My fans

24 Jul 2017

Kisah Pendek Angkasa

Sebuah kisah dari Angkasa, tentang hari dimana hatinya berpaling.
Meredupkan gemilang bintang yang bersorai menyambutnya, membiarkan tertambat, menyisakan nafas yang kabur..

Bulan indah yang tersambut begitusaja, meninabobokan egoisme manusia, iya.. ramadhan yang indah, penuh warna dan kenyataan bahwa ke Esa-an tetap ada. Tanpa dipungkiri, takdir-takdir tetap terpeta dan terjadwal rapih, pun di bulan yang menggemakan kemenangan ini..

Sesuatu bisa saja terjadi, pun saat ini.
Masa kemenangan yang kunanti dan yang sekaligus kuhindari. Dengan alasan yang berbeda.

Ini kisahku, orangnya belum pandai untuk cukup bersyukur, dan menutup semua kemungkinan untuknya. Untuknya tetap menikmati setiap takdir yang ada.

Bintang namaku. Awan kakaku, berkata bahwa aku anak yang berbeda dari bentuk karakter keluargaku. Kotak berdengung, itu karakternya. Mereka semua terbiasa dengan diam.

Iya benar, seperti ujarmu.. Ramadhan yang baiknya disambut dengan aura kasih dan cinta untuk sesama muslim. Tidak lagi, ia menjadi masa yang ku harapkan waktu berputar cepat di atasnya.

Tahun lalu. Baju baru, aura bahagia bersemarak, kami bertiga bersua setelah sekian lama. Hanya aku, yang terlalu emosional dan merasa momen itu teramat indah. Tanpa sadar kaki ku menari menggapai angkasa tiap melangkah bersama mereka, Kak Awan dan Pelangi, adikku.

Seusai shalat Ied, ayah melangkah santai, mudah saja ku sadari ia memalingkan wajah beberapa kali. Di sisinya berdiri dua sosok wanita yang tak ku kenali. Tersenyum, ah tidak. Senyum itu bukan untukku.. bukan untuk kami. Senyum itu.. untuk ayah.

Dalam perjalanan menuju rumah singgah saudaraku yang lain, tak dapat ku sanksikan wajah ibu yang berwarna abu-abu, biru dan sedikit guratan jingga. 
"Yah, siapa wanita dua ini yah? apakah saudaramu?", aku bertanya dengan sisa suaraku yang hilang bersama tiap rasa bahagia waktu itu.
"Hmm. ", ayahku bergumam tak jelas sembari menyetir mobil mencari bensin.

Kak Awan mulai mengambil camilan dan asik bermain gadgetnya. Pelangi sudah tenggelam dengan obrolan maya bersama teman SMAnya. Berubah, tak lagi ku kenal aura kala itu.

Aku terdiam dan memandang dua wanita di bangku tengah, mobil sesekali berhenti untuk memastikan alamat yang dituju. Bahu mereka kaku, bahkan saat mobil terguncang mereka diam saja seperti pahatan kayu tak rampung. Tapi mereka luwes sekali ikut membantu ibu menjaga kenyamanan ayah.

Yah, sudah lama sekali ku tahu hal ini. Sejak lama cerita itu merenggut irama bahagia dalam kisah hidupku.

Sore itu, dua tahun lalu. Ramadhan tinggal menghitung hari.
Pelangi duduk di bangku kelas 5 SD, menyampaikan dengan ekspresi yang tak tergambar.. Ayah telah meresmikan pernikahannya dengan wanita itu. Wanita dengan kerudung hijau di sisi kanan mobil. Teringat isak tangis ibu yang terasa menelan seluruh ruangan dengan warna biru abu, sesak. Aku terdiam, dan diam diam menghilangkan kekagumanku atas ayah.

Malam itu, satu tahun lalu. Ramadhan tinggal seminggu lagi.
Kami berdua saja seperti biasa, canggung. Aku tak terbiasa satu ruangan bersama ibu. Malam itu, ibu dan aku terbalut dalam suasana konyol yang dipaksakan.
"Bintang, jika ayah kembali menikah, apa pendapatmu?", suara tenang ibu terdengar menyayat sebab dipaksakan. 
"Hmm, ya.. @$@%@&%", aku mendengung tak jelas. Pun lupa apa yang ku pikirkan kala itu. Yang ku ingat, setelah itu aku segera pergi menuju teras rumah, menyembunyikan tangisku yang terasa memalukan.
Esoknya, kabar itu datang.
Ayah kembali menikahi seorang wanita yang kini sedang membuka kaleng biskuit untuk ayah, wanita berkerudung merah muda itu.

Ramadhan itu, tak satu patah katapun dari ayah. Tak ada penjelasan langsung.. kami dicukupkan dengan menelan tiap cerita dalam diam.

Awan tak lagi sehalus biasanya kala angin menyapa.. sekuat apapun ia nampak ceria dengan gumpalannya, ia tetap.. mengeras.
Pelangi tak lagi tersumbul bahagia, lengkungannya seperti menanti dibawa pergi badai kemarin.
Bintang, ia tak kehilangan kerlipnya.. berusaha melengkapi satu dua sisinya yang mati, berharap tak ada mata yang mengetahui.

Ramadhan ini, entah lagi.
Aku tak sadar apakah aku menanti.. 
atau menyiapkan hati, untuk kembali tersakiti..

#MePovEnd

2 komentar:

Unknown mengatakan...

Oh begitu..

fiana mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

Posting Komentar