut dan melangkah pulang.

15 Feb 2019

Ra

Semakin sering memikirkannya, semakin ingin segera meninggalkan dunia manusia.

8 Feb 2019

Senang?

Menyenangkan itu gimana sih?
Ada nda ya orang yang gak suka terlalu senang?
Maksudnya, itu menyenangkan untuk merasa senang.
Tapi ketika itu terlalu menyenangkan... Hambar.

Seperti.. "ah ok itu cukup".

Dan merasa aneh banget ketika kesenangan itu terjadi pada waktu yang lama.

Tapi terkadang orang lebih suka untuk terus merasa senang. Iya kah?

Mungkin lebih ke, nda suka bener-bener terikat sama sesuatu, bahkan ketika sesuatu itu ialah sebuah kesenangan abadi.

Sesekali menjadi terluka, bukankah menyenangkan?

5 Feb 2019

Revat

Namanya Revat, dia selalu menemaniku sejak kecil. Sebulan setelah perpindahan ku ke kota asing ini, kota Tegal.

"Ssst, hei, sini main disini, anginnya sejuk", seorang lelaki kecil memanggilku dari atas tembok pembatas.

Sisi kiri rumahku adalah jurang, biasa digunakan oleh penduduk setempat untuk lokasilokasi pemb sampah. Beberapa meter dari tebing, ada hutan yang dialiri sungai dangkal.

Ku hapus air mata yang setengah kering, abangku jahat! Dia mempermainkan aku yang mengejarnya selama setengah jam hanya agar aku bisa ikut bermain.
Usai Dzuhur tadi, Abang bilang agar aku bergegas jika ingin bermain. Bahkan aku tak makan agar cepat bisa bergabung dengan Abang yang sebelumnya sholat di masjid.
Dia dan teman-temannya hanya tertawa dan melengos pergi, dengan sepedanya.

Aku melangkah mendekati pembatas.
"Sini duduk", dia mengelap sedikit ruang kosong di depannya.

Rambutnya coklat gelap, terlihat jelas karena saat ini matahari masih di puncaknya. Tingginya tidak jauh dariku, seumurankah?

"Yah cengeng! Hehe", dia hanya tersenyum dengan gigi kelincinya yang unik.

Pembatasnya tidak tinggi, hanya setengah dari badanku, setinggi anak TK pada umumnya.

"Kamu siapa?", Aku memicingkan mataku karena ledekan itu. Sandal yang ku kenakan, ku lempar ke depan rumah, takut terjatuh.

"Aku Revat, Asherevat", matanya lurus memandang hutan.

"Kamu takut setan?", Revat melirikku sekilas.
"Kata umi, gak boleh takut setan, nanti setannya seneng. Tapi jangan nonton Mumun, nanti manja kalo mau ke kamar mandi", aku mengingat wajah Abang yang meledekku saat takut tidur sendiri.

Tiba-tiba aku berdiri, menarik nafas dalam dalam dan berteriak layaknya orang yang berpidato tentang Rezim Pemerintah di Indonesia.

"Hei kamu para setan! Aku tidak takut pada kalian. Allah kata umi selalu bersama orang yang pemberani! Pergilah kau.. pergi!", Kemudian aku kembali duduk, entah kenapa, rasanya sedikit gamang.

Sosok di sebelahku sudah cekikikan, "Duh ni cewe ya! Haha.. Ra.. Ra.. ", dia tertawa sambil menutupi matanya.

Eh? Dia mengenalku?

Sebelum sempat bertanya, dia sudah melompat turun dan mengenakan sandalnya yang juga dilepas.

"Aku pulang dulu ya, di panggil ibu", dia meledekku dengan ekspresi menangis,
"Yak! Sana pulang",

Sebelum pergi dia sempat berbalik, "Capek tahu nangis, jangan nangis lagi, nanti kita main bareng yaa", dia berlari cepat, aku tak memperhatikan arahnya pergi.

Aku kembali terdiam, menatapi sungai yang terlihat menyegarkan.
Tiba-tiba aku memikirkan dari mana Revat tau ibunya memanggil, ah mungkin dia di beri waktu sebentar untuk bermain dan harus segera pulang.

Ok sekarang aku punya teman.

#chpt
#DeJavuS7

3 Feb 2019

Mencari Siapa..

Di depan cermin,
"Dek, besok-besok kalo mba tiba-tiba ga pulang lagi gapapa ya, kamu main sama yang lain".

Saat ini dia duduk di depanku, aku juga duduk, bersila.

Di depan kami sebuah kaca, kaca lemari yang tinggi namun lebarnya cukup memantulkan pemandangan yang takkan terlupakan.

"Kenapa mba?", dia terbiasa dengan lelucon ku. Heuheu
Mukanya datar saja.
Sedangkan, aku sekuat tenaga menelan rasa pahit.

"Dulu mba ditemuin umi di jalanan, lagi sendiri. Umur mba pas itu 3 tahun. Kecil, kurus kering, terus dibawa umi ke rumah".

Dia nyengir.
"Eh gak percaya?", Itu bagus jika dia menganggap itu lelucon.

"Liat aja, foto mba gak ada foto bayinya. Adanya dari mba umur 3 tahun lebih".

"Aku juga gak ada foto bayinya!", Dia mulai memikirkannya mungkin?
"Kamu mah.. mba kan tau pas kamu lahir sama pas bayi -_- lagian fotonya ada, tapi gak dicetak", aku mencubit pipinya yang seperti mochi coklat.

Aku mengajaknya mematuti pantulan cermin.

"Coba liat, mata kita beda.. idungnya beda, mulutnya, alisnya juga",

Deg.
Iya.. iya itu benar. Bahkan aku mengeceknya pada foto keluarga. Iya benar, aku berbeda..
Aku masih mencoba tenang dengan kenyataan bahwa golongan darahku berbeda. Namun kenyataa demi kenyataan.. hm

Ku berikan senyuman terbaik yang bisa ku usahakan pada bocah perempuan di depanku.

"Mba mirip mas? Mas kan masnya mba, jadi mba mbanya aku", dia mencoba menganalisis dengan lucunya.

"Mirip apanya?",

"....",
Dia senyam senyum ntah kenapa -,-'
Aku memeluk kepalanya yang mungil sekilas.

Bocah itu pun pergi, ntah main kemana.

Kembali mematuti cermin itu,
.
.
.
.

"Kamu siapa?".

•••

Aku terbangun.
Bahkan tak sempat membaca dialog 'aku dimana?! Apa yang terjadi padaku?!'

Berusaha keras menggerakkan tanganku, bergerak ke arah kepala.
"Ah kerudungku masih ada".

"Ra?",
Sebuah bayangan gelap mendekatiku. Buram. Mataku hanya menangkap cahaya terang dan sisanya buram.

Sesuatu didekatkan kearah wajahku, 'minyak telon-
Siapa ini? Kenapa dia tahu aku membenci minyak kayu putih?

"Mi..?", Suaraku terhenti,
Sebuah tangan berusaha membuka kerudung dan jaketku.

Tanganku tiba-tiba terisi tenaga, aku mendorong orang itu.
Dia bergeming.

"Ra, tenang ini aku, zhea!,
Cuma ada tim penyelamat yang cewe disini, tenang ya", dia meletakkan tanganku dengan perlahan.


'Ternyata..'
Satu butir mataku jatuh,
"Makasih Rabbi..", bisikku dalam hati.

Perlahan dan dengan cekatan, jaket dan kerudungku di buka.

Aku menahan nafas ketika lengan kiriku digerakkan.
"Tolong.. tolong itu yang di lengan kiri digunting aja", Zhea menyadari ekspresi ku yang kesakitan.

"Ra! Ra kamu dengerin aku aja yahh biar gak kerasa nanti", dia menyentuh bahuku agar aku mengalihkan dari rasa sakit saat di urus tim penyelamat dengan.. entah dengan apa.

"Zhe, ada minum ga?", Kembali terasa tenggorokanku sakit.

"Nanti yaa, plis plis lu fokus ke suara gua aja yak!", suaranya meninggi. Kepalaku berdenyut dengan kencang.
Zhea masih terbiasa dengan cara berbicaranya, mengikuti kebiasaan ku dalam menyebut aku-kamu. Gak harus gitu sebenernya Zhe..

"Okee.. pelanin suaranya ya", ku kerjapkan mataku, berusaha menangkap pantulan wajahnya. Oke saat ini aku cukup gugup. Semoga mataku baik-baik saja, karna.. hanya kiasan buram yang terlihat.

