My fans

2 Des 2017

Kenapa Begitu Rumit?

Hidup akan terasa begitu ringan, ketika kita memaknai bahwa hidup ini bukanlah kehidupan yang kekal dan tak berujung..




Tahukah kamu?
Bahwa..
Sebagian golongan menyatakan bahwa kehidupan yang sesuai adalah, dimana selalu dihadirkannya kesetaraan dan penyamarataan taraf hidup dan kebahagiaan di dalamnya. Puncak kejayaan adalah pernak pernik kehidupan yang wajib dirasakan sekoloni, secara bersama dalam satu kelompok atau populasi tertentu.

Banyak hal yang terlalu rumit dalam pemisahan pada tiap pernyataan mengenai suatu hal tersebut untuk akhirnya dapat diuraikan dan menghasilkan sebuah solusi untuk mengentaskan pertanyaan dan kondisi berat akan kebenaran di sisi-sisi tertentu.

Pernyataan mengenai kebangkitan PKI adalah sebuah fenomena yang dihadapi tiap individu dengan responnya masing-masing.
Ada yang seketika menjadi begitu sensitif dengan perangkat-perangkat Komusnisme dalam bentuk simbol atau perilaku yang tersemat pada banyaknya jenis penguaran ideologi dan kebebasan berpendapat pada masa kini.
Ada juga yang menyambut dengan penguatan diri atas pemahaman pada hak dan batil yang ia tanamkan pada diri dan cara berfikirnya, pun ada juga yang mulai mempertanyakan mengenai situasi tersebut, dimana awalnya ia bahkan belum memahami masing-masing konstruk masalah atau isu yang memiliki titik awal yang dapat ditelaah untuk meningkatkan kemampuan menganalisis masalah terkait isu tersebut,

Bagaimana dengan Anda? mungkin memiliki sisi kreatif dalam menghadapi pernyataan semacam ini yang akan menarik jika kita diskusikan ^^

Golongan ini sendiri memiliki perlawanan yang cukup sengit dengan golongan orang yang memiliki keyakinan kapitalisme.

Dengan pendeknya penyimpulan yang saya coba sederhanakan mengenai konsep kapital adalah, bahwa dalam tatanan bahasa Indonesia yang baik dan mandraguna, kapital atau huruf kapital adalah huruf besar yang hanya berada pada kondisi-kondisi tertentu, bisa berada di awal kalimat, di tengah, maupun di akhir. Namun satu hal yang menyamakan dengan satu dan yang lainnya adalah bahwa huruf kapital hanya ada di awal kata, Awal dari penyebutan tertentu, yang memiliki kualifikasi tersendiri yang menjadi pedoman bagi warga Indonesia untuk diikuti dalam usaha penyempurnaan penulisan. Semakin spesial suatu kata atau dalam kondisi serupa, maka semakin vokal penekanan kapital dan semakin ditiriskan huruf kecil yang menyambanginya, seperti penulisan singkatan.
Konsep penulisan ini sendiri, dipahami dengan konsep yang serupa oleh berbagai Negara di dunia. Konsep pembedaan, pemberiaan kehususan dan keistimewaan yang mencolok pada huruf-huruf yang dimaksud, dan menjadikannya berbeda dari kawan satu kata, bahkan kalimat yang terikat dalam satu nafas.

Pihak ini memiliki titik kenyamanan pada kondisi dimana ia dininabobokan oleh hirarki yang ada, keberadaan peningkatan dalam kesamaan yang hakiki. Penekanan bahwa, manusia akan bahagia bila menempati posisi yang lebih tinggi diantara lainnya, dan memiliki kenyamanan bahwa menampakkan yang tidak dimiliki orang lain adalah hobi yang epik.

Pergulatan ideologi yang diasuh bersama dalam satu momongan, menjadikannya keterikatan yang bersinggungan, semakin kentara dan saling memandang bahwa perihal yang salah adalah pendosa, dan yang satunya adalah lingkaran kebaikan yang sesuai dengan ideologi negara.

Mungkin perihal ini bisa dirunut agar lebih menarik, dengan di tarik pada pertanyaan, apa pertanyaan yang memulai lahirnya perpecahan ideologi ini?

Mungkin jawaban singkat akan mudah tercetus, "Karena Kebutuhan".
Kebutuhan yang sama dengan lahirnya penuntutan kesetaraan pada pendapatan hak wanita, pendapatan hak kemerdekaan suatu negara, dan hak-hak manusia yang dituntut dengan cara-cara tertentu, yang seringkali diabaikan bahwa terdapat kenyataan, hak sendiri dipandang dengan cara yang beragam oleh masing-masing individu.
Pun ketika ia berada dalam satu langkah yang sama.

Masing-masing mengusungkan teori yang menguatkan pandangannya akan hakikat manusia. Hakikat anu anu dalam per anuan manusia yang una inu.
Didasari kebutuhan, perasaan bahwa idealnya kehidupan "bukan begini, tapi begitu"

Ini terlalu singkat barangkali, menghakimi dua ideologi raksasa yang sudah brewokan(?) dan memiliki kerumitan yang tidak rumit dalam memperumit kerumitan itu sendiri.

Barangkali ekor-ekor yang mengamini salah satu paham tersebut, memiliki ketidak tahuan dari kebutuhan awal yang menjadi trigger yang mengawali itu sendiri.
Seperti yang disampaikan oleh seorang kawan yang mulai mendalami ideologi komunis yang nyatanya memiliki awal tujuan yang sama namun tidak menyerupai kebanyakan pemahaman pada paham yang dipahami oleh kebanyakan orang.

Dalam hal ini, saya mencoba menarik sesuatu yang mungkin lebih ringan dan meringankan, insyaAllah.

Kawan, kenapa kita begitu sibuk mempertikaikan sesuatu yang dasarnya memberatkan dan merumitkan?
Sebab jauh sebelumnya,

Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.” (Ghafir: 44)

Fenomena yang mampu mengaliri suka cita penyambutannya melalui getaran dedaunan dan keheningan yang menyejukkan, ketika yang mengakhiri risalah rasul hadir untuk menyempurnakan. 
Assalam, hanya makna keselamatan dari apa-apa yang ia sampaikan. Islam.

Kenapa islam begitu mudah menyeruak rongga-rongga hati yang kusam? sebab hati-hati itu mengetahui ketidak tahuan. Hati-hati yang akhirnya menangisi kesejukan yang akhirnya berembus didadanya.

Islam menghadiri konsep hakikat manusia untuk berjamaah, sekaligus dipimpin oleh satu imam yang dipercayakan. Saling menyilang selang seling dalam kebersamaan dan kesetaraan hak, dan memimpin untuk menjaga dan memberi. 
Cukup. Sebab ia menyempurnakan.

Maka kembali pada pernyataan atas koreksi mengenai konsep kehidupan yang rumit, dan saling bertanya dengan bobot pemahaman yang meyakinkan ia untuk semakin terhimpit ketidak tahuan. Sebab yang mereka tentukan, barangkali adalah atas ketidak pahaman.
Allahu 'alam.

Sebab ini dan itu menjadi mudah, ketika menyadari diri dan alasan dihadirkannya diri pada diri yang merasa terkuasai dan menguasai diri, bahwa diri kita bahwa bukan milik kita. Pun tentang pendirian dan usaha berdiri itu sendiri.
Maka canangkanlah.. pun pribadi ini masih berusaha dalam memahaminya, bahwa segalanya menjadi mudah ketika kita memahamiNya.. memahami titahNya.. memahami cintaNya..

#Me End Pov


20 Nov 2017

De Ja, Vu

Seorang anak usia 8 tahun, sedang duduk dengan pikiran kosong..
Bukan perihal ia sedang depresi atau sejenisnya, ia hanya.. sedang berhadapan dengan seseorang yang juga duduk di sofa besar itu.
Sofa yang nyaman, kau tahu?
Duduk sedetik diatasnya, mampu membuatmu merasakan perjalanan angkasa dalam santai~
Namun anak itu hanya berdiam, memikirkan permainan apa yang selanjutnya ia comot dari tumpukan kotak mainan.

"Ra, kamu mau gimana?", suara itu dalam dan bergetar.
"Kenapa bu?", sang anak hanya menatap kosong dengan sedikit mengangkat alisnya dengan jenaka.
Diam diam ia merasai dadanya yang berdegup. Hatinya hampir mencelos, ia baru lagi berbicara tatap muka dengan ibunya, setelah insiden 2 tahun lalu.
"Sha, tadi ibu dari sekolah. Mereka menyatakan kamu,.. di skors sebulan.".
Suaranya kosong.. ingatanku tak menangkap dengan baik suara-suara itu.
Tapi lihat,
Matanya tajam dengan kilauan air mata tertahan dari sosok itu. Menegaskan emosi yang terkunci dalam suaranya..
"Hm", anak itu masih diam.
Dia hanya mencoba memainkan kulit disekitar ibu jarinya yang mencuat. Matanya bertanya pada remah-remah kuku kecilnya.
'Lantas apa..? diskor itu apa? kenapa ini terasa menegangkan?'
Dan diam.

"Besok kamu ga ke sekolah, ikut ibu besok pagi ya".
Anak itu sadar betul, sosok itu tetap memperhatikannya beberapa saat sampai ia mengangguk.
Percakapan itu selesai.

-To Be Continue
#MePovEnd

12 Okt 2017

Sesekali Dia

Si dia,

dia pelopor awal bagiku.
Aku menyukai suatu tren karena dia menyukainya,
Aku menyukai salah satu grup bola karena dia menyukainya,
Aku menyukai suatu permainan online karena dia menyukainya,
Aku menyukai bersosial karena ia memintaku menemaninya,

Iya dia, adikku.

Ah ya, tak terlalu banyak alasan untukku menyukai sesuatu
apalagi jika orang yang bermakna bagiku pun merasai sesuatu pada hal itu.

Secara hemat, ini disebut modeling.
Betapa kita mudah/ tanpa sadar terbawa suatu arus tanpa banyak alasan/ bahkan banyak alasan.. yang diawali dengan melihat "si dia" melakukan/ menyukai sesuatu.

Jadi,
siapa yang memaknaimu?
akan kau apakan korbanmu itu?
iya, korban kehadiran auramu itu.

1 Okt 2017

Tanya Jawab

Dosen. Jadi dari hasil penjelasan presenter tadi, apa topik yang bisa kita diskusikan?

Mhsw. Mungki  itu ya pak, bahkan untuk melontarkan suatu pertanyaan.. kita harus punya ilmunya, punya segelintir pemahaman terkait hal yang mau kita tanyain.

Dosen. Oke.. Ada yang bisa kasih contoh?

mhsw1. Apel gak akan ditanya kenapa bisa jatuh tanpa dia tahu sumber ilmu terkait itu. (bisa jadi)

Mhsw. Mungkin itu ya, dua hari lalu, kita semua denger pertanyaan tentang "Kenapa sih PKI dianggap jahat? kenapa PKI di minoritasin?, dll"
Barangkali pertanyaan semacam itu bisa terjawab kalo sumber ilmunya dicari atau dipikirkan dari wawasan/ bacaan terkait, sebelum itu dipertanyakan. Pertanyaan yang ingin di dapat jawabannya dengan dibantu usaha mencari jawaban adalah keingintahuan, seperti yang dilakukan 'si pencari alasan apel jatuh'. Jika pertanyaan ditanyakan begitu saja.. barangkali itu hanya komentar atas apa yang terjadi, mungkin.. komentar 'kosong'.

27 Jul 2017

Yang Selalu Menunggu

Cie judulnya :v
pfth \~^~/

ah, co cwit kah?
hehe.. ga lah ya, biasa aja ^^

Menunggu.
Menunggu adalah sebuah kata yang memiliki makna akan banyak hal. Intinya barangkali ialah tentang, "menanti kesempatan", seringkali dibumbui harapan.. keikhlasan.. kekecewaan.. kepasrahan.. kekesalan.. dan.. kerinduan.

Menunggu.
Menanti kesempatan bertemu yang dinanti, entah manusia, kesempatan, jawaban, perkataan, atau.. takdir secara keseluruhan.

Ya si, itu koreksi aja, menunggu dan menanti barangkali sama.. tapi daku menggunakan dengan cara yang berbeda~

Manusia dengan "menuggu" dapat di artikan secara kurang ilmiah, namun terkadang dengan mengukur karakter dengan reaksinya pada menunggu, bisa lah sedikit kita paham.

Banyak para pejuang single, yaaang... hampir jarang sekali membuat postingan yang menekankan arti "menunggu".

Entah status dalam media sosial, entah like foto-foto bertajuk serupa, atau yang lain.

Lelaki atau pria, wanita atau cewe.. menunggu penyempurnaan makna kasih pada hidupnya masing-masing. Mungkin.

Ini kisah yang berbeda kawan, sebuah potongan pendek tentang penantian..

"Itu sayurnya kalo mateng, sisain dimangkok buat bapak", ujar ibu paruh baya, ah sekitar 44 tahun.

Kalimat itu berulang setiap 3-4 hari sekali dalam seminggu, entah kapan saja waktunya.. meskipun ia tahu, meskipun sang ibu tahu bahwa yang di nanti bak arah angin, tak terjangkau diperkirakan.
#End

Dari kisah sepenggal itu, barangkali arti menunggu menjadi anakan makna lain dari hakikat induknya..

#MeEndPov

24 Jul 2017

Kisah Pendek Angkasa

Sebuah kisah dari Angkasa, tentang hari dimana hatinya berpaling.
Meredupkan gemilang bintang yang bersorai menyambutnya, membiarkan tertambat, menyisakan nafas yang kabur..

Bulan indah yang tersambut begitusaja, meninabobokan egoisme manusia, iya.. ramadhan yang indah, penuh warna dan kenyataan bahwa ke Esa-an tetap ada. Tanpa dipungkiri, takdir-takdir tetap terpeta dan terjadwal rapih, pun di bulan yang menggemakan kemenangan ini..

Sesuatu bisa saja terjadi, pun saat ini.
Masa kemenangan yang kunanti dan yang sekaligus kuhindari. Dengan alasan yang berbeda.

Ini kisahku, orangnya belum pandai untuk cukup bersyukur, dan menutup semua kemungkinan untuknya. Untuknya tetap menikmati setiap takdir yang ada.

Bintang namaku. Awan kakaku, berkata bahwa aku anak yang berbeda dari bentuk karakter keluargaku. Kotak berdengung, itu karakternya. Mereka semua terbiasa dengan diam.

Iya benar, seperti ujarmu.. Ramadhan yang baiknya disambut dengan aura kasih dan cinta untuk sesama muslim. Tidak lagi, ia menjadi masa yang ku harapkan waktu berputar cepat di atasnya.

Tahun lalu. Baju baru, aura bahagia bersemarak, kami bertiga bersua setelah sekian lama. Hanya aku, yang terlalu emosional dan merasa momen itu teramat indah. Tanpa sadar kaki ku menari menggapai angkasa tiap melangkah bersama mereka, Kak Awan dan Pelangi, adikku.

Seusai shalat Ied, ayah melangkah santai, mudah saja ku sadari ia memalingkan wajah beberapa kali. Di sisinya berdiri dua sosok wanita yang tak ku kenali. Tersenyum, ah tidak. Senyum itu bukan untukku.. bukan untuk kami. Senyum itu.. untuk ayah.

Dalam perjalanan menuju rumah singgah saudaraku yang lain, tak dapat ku sanksikan wajah ibu yang berwarna abu-abu, biru dan sedikit guratan jingga. 
"Yah, siapa wanita dua ini yah? apakah saudaramu?", aku bertanya dengan sisa suaraku yang hilang bersama tiap rasa bahagia waktu itu.
"Hmm. ", ayahku bergumam tak jelas sembari menyetir mobil mencari bensin.

Kak Awan mulai mengambil camilan dan asik bermain gadgetnya. Pelangi sudah tenggelam dengan obrolan maya bersama teman SMAnya. Berubah, tak lagi ku kenal aura kala itu.

Aku terdiam dan memandang dua wanita di bangku tengah, mobil sesekali berhenti untuk memastikan alamat yang dituju. Bahu mereka kaku, bahkan saat mobil terguncang mereka diam saja seperti pahatan kayu tak rampung. Tapi mereka luwes sekali ikut membantu ibu menjaga kenyamanan ayah.

Yah, sudah lama sekali ku tahu hal ini. Sejak lama cerita itu merenggut irama bahagia dalam kisah hidupku.

Sore itu, dua tahun lalu. Ramadhan tinggal menghitung hari.
Pelangi duduk di bangku kelas 5 SD, menyampaikan dengan ekspresi yang tak tergambar.. Ayah telah meresmikan pernikahannya dengan wanita itu. Wanita dengan kerudung hijau di sisi kanan mobil. Teringat isak tangis ibu yang terasa menelan seluruh ruangan dengan warna biru abu, sesak. Aku terdiam, dan diam diam menghilangkan kekagumanku atas ayah.

