Bagaimana proses terjadinya hubungan antara pengaruh lingkungan terhadap diri?
Ku rasa lingkungan benar-benar berpengaruh pada seseorang.
Oh ayolah, lingkungan disini yang kita tahu bukan hanya persoalan lingkungan rumah dengan keluarga, sekolah dengan teman dan guru dan sosial dengan tetangga sekitar kan? Kamu tentu lebih pandai soal ini.
Sesuatu yang lebih luas. Lebih spesifik dan lebih kuat pengaruhnya.
Nda merespon bukan berarti cuek kayak kebanyakan stigma seseorang terhadap orang yang terlihat nda "memperhatikan".
Siang itu, bude bercanda tentang gaya bahasaku yang akan berubah seperti orang kota. Kata "Lo dan gue", menjadi ciri khas seseorang yang pindah dari kampung ke desa. Entah dari mana, aku berpikir bahwa sifat yang akan berubah karena lingkungan adalah hal kuno. Dan cara berbicara serta sifat orang kota terkesan sombong dan nda sopan, seperti pengamatan dari ciri-ciri tetanggaku yang pindahan dari kota ke kampung.
Jadi jika aku akan berubah, maka aku menjadi orang sombong yang nda sopan serta kuno, alias sama saja dengan konsep anak kota.
Bahkan buku pelajaran menggambarkan daerah kota yang padat, dan sering terjadi banjir. Berjalan sendiri di jalan yang luas adalah hobiku. Bahkan apa seseorang bisa berjalan ketika lingkungannya padat rumah?
Ini bukan poin penting, tapi itu benar-benar terjadi, dan berhasil membuat was-was tentang "akan jadi seperti apa aku nanti".
Beberapa faktor yang mempengaruhi kekhawatiran ini adalah, perspektif orang lain, konsep diri, serta pengalaman sebagai informasi (hasil pengamatan verbal dan nonverbal), serta kurangnya ungkapan positif tentang "perpindahan" yang terjadi.
Siang itu, aku berjalan pulang dari rumah budeku. Dalam perjalanan yang singkat itu aku hanya berpikir, "bagaimana agar nda jadi semenyebalkan anak kota?". Ini nyata, dan aku samasekali nda tahu konsep baik atau semacamnya. "Bukankah menjadi buruk itu melelahkan?".
Dua hari setelahnya, pukul 2 pagi, kami sudah dalam perjalanan menuju kota Depok. Perjalanan yang terasa melelahkan, bahkan ketika baru dimulai. Suasana yang gelap dan sepi, aku bahkan sudah rindu teh hangat Mbah Salimah dan nasi kerupuknya.
"Semoga nda segersang yang aku bayangkan", harapan itu menjadi pengantar ku sebelum terlelap dan bermimpi tentang perjalanan yang sangat panjang.
Kami berangkat pagi pagi buta.
Ku rasa lingkungan benar-benar berpengaruh pada seseorang.
Oh ayolah, lingkungan disini yang kita tahu bukan hanya persoalan lingkungan rumah dengan keluarga, sekolah dengan teman dan guru dan sosial dengan tetangga sekitar kan? Kamu tentu lebih pandai soal ini.
Sesuatu yang lebih luas. Lebih spesifik dan lebih kuat pengaruhnya.
Nda merespon bukan berarti cuek kayak kebanyakan stigma seseorang terhadap orang yang terlihat nda "memperhatikan".
Siang itu, bude bercanda tentang gaya bahasaku yang akan berubah seperti orang kota. Kata "Lo dan gue", menjadi ciri khas seseorang yang pindah dari kampung ke desa. Entah dari mana, aku berpikir bahwa sifat yang akan berubah karena lingkungan adalah hal kuno. Dan cara berbicara serta sifat orang kota terkesan sombong dan nda sopan, seperti pengamatan dari ciri-ciri tetanggaku yang pindahan dari kota ke kampung.
Jadi jika aku akan berubah, maka aku menjadi orang sombong yang nda sopan serta kuno, alias sama saja dengan konsep anak kota.
Bahkan buku pelajaran menggambarkan daerah kota yang padat, dan sering terjadi banjir. Berjalan sendiri di jalan yang luas adalah hobiku. Bahkan apa seseorang bisa berjalan ketika lingkungannya padat rumah?
Ini bukan poin penting, tapi itu benar-benar terjadi, dan berhasil membuat was-was tentang "akan jadi seperti apa aku nanti".
Beberapa faktor yang mempengaruhi kekhawatiran ini adalah, perspektif orang lain, konsep diri, serta pengalaman sebagai informasi (hasil pengamatan verbal dan nonverbal), serta kurangnya ungkapan positif tentang "perpindahan" yang terjadi.
Siang itu, aku berjalan pulang dari rumah budeku. Dalam perjalanan yang singkat itu aku hanya berpikir, "bagaimana agar nda jadi semenyebalkan anak kota?". Ini nyata, dan aku samasekali nda tahu konsep baik atau semacamnya. "Bukankah menjadi buruk itu melelahkan?".
Dua hari setelahnya, pukul 2 pagi, kami sudah dalam perjalanan menuju kota Depok. Perjalanan yang terasa melelahkan, bahkan ketika baru dimulai. Suasana yang gelap dan sepi, aku bahkan sudah rindu teh hangat Mbah Salimah dan nasi kerupuknya.
"Semoga nda segersang yang aku bayangkan", harapan itu menjadi pengantar ku sebelum terlelap dan bermimpi tentang perjalanan yang sangat panjang.
Kami berangkat pagi pagi buta.
Memangku semangkuk ketidaktarikan akan ekspektasi dunia baru.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar