Di depan cermin,
"Dek, besok-besok kalo mba tiba-tiba ga pulang lagi gapapa ya, kamu main sama yang lain".
Saat ini dia duduk di depanku, aku juga duduk, bersila.
Di depan kami sebuah kaca, kaca lemari yang tinggi namun lebarnya cukup memantulkan pemandangan yang takkan terlupakan.
"Kenapa mba?", dia terbiasa dengan lelucon ku. Heuheu
Mukanya datar saja.
Sedangkan, aku sekuat tenaga menelan rasa pahit.
"Dulu mba ditemuin umi di jalanan, lagi sendiri. Umur mba pas itu 3 tahun. Kecil, kurus kering, terus dibawa umi ke rumah".
Dia nyengir.
"Eh gak percaya?", Itu bagus jika dia menganggap itu lelucon.
"Liat aja, foto mba gak ada foto bayinya. Adanya dari mba umur 3 tahun lebih".
"Aku juga gak ada foto bayinya!", Dia mulai memikirkannya mungkin?
"Kamu mah.. mba kan tau pas kamu lahir sama pas bayi -_- lagian fotonya ada, tapi gak dicetak", aku mencubit pipinya yang seperti mochi coklat.
Aku mengajaknya mematuti pantulan cermin.
"Coba liat, mata kita beda.. idungnya beda, mulutnya, alisnya juga",
Deg.
Iya.. iya itu benar. Bahkan aku mengeceknya pada foto keluarga. Iya benar, aku berbeda..
Aku masih mencoba tenang dengan kenyataan bahwa golongan darahku berbeda. Namun kenyataa demi kenyataan.. hm
Ku berikan senyuman terbaik yang bisa ku usahakan pada bocah perempuan di depanku.
"Mba mirip mas? Mas kan masnya mba, jadi mba mbanya aku", dia mencoba menganalisis dengan lucunya.
"Mirip apanya?",
"....",
Dia senyam senyum ntah kenapa -,-'
Aku memeluk kepalanya yang mungil sekilas.
Bocah itu pun pergi, ntah main kemana.
Kembali mematuti cermin itu,
.
.
.
.
"Kamu siapa?".
•••
Aku terbangun.
Bahkan tak sempat membaca dialog 'aku dimana?! Apa yang terjadi padaku?!'
Berusaha keras menggerakkan tanganku, bergerak ke arah kepala.
"Ah kerudungku masih ada".
"Ra?",
Sebuah bayangan gelap mendekatiku. Buram. Mataku hanya menangkap cahaya terang dan sisanya buram.
Sesuatu didekatkan kearah wajahku, 'minyak telon-
Siapa ini? Kenapa dia tahu aku membenci minyak kayu putih?
"Mi..?", Suaraku terhenti,
Sebuah tangan berusaha membuka kerudung dan jaketku.
Tanganku tiba-tiba terisi tenaga, aku mendorong orang itu.
Dia bergeming.
"Ra, tenang ini aku, zhea!,
Cuma ada tim penyelamat yang cewe disini, tenang ya", dia meletakkan tanganku dengan perlahan.
'Ternyata..'
Satu butir mataku jatuh,
"Makasih Rabbi..", bisikku dalam hati.
Perlahan dan dengan cekatan, jaket dan kerudungku di buka.
Aku menahan nafas ketika lengan kiriku digerakkan.
"Tolong.. tolong itu yang di lengan kiri digunting aja", Zhea menyadari ekspresi ku yang kesakitan.
"Ra! Ra kamu dengerin aku aja yahh biar gak kerasa nanti", dia menyentuh bahuku agar aku mengalihkan dari rasa sakit saat di urus tim penyelamat dengan.. entah dengan apa.
"Zhe, ada minum ga?", Kembali terasa tenggorokanku sakit.
"Nanti yaa, plis plis lu fokus ke suara gua aja yak!", suaranya meninggi. Kepalaku berdenyut dengan kencang.
Zhea masih terbiasa dengan cara berbicaranya, mengikuti kebiasaan ku dalam menyebut aku-kamu. Gak harus gitu sebenernya Zhe..
"Okee.. pelanin suaranya ya", ku kerjapkan mataku, berusaha menangkap pantulan wajahnya. Oke saat ini aku cukup gugup. Semoga mataku baik-baik saja, karna.. hanya kiasan buram yang terlihat.
"Ra! Oke denger ya, ini hari Rabu, sekarang udah sore, mmm.. warna tenda disini bagus Ra! Ijo army gitu! Eh kamu ga suka yang gelap ya. Ini ada lampunya kok. Warnanya... Blabla..blaa..", dia meracau entah kemana intinya.
Tangan berlapis plastik, mengoleskan sesuatu pada wajahku. Menggerakkan tulang pipi dan telingaku beberapa kali. Kain mulai dibubuhkan di beberapa bagian.
Sakit. Entah tubuhku seperti tenggelam dalam semen.
Mencoba bernafas, "Air.., Zhe please..", aku menarik baju lengannya.
Dia pergi beberapa lama,
"Ra? Ini, pake sedotan ya, sedotannya kaya selang infus, panjang Ra, kamu tiduran aja ya minumnya".
Hambar.
"Zhe, aku mau freshtea.. yang manggis", aku meringis.
"Ya kali Raaa.."
Kami tertawa pelan.
"Mba, ini mbanya tangannya patah yang kiri... Terus...",
Belum selesai wanita itu menyampaikan kondisiku, tiba-tiba Zhea..
"Ahaha! Aduh mba udahan toh? Yuk ngopi dulu diluar..", Zhea mendorong orang-orang itu keluar.
Aku melongo.
•••
#Zhea POV
Di luar tenda penyelamatan.
"Zheaa itu Rara kenapa??", Sesosok lelaki tinggi menghampiri dan terli sangat khawatir.
"Pelan-pelan Rev suaranya!
Mbanya maaf mba, silahkan.. maaf tadi motong..", aku menggaruk tengkukku kikuk.
Mana iya Rara denger beginian dulu, pasti di masih shock.
"Jadi mba.. mba Rara tangan kiri patah, kita belum bisa dignosa kondisi kepalanya, tadi mbanya pas mba Zhea pergi, dia batuk darah, entah luka atau karena hal lain.., kakinya juga nda ngerespon saat saya tes, silahkan segera diperiksakan di RS terdekat, sebentar lagi tim lain datang, semoga mba Rara selamat sampai bawah, terimakasih saya ke dalam dulu",
Hening.
Revat, dia teman kecil Rara. Nama aslinya Asherevat. Paham betul Rara hanya sangat benci dilihat dengan tatapan mengasihani.
"Lo biasa aja ya Rev!", Aku melototi Revat.
"Zhe.. itu kenapa deres banget airnya.. cuci muka sana", Revat menggerakkan tangannya yang memegang sebotol air.
Aku tidak bisa menahannya! Bahkan aku terbayang wajah menyebalkannya untuk menyatakkan bahwa dia baik-baik saja.
"Bentar jangan masuk dulu, nanti gua kabarin". Aku mendengar panggilan parau Rara, setelah membasuh wajah aku melangkah masuk.
#ZheaPovEnd
•••
Jam 5.
"Zhe.. masih lama?", Mataku mulai membaik, Zhea memasuki tenda dengan girang.
"Raaa.. Abang kamu mau kepo masa, ini pake dul... Emm, Ra, kamu bangunkan?", Suara Zhea perlahan menghilang..
•••
#RavatPov
Masuk ga ya?
Rara udah sholat belum ya?
Hehe untung bawa minyak telon, Zhea juga sih, buat jaga-jaga.
Aihh perasaannya gak enak nih.
Tim yang baru kok belum Dateng ya?
Coba cek ah.
#RavatPovEnd
•••
Dunia berputar.
Aku merasa Zhea berlari kesana kemari.
Aku mencoba menggapai Zhea.
Tidak. Aku tidak merasakan pergerakkan apapun pada tanganku.
"Zhya.. aqe..", eh? Kenapa mulutku?
"Ra? Kamu bangun kan?", Suara Zhea seperti tenggelam dengungan di kepalaku.
"Badyn kannan da keasa(badan kanan gak kerasa)", Sebisaku kuucapkan kata singkat agar Zhea paham. Masih dalam keadaan terpejam, aku mendengar beberapa orang datang.
"Zheeee.. Raaa.. ini ada...", Sekilas kudengar suara Ravat.
Setelahnya aku merasa diangkat, sebelum benar-benar kehilangan kesadaran.
#Chpt
#DeJavuS5