Malam itu, satu tahun lalu. Ramadhan tinggal seminggu lagi.
Kami berdua saja seperti biasa, canggung. Aku tak terbiasa satu ruangan bersama ibu. Malam itu, ibu dan aku terbalut dalam suasana konyol yang dipaksakan.
"Bintang, jika ayah kembali menikah, apa pendapatmu?", suara tenang ibu terdengar menyayat sebab dipaksakan. 
"Hmm, ya.. @$@%@&%", aku mendengung tak jelas. Pun lupa apa yang ku pikirkan kala itu. Yang ku ingat, setelah itu aku segera pergi menuju teras rumah, menyembunyikan tangisku yang terasa memalukan.
Esoknya, kabar itu datang.
Ayah kembali menikahi seorang wanita yang kini sedang membuka kaleng biskuit untuk ayah, wanita berkerudung merah muda itu.

Ramadhan itu, tak satu patah katapun dari ayah. Tak ada penjelasan langsung.. kami dicukupkan dengan menelan tiap cerita dalam diam.

Awan tak lagi sehalus biasanya kala angin menyapa.. sekuat apapun ia nampak ceria dengan gumpalannya, ia tetap.. mengeras.
Pelangi tak lagi tersumbul bahagia, lengkungannya seperti menanti dibawa pergi badai kemarin.
Bintang, ia tak kehilangan kerlipnya.. berusaha melengkapi satu dua sisinya yang mati, berharap tak ada mata yang mengetahui.

Ramadhan ini, entah lagi.
Aku tak sadar apakah aku menanti.. 
atau menyiapkan hati, untuk kembali tersakiti..

#MePovEnd

23 Jul 2017

Barangkali

Barangkali ini adalah hal yang seringkali setiap orang renungkan..
Saat terdiam, tertawa bersama konco-konco, saat makan, saat menangis, saat mencoba menerawang dialog diri..

Ya, itu.
Apa yang sebenarnya kita butuhkan.
Tak jarang, barangkali, kita tertawa dalam kekosongan..
Terdiam dalam kebisingan, menelan kelaparan, menangisi kehampaan, terhempas didasar laut skrip dialog diri..
Ya, barangkali..

Tak jarang sebilah ketidakpuasan menghentak di dalam episode, dimana seharusnya kita cukup bersyukur, dan tenang.

Zhera, kawanku.
Barangkali ku lupa kapan terakhir kita bercakap. Barangkali fajar lalu.
Sekali tatap, lancar sekali ia bercerita, menyatakan pikirannya.

"He, entah apa yang aku rasa.. entah apa yang sampai saat ini kubutuhkan.
Seringkali di sudut kamar ku tersenggal, bertanya,
apakah aku butuh kasih sayang? ah, tapi orang lain barangkali ada yang benar benar membutuhkannya..
apakah aku butuh pengakuan? ah, barangkali ada orang lain yang lebih membutuhkan pengakuan..
apakah aku butuh penerimaan? ah, batangkali ada yang lebih lama merasakannya..
apakah aku butuh kepercayaan? ah, barangkali ada yang hampir saja mati lelah mencarinya..
He, entah apa yang ku butuhkan..
Tapi aneh, hingga kini.. sisi tubuhku tak pernah lalai untuk menyerngit kecut, seperti luka bedah terkena cuka. hehe."

Masih saja ia tertawa,
bahkan saat bajunya kini sudah basah lagi oleh lukanya. aneh.
Dia lebih memilih meringkuk kembali disudut kamarnya, pamit sekilas dengan senyumnya.

Ya, begitu.
Tak jarang manusia merasa kurang, yaa barangkali terasa saja ada yang tak ada.. sebab itu sifat manusia, kan?

Pun hal itu seringkali yang bisa menarik kita atas kekurangan itu. Mengisinya dengan cara apapun. Atau... yah, banyak kemungkinan lain yang bisa readers pikirkan..

Saat merasa kurang atau tak cukup, tak apa menangis.. kurang kuat dengan cobaan tugas? cobaan masalah? cobaan cibhian? >.<
Yah barangkali tak apa menangis.. tapi jangan lama-lama, yawn.
Sayang, sayang, air matanya buat yang kece kece aja :v

ex: Ortu bisa dinaikin haji, ipk kumlud, inget dosa, inget jodoh(?)#eh

yah gitu aja si,
barangkali.

#MeEndPov

20 Jun 2017

PKM UNJ 2017 (JIlid 2)

PKM UNJ kembali berlangsung untuk Jilid 2 part 1 pada 17 Juni 2017, sabtu lalu berlokasi di Gedung Ki Hadjar Dewantara Lt.8 Kampus A. Saat ini saya mulai berfikir kemungkinan PKM UNJ dilaksanakan di kampus B, D, atau E UNJ agar pengalaman berkunjung sekaligus mengenali properti di semua lokasi kampus tercinta.
   Dengan pakaian lengkap dengan name tag mungil, peserta duduk beralaskan lantai di ruangan yang telah disediakan panitia. Setelah sesi pembukaan seperti pada umumnya, master of ceremony akhirnya memanggil keluar moderator yang nantinya menemani pemateri untuk hari itu. Ialah Ilham Mubarok mahasiswa FMIPA 2014 sebagai moderator untuk pak Arya Sandi Yudha dengan pembahasan mengenai “Managemen Isu”.

Management di UNJ memiliki berbagai fokus pendidikan, ada yang berfokus pada keuangan, pun juga berfokus pada pendidikan, maka barangkali sudah terjamin pula mahasiswa dengan kesempatan belajar management lebih lihai dalam olah management. Management sendiri adalah sebuah usaha untuk mengolah dengan baik dan dengan pertimbangan logis yang pantas, maka dari itu ilmu management sendiri pun sangatlah penting untuk menjadi manusia mandiri.

PKM UNJ kali ini menghadirkan mteri management isu yang dibawakan oleh pembicara yang memiliki kemampuan yang patut di jadikan contoh dalam mengambil tindakan dalam usaha memanagemen sebuah isu. Perawakannya yang tenang, dan santai, penuturannya yang lugas dan rinci sekaligus mendalam, begitulah yang disampaikan dalam video profile yang sebelimnya ditayangkan.
Managemen isu kiranya memiliki beberapa tipologi orang dalam menaganinya, ialah :
  • ·         Pekerja (Worker)
  • ·         Pemikir (Thinker)
  • ·         Lobies (Bagian melobi, biasanya pada keseharian orang yang tenang dan tak banyak bicara)
  • ·         Desaigner (Perencana jangka pendek, menegemen isu dalam bentuk menarik)
  • ·         Selebriti (Karakter Humas, pemegang Live report, banyak penerangan)
  • ·         Leader (Opinion leader, penekan keyakinan, pengelola SDM, Humas ke media)

Kunci managemen dalam organisasi adalah, mengelola organisasi hingga akhirnya mempengaruhi wilayah yang lebih luas, menciptakan perubahan dan pembentukkan opini publik.

Output penting dalam suatu musyawarah atau rapat organisasi dalam rangka memanagemen isu yang ada adalah memunculkannya sesuatu yang baru, penting, quatable, ide pokok, menarik dan unik, dan solutif. Untuk mendukung hasil pemikiran tersebut agar akhirnya bisa di pahami konsep idenya bagi anggota dan masyarakat, diperlukan press release yang apik, serta penyampaian secara verbal dengan kemampuan individu yang dapat menyesuaikan dengan target penengar.

Beberapa point yang diperlukan dalam pengolahan managemen isu ialah,
Membangun relasi dan hubungan baik dengan awak media agar dapat mempermudah penyebaran berita, membuat laporan hasil kegiatan berupa dokumentasi pada media, mempersiapkan jubir yang kompeten, membuat poin kesimpulan pembenaran untuk mendukung isu yang diangkat oleh narasumber bilamana di tekankan hal yang berbeda arus oleh tim media, gunakan trik bila menjadi narasumber dan diajak untuk melakukan dialog dengan argumen (membaca : upgrade wawasan dan pandangan narasumber, scanning : scan dan pahami tema yang di berikan awak media ketika diminta menjadi narasumber, tegaskan : memberi penegasan pandangan secara mendalam, rinci, singkat dan elegan), kenali media yang memiliki nama di kalangan masyarakat untuk menjadi relasi dalam upaya menyebaran isu, sebagai jubir diperlukannya pemahaman visual diri dan pemahaman teknik memotong pada segmen penampilan dalam teknik media, melakukan penutupan yang apik dan berkesan dengan pembawaan gesture terbaik, menyadari sasaran pendengar.