"Ra! Oke denger ya, ini hari Rabu, sekarang udah sore, mmm.. warna tenda disini bagus Ra! Ijo army gitu! Eh kamu ga suka yang gelap ya. Ini ada lampunya kok. Warnanya... Blabla..blaa..", dia meracau entah kemana intinya.

Tangan berlapis plastik, mengoleskan sesuatu pada wajahku. Menggerakkan tulang pipi dan telingaku beberapa kali. Kain mulai dibubuhkan di beberapa bagian.

Sakit. Entah tubuhku seperti tenggelam dalam semen.
Mencoba bernafas, "Air.., Zhe please..", aku menarik baju lengannya.

Dia pergi beberapa lama,
"Ra? Ini, pake sedotan ya, sedotannya kaya selang infus, panjang Ra, kamu tiduran aja ya minumnya".

Hambar.

"Zhe, aku mau freshtea.. yang manggis", aku meringis.

"Ya kali Raaa.."
Kami tertawa pelan.

"Mba, ini mbanya tangannya patah yang kiri... Terus...",

Belum selesai wanita itu menyampaikan kondisiku, tiba-tiba Zhea..
"Ahaha! Aduh mba udahan toh? Yuk ngopi dulu diluar..", Zhea mendorong orang-orang itu keluar.

Aku melongo.

•••
#Zhea POV

Di luar tenda penyelamatan.
"Zheaa itu Rara kenapa??", Sesosok lelaki tinggi menghampiri dan terli sangat khawatir.

"Pelan-pelan Rev suaranya!
Mbanya maaf mba, silahkan.. maaf tadi motong..", aku menggaruk tengkukku kikuk.
Mana iya Rara denger beginian dulu, pasti di masih shock.

"Jadi mba.. mba Rara tangan kiri patah, kita belum bisa dignosa kondisi kepalanya, tadi mbanya pas mba Zhea pergi, dia batuk darah, entah luka atau karena hal lain.., kakinya juga nda ngerespon saat saya tes, silahkan segera diperiksakan di RS terdekat, sebentar lagi tim lain datang, semoga mba Rara selamat sampai bawah, terimakasih saya ke dalam dulu",

Hening.

Revat, dia teman kecil Rara. Nama aslinya Asherevat. Paham betul Rara hanya sangat benci dilihat dengan tatapan mengasihani.

"Lo biasa aja ya Rev!", Aku melototi Revat.
"Zhe.. itu kenapa deres banget airnya.. cuci muka sana", Revat menggerakkan tangannya yang memegang sebotol air.

Aku tidak bisa menahannya! Bahkan aku terbayang wajah menyebalkannya untuk menyatakkan bahwa dia baik-baik saja.

"Bentar jangan masuk dulu, nanti gua kabarin". Aku mendengar panggilan parau Rara, setelah membasuh wajah aku melangkah masuk.
#ZheaPovEnd

•••

Jam 5.
"Zhe.. masih lama?", Mataku mulai membaik, Zhea memasuki tenda dengan girang.

"Raaa.. Abang kamu mau kepo masa, ini pake dul... Emm, Ra, kamu bangunkan?", Suara Zhea perlahan menghilang..

•••
#RavatPov

Masuk ga ya?
Rara udah sholat belum ya?
Hehe untung bawa minyak telon, Zhea juga sih, buat jaga-jaga.
Aihh perasaannya gak enak nih.
Tim yang baru kok belum Dateng ya?
Coba cek ah.
#RavatPovEnd
•••

Dunia berputar.
Aku merasa Zhea berlari kesana kemari.
Aku mencoba menggapai Zhea.
Tidak. Aku tidak merasakan pergerakkan apapun pada tanganku.

"Zhya.. aqe..", eh? Kenapa mulutku?

"Ra? Kamu bangun kan?", Suara Zhea seperti tenggelam dengungan di kepalaku.

"Badyn kannan da keasa(badan kanan gak kerasa)", Sebisaku kuucapkan kata singkat agar Zhea paham. Masih dalam keadaan terpejam, aku mendengar beberapa orang datang.

"Zheeee.. Raaa.. ini ada...", Sekilas kudengar suara Ravat.

Setelahnya aku merasa diangkat, sebelum benar-benar kehilangan kesadaran.

#Chpt
#DeJavuS5

2 Feb 2019

Ku mencoba mengenali beberapa diriku yang lain, mungkin mereka hanya lelah menegak buaian langit..