Maka akhir kata, pak Arya dengan segala mterinya mengenai management isu menyatakan sebuah kata penutup yang menjadi penekanan, bahwa tujuan utama dari media adalah Penyadaran, Pencerdasan, dan Penyikapan atas sebuah isu.

PKM UNJ di pending untuk melaksanakan ibadah dzuhur dan istirahat hingga pukul 12.20.
Peserta kembali memasuki ruangan acara untuk melanjutkan kegiatan PKM UNJ, peserta dibagi kelompok sementara untuk melakukan diskusi mengenai isu. Penulis mendapatkan bagian isu mengenai supremasi hukum pada kekerasan seksual, sebuah tema yang cukup sensitif karana terdapat dua sudut pandang dari gender yang berbeda dalam satu diskusi. Penulis sendiri kurang terjangkau untuk akhirnya mengikuti diskusi secara penuh, hanya suara pemimpin diskusi yaitu kak Wafa Wahida selaku Sospol BEM UNJ yang membahas beberapa poin yang seharusnya memiliki kekuatan hukum yang tegas dan adil.
Diskusi ini membuat penulis tanpa sadar membuat sebuah opini atas penerangan pemimpin diskusi mengenai sebuah konsep budaya di Indonesia bahwa wanita sudah lama dijadikan atau dilabeli sebagai kaum yang lemah.

Permasalahan inti yang ditekankan pada kelompok diskusi ini ialah 
sesuatu yang menjadikan kekerasan seksual menjadi semakin terbentang bentuk tindakannya kepada kalangan luas. tidak lagi menjadi suatu hal yang dipermasalahkan dengan serius, bahkan oleh anggota keluarganya sendiri.

Namun, bukankah dalam hal ini, kenyataan bahwa masyarakat umum dikatakan memiliki anggapan bahwa kaum wanita adalah kaum yang tertindas karena kaum wanita sendiri yang mengamini statemen tersebut dengan cara melakukan tindakan mnolak sekaligus meminta hak-hak wanita secara utuh.Barangkali budaya penekanan bahwa wanita adalah kaum lemah dan yang katanya mendapati kenyataan bahwa wanita masih dibeda-bedakan, namun bisa jadi upaya wanita meningkatkan derajatnya tanpa disadari bahwa ia telah memberi penekanan pada kaum wanita itu sendiri, kaum-kaum yang di labeli sebagai kaum yang lemah oleh masyarakat.
Sejatinya, permasalahan apakah kaum wanita adalah kaum yang lemah dan harus merdeka sudah menjadi pembahasan yang menegaskan status kaum wanita di dunia. Hal yang dilakukan dalam upaya perlawanan oleh kaum wanita adalah kenyataan jelas bahwa wanita dijadikan manusia dengan derajat yang sangat rendah atas kepemilikan hak kemanusiaanya. Seringkali diskusi dengan tema peran wanita cukup menjadi hal kurang menghargai sejarah bahwa dalam permasalaham ini tidak mengkaji ulang hasil kajian pada masa lalu. Hal itu menjadi baik bilamana tujuan diskusi menjadi sebuah pemantapan diri kaum wanita untuk menjadi manusia mandiri dan bebas dengan label spesialnya sebagai wanita, tidak mengiyakan label masyarakat dalam memandang bahwa wanita kaum yang lemah.
Dalam diskusi ini telah menyadari bahwasannya kekerasan seksual tidak lagi seperti pada masa lalu, kekerasan seksual dirasa lebih kompleks, dimana sasaran kebejatan perilaku itu mulai merambah pada anak-anak, anak smp, bahkan anak sma secara umum, siswi bahkan siswa. Maka kenyataan ini bukan menjadi penguatan awal bahwa kaum perempuan adalah kaum yang dianggap lemah. Tapi lebih luas.Kesimpulan pada permasalahan ini menekankan pada satu hal dimana bukan mereka yang lemah dan dianggap lemah yang seringkali menjadi korban dan terus menerus diberi layanan spesial, hal itu juga sangat baik untuk upaya pemerintah dalam melayani kaum wanita dan anak. Sebab sejatinya kaum wanita dan anak memang memiliki kelemahan spesial dalam segi fisik, namun yang menjadi permasalahan yang mengakar yang seringkali tidak dipermasalahkan adalah, kaum yang merasa kuat itu sendiri. Kaum yang awalnya memberi penegasan bahwa wanita dan anak anak adalah kaum yang lemah. Kaum yang merasa kuat sehingga merasa berkuasa atas segala tindakannya untuk upaya pemenuhan kebutuhan dan kemauannya.

Sebelumnya saya sangat prihatin atas pernyataan sikap dari sebuah forum perkumpulan wanita yang menolak hukum kebiri pada para pelaku kejahatan seksual, dengan alasan ham. hal ini sangat bertolak belakang dengan usaha mereka dalam memberantas penjajahan pada kaum tertindas di Indonseia. Hal ini hendak penulis jadikan bahan tambahan diskusi, karena memang perintah awal adalah untuk berdiskusi, namun terbatas waktu.

Selanjutnya kelompok diminta membuat skenario untuk melakukan sosiodrama.Drama yang kelompok dari penulis tampilkan adalah mengenai upaya orang tua dalam membahagiakan anaknya yang sudah lama pengangguran untuk akhirnya memiliki pekerjaan dan gaji. Maka orang tua memberikan anaknya pada sebuah agensi untuk penyaluran pekerja yang pada kenyataannya dijadikan pengedar narkoba, dan pekerja di sebuah klub malam. Setelah akhirnya klub tersebut di lakukan sidak, terjaringlah agensi tersebut saat melakukan transaksi narkoba. Hakim yang diharapkan melakukan keputusan seadil adilnya dibutakan oleh suap rutin yang dilakukan ketua agensi dan hanya memberikan hukuman ringan pada terdakwa.

Hari semakin sore, yang menandakan akan diakhirnya sesi PKM UNJ 2017 pada Jilid 2 part 1 hari itu.
Keesokan harinya, pada hari minggu 18 Juni 2017 berlokasi di Aula Daksinapati Lt.1 Kampus A. PKM UNJ kali ini melanjutkan Jilid 2 menjadi part 2.

Dimulai dengan cukup terlambat, dan diisi presentasi tiap kelompok dalam pembahasan mengenai anjangsana menuju BEM BSJB Depok dan Kementrian dalam Negeri, beberapa kelompok tidak menayangkan pembahasan anjangsana pada UPT UNJ karena terbatas waktu untuk wawancara.Acara pada akhirnya ditutup sekitar waktu ibadah maghrib.

Maka dengan ini PKM UNJ Jilid 2 telah selesai dan berlanjut setelah lebaran untuk PKM UNJ Jilid 3,
Sebelumnya mohon maaf dari penulis jika ada salah kata..
Minal Aidzin Wal Faidzin, Taqabalallahu Minna Wa Minkum..
Selamat Menunaikan ibadah Puasa di bulan Ramadhan ^^

#PKMUNJ2017 #PemudaMasaKini #PemimpinMasaDepan


12 Jun 2017

PKM UNJ 2017 (Jilid 1)

Sebuah tulisan rangkuman kecil dalam upaya menegaskan dan mengikat pemahaman mengenai materi yang telah disampaikan pada kegiatan PKM UNJ sebagi wujud dedikasi dalam mengerjakan tugas individu dalam PKM UNJ dengan tujuan membagi pengalaman dan pengetahuan pada pihak lain, semoga bermanfaat
BEM UNJ Menghadirkan kegiatan pelatihan bagi para mahasiswa UNJ, salah satu persyaratannya adalah bagi mahasiswa yang telah lulus dalam pengkaderan/ pelatihan kepemimpinan tingkat prodi dan tingkat fakultas. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan wawasan pengelolaan kepemimpinan yang sangat berguna bagi diri pribadi dan lingkungan sosial, yang selanjutnya di sebut PKM UNJ atau Pelatihan Kepemimpinan Mahasiswa UNJ.

Setelah melalui pemberkasan untuk mahasiswa yang berminat mengikuti rangkaian PKM UNJ, Mahasiswa di beri informasi 2 hari sebelum acara untuk menjalankan PKM UNJ Jilid 1 part 1 di Gedung Sertifikasi Guru Lantai 1 dengan tema Pemuda Masa Kini, Pemimpin Masa Depan. Peserta PKM UNJ sangat antusias dalam mengikuti rangkaian acara yang ada, terlihat dari hadirnya tiap-tiap prodi dari masing-masing fakultas sebagai peserta PKM UNJ.

Acara pada hari minggu, 4 Juni 2017 dimulai pada pukul 09.00 dengan dibuka dengan Tilawah, menyanyikan lagu Indonesia Raya, dan totalitas perjuangan. Setelah itu dilanjutkan dengan pembahasan tata tertib PKM UNJ, pembagian kelompok, diskusi kelompok dalam menentukan ketua kelompok dan diskusi penugasan sampai waktu ibadah dzuhur. 
Setelah itu peserta diberi waktu istirahat dan menunaikan ibadah sholat dzuhur sampai pukul 12.45. 
Setelah peserta berkumpul kembali di tempat kegiatan, segera acara dilanjutkan dengan materi Public Relation oleh Bambang Irawan selaku koordinator pusat Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) pada 2015, tepatnya masa kepemimpinan BEM SI sebelum Bagus Tito selaku Ketua BEM UNJ menjadi koordinator pusat BEM SI.

Pak Bambang membawakan materi  dengan santai dan menarik, beberapakali Pak Bambang menceritakan kisah inspiratif dan menghibur dari kisah nyata yang ia alami, hal itu cukup membantu mahasiswa dalam memahami materi yang ia sampaikan. 

Pak Bambang menerangkan dasar dari Public Relation dimana hal tersebut adalah sebuah usaha hubungan, salah satunya sebagai pola dalam isi organisasi yaitu, proses interaksi, opini publik, menanamkan keinginan baik, kepercayaan, dan citra yang baik. Beberapa kali Pak Bambang menyorot poin penting dalam Public Relationship adalah, media, konten organisasi, relasi dan lobi. 

Media adalah hal yang sangat penting dalam upaya peningkatan citra bagi suatu lembaga, aktifitas atau organisasi dalam menyokong tujuan dari masing-masing penyelenggara dari instansi itu sendiri. Media yang menarik, propagandis sangat diperlukan dalam mengangkat isu atau berita yang ingin disampaikan pada konsumen dengan sasaran yang tepat. Selanjutnya ada konten organisasi, yaitu bentuk atau struktur yang menunjukkan tingkat kekuatan dari instansi tersebut, memberikan citra yang kuat dan terstruktur mampu meningkatkan kepercayaan dari pihak yang menjadi sasaran. 

Relasi dan lobi, dua hal tersebut adalah kata kunci dalam pembentukan hubungan, namun perlu ditekankan bahwa hal ini adalah sebuah hal yang dilakukan tidak dengan singkat, dikemas dengan baik, dan diniatkan untuk menjalin silaturrahmi. Hal ini ditekankan karena Public Relation yang baik, bukanlah seperti halnya habis manis sepah di buang, namun pendekatan atau hubungan yang dilakukan dalam rangka melebarkan sayap kebersamaan dengan wilayah luar yang saling membantu.

Public Relation adalah hal yang sangat dibutuhkan bagi siapapun itu, tidak terpaku bilamana Anda sekalian berniat menjadi pemimpin. Pun sebuah kenyataan bahwa seorang pemimpin harus memiliki Public Relation yang baik, tidak melulu tentang orang yang memiliki kepercayaan diri yang tinggi, atau memiliki pamor dalam lingkup sosialnya. 

Hal ini ditekankan oleh Pak Bambang bahwa dengan kalimat, “Tetaplah Berproses”, maka jadilah materi pada jilid 1 part 1 menjadi hal yang sangat berguna bagi peserta PKM UNJ.

Selang waktu seminggu, PKM UNJ Jilid 1 part 2 kembali diselenggarakan di Gedung Hasyim Ashari lantai 3 pada tanggal 10 Juni 2017 yang kembali, di infokan 2 hari sebelum acara. 
Sangat disayangkan bahwa kali ini saya pribadi tidak diberi kesempatan untuk mengikuti pelatihan pada part 2 kali ini karena sebuah hal, namun untuk selanjutnya saya akan bersuha menerangkan materi pada hari itu dengan judul materi, “Rekayasa Sosial atau perubahan sosial”, yang dibawakan oleh Muhammad Rusdi (Deputy President KSPI). 

Pak Rusdi mengatakan bahwa perubahan sosial dalam masyarakat sebagai akibat adanya ketidaksesuaian Unsur-unsur nilai dan norma sosial yang dianut selama ini (diambil melalui teori Max Weber). Tujuan dari adanya perubahan sosial yaitu terciptanya tatanan sosial (masyarakat) ekonomi, budaya, dan politik yang lebih baik (berkeadilan, beradab, sejahtera). Seperti yang telah secara umum diketahui, bahwa peran pemuda sangatlah dibutuhkan untuk meningkatkan upaya perubahan sosial menjadi lebih baik, maka materi ini menjadi sangat cocok disampaikan pada peserta PKM UNJ. 

Pada pukul 12.45 setelah istirahat siang, dilanjutkan kembali materi kedua tentang “Urgensi Kontra Intelijen”, oleh Moses Caesar Assa, S.pd., M.Sc. Moses menyampaikan bahwa Kontra Intelijen secara tidak sadar sudah dilakukan oleh kita. 
Kontra Intelijen merupakan suatu upaya untuk mengendalikan Lawan-lawannya dengan menghalangi atau memanipulasi informasi yang relevan (dikutip menurut Sims dan Gerber, 2009). Tujuan dari Kontra Intelijen yaitu untuk kepentingan nasional yang tercantum dalam UUD 1945 Alinea ke-4. Hal yang dapat dilakukan untuk kontra intelijen dengan melalui tahapan seperti emerging issue, interpretation, signals, dan future. Dalam mengelola kasus melalui Wild Card, Weak Signals, dan Strong Signals. 
Antisipasi yang dilakukan dalam Kontra Intelijen yaitu melakukan “Tracking Weak Signals”, mengklasifikasikan weak signals ke dalam Clustering Trends, menganalisis dan membuat skenario terhadap Trend atau strong signals, strategi dalam melakukannya. Berakhirnya materi Urgensi Kontra Intelijen menandakan bahwa berakhir juga rangkaian kegiatan PKM UNJ jilid 1, yang kemudian akan dilanjutkan dengan jilid 2.

#PKMUNJ2017 #PemudaMasaKini #PemimpinMasaDepan

8 Jun 2017

Hei

Hei kamu,
yang rela-rela saja menemaniku.
Kau tahu?
iya ku tahu kau mengetahuinya..
Ku tahu hal yang paling menyebalkan adalah, mengenalku.
Malu betul jika bersamamu,
sebab ku tahu.. pribadi yang membosankan ini tak pernah benar benar menyenangkanmu
Andai aku goblin,
ku ingin pergi sejenak..
barang satu dua abad,
untuk mempelajari cara terbaik membalas baikmu itu.

Tetap bahagia, tetap berproses.
Tetap temani aku..ya? meski pastinya membosankan dan menyebalkan.

dari Oncom untuk Berlian

24 Mei 2017

When I Touched It

Hai, reader yang satu dua kali terbawa arus keder~

Akhirnya daku kembali berniat menggores sedikit cuap cuap yang menginspirasi para.. jamur? Di pekarangan.. dapur.(?)
#iki opo -_-
#Skip

Wan kawan.. sekarang dik manis (?) ini menapaki semester 4 loh.
Kheoh~

Semester yang kata orang, cukup ekstrim karna sebentar lagi semester 5.
Heol :3

Sebenernya ini hal yang tidak terlalu penting untuk di jabarkan, namun apa daya bila bilangan bertemu bilangan lain dengan variabel yang berbeda menjadi cinta sejati dengan kode pangkat dua. ._.
Demiapah saya semakin ngledor.

#MulaiSerius
Pertanyaan pertama, pernahkah kamu menyentuh perasaanmu secara utuh dan dengan kesadaran penuh?
Oke pasti ini agak membingungkan ya.
Jadi, permulaannya adalah saat aku semester 4.
Nice sekali pas liat jadwal, ternyata selama seminggu masuk jam 8 semua~
Rapopo rapopo, kataku. Awalnya.

Lambat laun, sebuah tekanan psikis, semacam tekanan emosi dan fikiran menyurutkan semangat belajar diriku yang tak tahu terimakasih pada orangtuaku yang telah membiayai ku semenjak hampir ada, hingga masa kini. hmm

Masanya melihat dunia dengan sedikit-sedikit rasa congkak dan merasa keputusan diri adalah privasi sendiri yang sangat tidak dimungkinkan akan terimbas kepada pihak lain.

Akhirnya aku memilih. Aku semakin sering melebur menjadi partikel kecil tiap paginya, sampai-sampai PJ kelas tidak melihatku duduk di bangku kelas.
Yah, membolos adalah pilihan bodoh ku.
Salahkah? Pasti.
Gimana rasanya? Em, cukup tenang.. bisa menghindari permasalahan yang terjadi.

Terselesaikan kah? Nda T.T
Konsekuensi? Banyak T.T

Berusaha melupakan permasalahan dengan menyibukkan diri pada tugas dan orderan yang menyita sebagian besar waktu.
Lelah? Iya.
Lupa? Sekilas saja..
Kesimpulannya, 90% yang kulakukan sekedar kesia siaan.

At least, i touched it.
Hari itu kamis, cukup cerah dan semalam memaksa diri untuk berdiri tegap kembali. Pagi itu melangkah dengan harapan sesuatu yang baik akan menyapa dengan senyum manis dengan lesung tipis, berkacamata dan... EH.
Sleb. (Anggap saja ini bunyi masuk kelas).
Kosong-
Aw aw aw
Galaw. Nyempil di sekret, danbaru liat  info di hp ternyata kelas di ubah ke tempat sidang. Nice.
#Skip

Kuliah dimulai, dan menariknya, itu bukan perkuliahan T.T
Yah sejenis tapi, satu angkatan di kumpulkan. Kami belajar refleksi dan Mind fullness.
Praktek dan penjelasan menjadi santapan pagi itu.
Memuaskan.
Seusai jeda dzuhur, kami berlanjut membahas mind fullness.
Its Time.
Kesadaran itu datang pada menit-menit yang kegerahan di sembur api naga kantuk.
Terduduk dengan polos :3 , dan hal yang paling sulit bagiku, menutup mata.
Ibu dosen memulai ceracah perkataan dengan intonasi yang halus.
Hampir saja aku tidur. Sungguh. Malangnya aku bila benar tertidur hingga pulas.
Pertanyaan itu sedikit sedikit menarik paksa kantuk ku.
“Coba bayangkan bagian tubuh yang paling sakit.. sentuhlah bagian itu”, “Bayangkan orang yang menyayangimu menyentuh bagian itu.. menguatkanmu, bayangkan kedua orangtua dan orang-orang disekitarmu”.
NICE.

Bagian penjelasan tentang apa yang ku bayangkan di sini disensor karena urusan pribadi.

Kau tahu, tanpa sadar aku menyentuh bagian yang orang sering sebut letak hati. Dan begitu saja.
Perlahan.. aku merasa berada diruangan sendiri, menangis begitu lama, bertanya diam diam tentang mengapa.. tanpa tahu jelas alasannya, tergugu kaku, sesak.

Bahkan sampai lampu dinyalakan, dosen membuka sesi komentar, ah konyolnya diriku. Masih tergugu dalam diam.
Memaksa tangisanku berhenti yang menjadi semakin absurd.

Iya Benar.
Iya, bahkan tanganku tahu letaknya..
letak yang terdzolimi begitu lama.

Hal yang aku lakukan belum bisa menolong salah satu teman sejatiku, hati. Seringkali ku katakan ia telah hilang,
ia telah terjatuh,
ia tak pernah ada.

Caraku melepaskan kisah kisah yang menggelayuti tiap sisi di hati.
Meskipun hingga kini belum kutemukan obat baginya, PR besarku adalah terus menemaninya.
Memberikan treatment terbaik dengan membiasakannya tersenyum dan berlapang. Belajar..

Andai di tiap-tiap malam, satu satu secara bergilir anggota tubuhku melepaskan diri dan bisa ku ajak bicara dan bermain.
Barangkali aku akan menemani mereka dalam diam, tak apa.

Kita semua sewajarnya menyadari kepemilikan akan diri kita, pinjaman, iya. Bahkan perasaan dan pikiran ini.

Tak jarang kita luput dan memilih terus terjatuh dan terpuruk di dalam lumpur, yang sebenarnya bisa kita bersihkan perlahan untuk menjadi tempat berkecipakan yang bersih , pun menyenangkan oranglain.

Bukan suatu perkara yang dapat disangsikan manakala hanya satu pelajaran yang dapat membersihkan lumpur itu, dengan perlahan.. maupun sekaligus. Sebab setiapnya cukupkan pada IziNya sebagai penopang.

"Wahai manusia! sungguh, telah datang kepada kamu pelajaran (Alquran) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman"
(Q.S Yunus : 58)

When i touched it...

24 Mar 2017

Siang Itu


Mungkin hujan, sepertinya
Ketika satu dua tetes hangat menerpa wajahku
Malas terperanjat,
Hematku, romansa ini adalah tentang aku dan langit
Memandang gumpalan awan yang tersipu
Beralaskan rerumputan taman belakang
Berandai, agar detik melenggak lebih lambat
Agar rinduku mengepul dan terjaring lapisan awan

Ah, semakin basah..
Hujan disiang hari yang hangat yang mulai lebat
Malas menyadari,
Tetap tergeletak menengadah, menikmati
Irama gelak tawa hujan yang tak tergapai

Temani aku hujan,
Duduklah sejenak disisiku..
Menemani aku yang terlalu malas,
Untuk merindu..

18 Mar 2017

Konsep

Ada sebuah pabrik,
pabrik mandiri yang dijalani oleh seorang kepala produksi, dan pegawai yang silih berganti mengisi dan menjalani rutinitas di dalam pabrik.

Pabrik itu tak besar, pun tak kecil
berdiameter sekitar 15-20
Pabrik hanya memproduksi satu hal, namun dia bekerjasama dengan pabrik mikro lain dengan sebuah hubungan yang rumit.

Sebut saja ini adalah pabrik inti, dia bertugas memproduksi paket-paket konsep sebagai konsumsi dari tiap pabrik mikro.
Manual, bahkan kepala produksi seringkali bekerja sendiri ketika pegawai malas bekerja, atau.. dia sendiri malas mengundang para pegawai datang tanpa kemauannya sendiri.

Produknya adalah sebuah paket yang berisi berbagai barang yang dibutuhkan konsumen, meskipun terkadang diisi dengan barang yang terlihat sesuai menurut sudut pandang pekerja dalam pabrik itu. Barang yang sudah disusun sesuai analisis kebutuhan dan berbagai pertimbangan konsumen dan produsen, mendapat sentuhan akhir, yaitu pembuhkusan dengan bahan terpilih, butuh berhari-hari hanya untuk membungkusnya.

Ribuat partikel atom kecil dikumpulkan untuk melapisi di awal, kemudian diberi cairan batu cair yang dibekukan dan terakhir, kerangka dengan pita berwarna yang disesuaikan dengan produk. Kerangka itu terbuat dari daging tanpa darah yang di ikat dengan untaian fiber berwarna transparan.

Produk itu bernama, konsep.

Kepala produksi menyadari, bahwa banyak hal yang harus dikembangkan dari pabrik, seperti jenis paket, jumlah isi paket, estimasi waktu, pemasaran, komponen paket, dan gaji pegawai.

Selagi bekerja, kepala pabrik selalu memikirkan kemungkinan cacat dalam pabrik, dan solusi memperbaiki yang dilakukan secara perlahan dan kasat mata.. sesekali pegawai yang menyadarinya, ikut berfikir dan bersolusi.. namun sangat terbatas. Pun waktu bercakap dirasa tak pernah pas.

Seringkali ada konsumen yang komplain mengenai produk, bahkan tak jarang pegawaipun ikut komplain.
Kebiasaan kepala pabrik yang tidak suka menjelaskan sesuatu, karena dia sadar.. kata-katanya seringkali keliru dengan apa yang difikirkan, pun dia memikirkan kemungkinan jawaban dari konsumen.

Komplain tidak cukup, atau terkadang ada konsumen yang malas berkomplain dan bertanya tanya saja dalam diri.
Mereka mendatangi tumpukan paket yang sudah rapih, dan membuka paksa tanpa konfirmasi dari kepala produksi.

Usaha berhari-hari, lenyap dengan usaha buka paksa selama beberapa jam.
Menyisakan retakan besar yang menganga dari lapis paket kedua, bersiap membuka paksa lapis terdasar.

Dar.
Satu pabrik dipenuhi asap hitam putih polkadot yang bergerak zig zag.
selama beberapa jam sistem dalam pabrik berhenti, para konsumen menghilang tanpa jejak, meniggalkan kerusakan atas satu dua paket yang mereka rusak.

Beberapa dari mereka, sebenarnya hanya bayangan atas mereka. Dan ternyata, sebagian lainnya, adalah pegawai yang sebelumnya membantu ketua pabrik dalam berfikir dan mencari solusi terbaik untuk produk.

Selang beberapa minggu, pabrik tetap berjalan dangan tenang..
terlalalu tenang,
ketika kepala produk memilih bekerja hingga larut, untuk melupakan..
tetap untuk melupakan, tumpukan konsep terdalam, yang disembunyikan dalam sebuah peti, yang kuncinyapun di paketkan.

Kepala pabrik memilih terus bekerja, sendiri saja tak masalah katanya.. sebab kontrak kerja dengan pemilih pabrik masih ada..
katanya menguatkan, "Produksi sebanyaknya tak apa, asal tak ada pabrik mikro yang kekurangan.. tak ada konsumen yang kecewa".

Beberapa kali pabrik meledak, ah tidak, hanya sekali ledakan besar. Hingga memicu kerusakan sistem yang bisa mengeluarkan gas asam yang memaksa kepala produksi berdiam diluar pabrik.

Masih mengharapkan kebaikan
Tapi entahlah,
kepala produksi masih bertanya..
sampai kapan?

11 Mar 2017

Aku suka kamu

Tentang rasa sayang,
lebih mudah merasakan getarannya dalam satu bayangan, ya.. lebih mudah merasakan ketika sendiri
sedikit menyedihkan untuk tidak bisa ikut merasa ketika bersama,
seringkali membayangkan,

mungkin akan menjadi hal indah ketika kita menangis dan bahagia bersama

Hanya sebongkah batu yang kaku, itu aku
seringkali berusaha mengatakan
Aku suka cramu, aku suka kamu.

Tiap garis daun menyadari sulitnya aku bermaafan dengan ego, gengsi tepatnya.
Namun mereka lebih mudah berguguran dengan cepat

Aku suka kamu,
jujur saja..
ini bukan tentang cinta, ini adalah.. buah manis dari ukhuwah

Bersaudara adalah tehnik yang unik dalam belajar arti kehidupan,
memahami sebuah interaksi,
memahami tiap kalimat antar aku dan kamu,
memahami goresan hati yang tercuit dalam secarik tulisan

Tehnik berkehidupan kurasa.

Terlalu lama sendiri,
seperti dalam ruang gelap dengan satu pencahayaan di tanganku,
mudah saja melangkah, mudah saja merasa, mudah saja belajar dengan satu sorot cahaya

Tapi nyatanya ada yang lebih menarik,
tentang tiap cerita diamana aku bersua dengan cahaya lain..
menyadarkan bahwa langkahku terlalu minimalis,
Bahkan hanya satu buku dalam genggaman,
sedang disisi kanan tertumpuk ribuan buku yang tak tersentuh

Aku suka kamu,
tentang setiap kesan kita bertemu dan bercakap
tentang kata-katamu yang tersirat
Jangan takut wap, kutunjukkan caramu melangkah

Dalam diam kukatakkan,
nyatanya kususka kebersamaan..
mengingatkanku untuk melupakan
tentang sesuatu yang melelahkan,
tentang sesuatu yang menyakitkan,
tentang sesuatu yang baiknya tak pernah terucapkan,
tentang pintu kecil yang menyimpan sebuah naskah

Tetaplah menemaniku meski kan terus ada jarak,
meski tak pernah kau tahu
Aku suka kamu
Aku suka caramu..

#MePovEnd



7 Mar 2017

Nonsense

Kembali menekuri sebuah keputusan.
hah.
Inginnya aku terdiam dan tenggelam bersama harapan antara aku dan cermin yang penuh retakan.
Harusnya diam saja.. kan?
Harusnya diam saja.. kan?!

Penuh leha yang nyatanya memangku gerigi beton yang berputar.
Dibutakan rasa iba,
Dibutakan rasa tak kuasa,
Dibutakan rasa tak ada,
Dibutakan rasa bangga,
Dibutakan rasa sayap baru dunia.

Pun sejatinya tak ada yang terbaik.. maka nilai siapa yang kau nanti?
Pun sang bulan tak pernah kau ajak bersua tentang keputusan percikan.
Pun harga mati sang gagah bukan tentang peluh dan kenikmatan bersua manusia.

lalu apa?
pun aku tetap bertanya pada cermin yang retak,
"Untuk apa aku berpijak?"
Disaat dasarnya pun tak ada, disaat bayangannya pun bertolak melarikan diri..
untuk apa?

Persimpangan

Aku menyadari,
sebagai bunga senja..
mereka bunga cahaya yang menemaniku,
akan terkatup perlahan dan kemudian terpekur dalam dunia yang berbeda,
berjumpa sehela dipersimpangan langit merah.

Menjadi hening,
hening dengan ramainya mereka yang terdiam.
Hingga waktu kembali mempertemukan di persimpangan senja,
bersua dengan kata dan rasa.
sekilas saja.. dan kemudian aku terpekur dalam suriku,
diam-diam menanti..
persimpangan, antara aku da kamu.

6 Mar 2017

Klise kah

Sebagian orang, keranjingan dengan yang sebagian lainnya
separuh orang, mati matian mengejar separuh lainnya
indra penangkap gelombang suara kini pandai membaca
sepandai daun mengenal akarnya
serabut kusut terbang bersama angin kering, mengingatkan lagi tentang gulali kemarin sore.
Gulali itu tertambat begitu saja pada senyummu
Berhasil saja ia melengoskan hati wanita paruh baya didepannya hingga terkekeh tanpa pola,
sore itu, gulali menjadi favoritku.

20 Feb 2017

Senja

Terkadang, ada warna-warna yang sesungguhnya tak bersuara~
.
.hai sang wahai,
potret sekilas yang menemani jalanku dalam diam beberapa hari lalu.
Pun dalam diam kugoreskan keindahan karuniaNya dalam bentuk serendah rendahnya sentuhan tangan manusia..
.
.Teringat betul malam itu, adik sudah terlelap terakibat kak rosnya sedang dirumah.
kemudian terlanjutlah percikan yang menjadi bara dengan sang ia hingga akhirnya menjadi kenyamanan tersendiri.. kenyamanan dalam diam seakan hidup dalam cermin yang berbeda.
.
.Tentang ketidak mampuan diri menahan ego.
malam itu.. potret kecil tak bersuara ini menjadi saksi bisu.
Dan entah, pun dalam bisu dan kosong.. tergoreslah kumpulan warna yang tadinya tak ada dan tak terarah..
.
. -Menanti Malam-

14 Feb 2017

Lukisan yang abstrak

Lukisan yang timbul di beberapa sisinya, cat minyak yang banyak.

Tersimpan dalam ruang gelap dan pengap dengan bingkai terbatas milik sang pengkoleksi.
Dikelilingi tembok putih pucat yang dingin, warna coretan berisik dari lukisan semakin terlihat jelas.

Warna biru dan abu abu pekat yang memberikan aura suram yang menakutkan, membentuk garis garis kerutan diberbagai bagian.

Dua goresan lain berwarna coklat dan merah maroon membentuk gurat tipis dibawah lekuk senyum yang tak ada, pun di beberapa bagian lain dengan lebih halus.

Latarnya adalah campuran lima warna kontras yang berbeda, ialah hitam, kuning, hijau daun, dan maroon.

Uraian bentuk rambutnya hampir sepenuhnya menutupi piggiran bingkai yang sedikit terbakar.

Yang menarik adalah goresan 4 cm dari bagian bawah lukisan yang membentuk bercakan darah yang pekat bersama biru lebam yang terkesan antik.

Sedikit percikan warna yang paling menonjol adalah warna putih kehijauan, membentuk garis melintang yang cukup jelas.

Disudut kiri bawah tertera tanda tangan sang pelukis,
-AKU-

1 Feb 2017

Yang Terbendung dengan Kokoh

Biasanya seperti ini memang..
sesak lagi..
pedas rasa nafas didalam dada.
sakit.

Selalu terbayang berendam di air yang banyak untuk sekedar melupakan, ya kutau hanya untuk sejenak.

Tentang sulitnya diri ini melalui pasir hisap dengan tenang. Aku terus meronta.
Menggapai apapun yang ku andai bisa menolongku, memijak apapun yang ku andai bisa menyanggahku.
Tiap hirupan nafas cukup sudah menutupi tiap kerongkongan.

Jatuh.

Entah sampai kapan aku tetap menjadi pengemis kasih, mengharap pertolongan pada yang mampu tersentuh..
Tersadar dengan baik, bahwa kunci termanis adalah menjadi tenang.
Sedang bila tenang.. aku takut.
Aku takut tak kuasa keluar dari pasir yang bergeming ini.
Takut..

Aku sepengecut ini, wahai angkasa..
Sedang legaku hanya mampu kubayangkan, sedang derai ini terasa hangat hanya sekejap dalam bayangan..
Aku tercekat.
Tercekik dalam rasa malu.. takut, tentang masa masa bertemu masing masing sosok berjuta senyum,

Lagi lagi tersadar,
aku tak sekokoh itu..
bahkan selalu kalah untuk melawan yang dicinta~

Masih disini wahai Yang Maha Mengetahui,
aku masih menanti beberapa warna lagi..
Kutahu, entah musibah entah anugrah.. Sang Mahligai penggenggam kisah, dengan apik memberikan yang terbaik~

#MePovEnd

24 Jan 2017

Typed.

Dan lupa lagi..
typing typing itu hanya percakapan semu..
nyatanya hanya sunyi yang tersisa usai ceklis dua dan berbagai emot ceria lainnya.

Kasar benar bila ku sebut itu.. percakapan formalitas.
Seperti memakan krupuk udang yang nyatanya kertas. (?)

Renyah benar tiap cuitan dalam percakapan ramai berisi lelucon atau seedar saling sapa..
namun saat diam, senyap itu seketika mendustai dengan hambarnya.

Beberapa memang.
Beberapa orang benar-benar peduli dalam tiap kalimat tanya terakibat kesulitan bersua antar wajah.
Sedang beberapa hanya.. berusaha terlihat akrab. berusaha terlihat peduli..
berusaha terlihat 'manis'
Ini kasarnya.

Ah
semu.
dan.. aku lupa benar.
nyatanya lingkaranku sempurna tanpa derik sedikitpun.
Sehening menanti fajar.
sehening.. penantian entah.

#Me Pov End

18 Jan 2017

Judulnya, Tentang Kamu

Hai readers,
di atas laju kereta jurusan Jakarta-Malang yang tenang ini.
Malam,
pemandangan gelap menemani njes njess yang sesekali berguncang.
Tercatat di timerku sejak pukul 15.15 kereta berangkat, 9 jam lewat 10 menit lagi InsyaAllah sampai~
Pegal?
hmm ya sedikit,
Haus?
Ya! pasti! ^^
aku lebih cepat haus daripada kelaparan~
Mangantuk, kah?
Hmmm..... ntahlah, mataku bahkan sakit untuk terpejam barang sekali, dikarenakan posisiku yang peweless alias ga deket jendela huhu T.T
Tak apa, beberapa jam di atas kereta tanpa henti, ditemani tulisan yang selalu membuatku berharap menjadi salah satu pemeran di dalamnya.
Bang Tere,
(Fyi: dulu manggilnya mba tere karna kukira perempuan)
selalu cakap meramu cerita, dengan cerdas menyampaikan petuah tanpa konotasi ber-ego state orangtua.
Tentang kamu..

9 Jan 2017

Percikan Api

Bukan sebuah sambaran api,
hanya percikan kecil tak berfaedah berbentuk kembang api~
Tak menghangatkan,
pun tak bisa menerangkan.
Jika tak salah, pertama mengenal ketika sang gagah menggantungkannya di pepohonan demi senyum polos kami.

7 Jan 2017

Candu

Candu,
candu...
Candu.
Berkali-kali sorot mata mematikan waktu dalam diam..
Memandang suhu yang semakin berwarna, entah hitam entah putih..
Tergelak bersama aku dan daku.
Apa yang kulihat?

4 Jan 2017

Project

Ohayo!
Assalamu'alaykum ~

Apa kabar wahai kekamu kamu yang lagi libur?
semoga liburnya tetep libur yah sampe nanti esok hari tak libur..
#Berat berat berat -_-

Yosshh
Waktu itu sempet liat acara TV, lagi iseng liat channel
ada acara WIB, waktu Indonesia bercanda~
tau kaaan tau kan taukan,
huh hah!
maap yak lagi feel sumringah today(?)
lagi sebel sebenernya, tapi gatau rasanya excited bangey~ apa gegara tadi make masker dan wortel dingin ._.
#ini apa T.T
#skip

Nah ya di acara ituuuu ada tebak tebakan, sempet liat satu tebakan doang sih. no problemeyhehe

tau sudoku ga? yang make angka2 gituu
nah yak.
yaudah.
#krik

nah oke, tebak tebakannya ituuu ngisi kotak2 trus ada cluenya gitu, lupa namanya ._. tts? bukan silang tapih
kaya.. teka teki mendatar dan menurun ._. apa ituh

iya jadi, pernyataannya "Tetap bekerja disaat waktu libur"
kotaknya 5, awalnya p.
ayo tebaaakk...
.
.
Piket?
no.
.
.

tenodd
waktu habis.
jawabannya adalah.. kalo yang di WIB,
PakRT .____________.
#harap maklum
#mohon bersabar ini ujian
harusnya mah
#mohon tenang ini ujian yak ^^

ini sebenernya mau nulis apaahh T.T

lucu ga si? wkwk itu satu pertanyaan doang loh~
ga lucu yak, yodalah.

Jadi gini, yang mau ku sampein adalah...
jawabannya bisa selain PakRT.
wait.
wkwk
masih gagal paham sama jawaban ituh
fufufufufu~

iya, jawabannya bisa juga jadi,
PMUDA.
lah maksa 😂
gapapa yang penting itu.. sebuah.. hal yang.. ga penting 😂😂😂

eh bener tau,
coba kalian pikir..
berapa banyak pemuda, i mean "mahasiswa" yang masih UAS disaat ade ade dan tetangganya udah liburan 😂
iri hati? enggak dong yah
pemuda teh bukan orang yang tergantung sama "libur", yakan? yakan?
#nyaripenguatan

Yap, itulah serunya jadi pemuda, makanya Allah kasih tenaga lebih buat pemuda biar bisa ngelakuin hal bermanfaat lain.. kaya contohnya, ikut lomba makan sambel tanpa cabai, atau.. lomba minum dengan air.
#gatauinisiapayangnulis
#writerkabur
#hening

ehm.
maap maap. Hal tak terduga sering terjadi..
Pemuda itu bukan pemuda kalo kerjanya mikirin diri sendiri terus dan milih gleyehan disaat sekitarnya berapi api melakukan hal produktif.
apapun.
kalian pasti bisa lebih "cerdas" memikirkan kemungkinan tentang hal produktif.

Sedikit penutup,
aku lagi tergiur sama beberapa lomba nih, ga berharap menang sih~ tapi mau ngisi berbagai kekosongan juga, kan udah ga efektif masuk kampus kan
yang ku lakuin ini sebut aja project.
semoga tahun ini, aku bisa semakin produktif.. dan ga mikir ribuan kali mau di share atau nggak. semoga.

Ku tau kau pun punya projek~
kau dan aku tahuu
tahu tahuu
tahuu bhulad digowrenk bhuwlad bhuwlad.
#what.?
#oke im fine

#MePovEnd

2 Jan 2017

Janji untuk Berjanji

Setiap hati mudah sekali terkikis oleh arti janji yang mudah sekali melukai..

Iya janji kok nanti..
Iya nanti yaa..
Aku janji deh kalo..
dan bla bla lain.

Janji-janji diperanak dengan atau tanpa rasa sadar yang mengalir tiap berucap
Halus sekali irisannya, atau bahkan mampu menjadikannya hasil irisan yang indah
tetap saja ia mengiris, dilema dalam sebuah janji.
Menanti sebuah janji yang diucapkan bahkan seringkali menjadi irisan unik tersendiri.
Janji.

Suatu cermin datang menghampiriku.

"Wahai pribadi yang berkaca, janjimu cukup banyak melukai tiap hati yang menyimpannya."

Bukan sebuah lagu lama cinta yang saling menepikan arti hati yang terpatri diam-diam. Menyimpan janji untuk hati yang terikat diantara puluhan mil yang tersekat antar pulau.
bukan,
ini tentang arti janji dalam berjanji..

dalam Al-Quran surat An-Nahl, ayat 91: “Dan tepatilah perjanjianmu apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu. Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.”

Awal aku mengenal janji,
tak jarang yang ku ingat hanyalah tentang pengingkaran janji.. tentang sebuah pelanggaran ucapan dari untaian kalimat indah dalam janji.
ingatanku hanya penuh dengan janji yang diingkari, ataupun janji tanpa janji.
Kecewa adalah hal yang manusiawi.
Maka aku belajar merasakan kecewa sejak aku mengenal janji..

entah mungkin janji dan kecewa menjadi kawan seperanakan yang saling mengawani satu sama lain.

Pada dasarnya,
mungkin,
perkawanan itu adalah cara agar kita..
belajar memahami janji, agar membentuk sayatan berfaedah..
belajar menepati janji, agar tak melukai
belajar menyiapkan diri atas janji, agar hati yang kecewa mudah memaklumi.

Ini tentang belajar,
pun tentang bersabar..

#Me End Pov