Ini tentang kamu, ya kamu.
Mahasiswa yang katanya cerdas, melampaui sekedar siswa di sekolah-sekolah. Yang baru saja kemarin memboikot rektor untuk menurunkan UKT dan menghilangkan uang pangkal atas nama, kebersamaan.
.......
Renyah.
.
.
Menengok kenyataan miris beberapa hari yang lalu, tepatnya 30 Mei 2016.
Sempat-sempatnya aku mengambil hasil rongent siang itu, motor kakak kelas yang kupinjam dengan terburu-buru selepas menjaga stand untuk mahasiswa baru yang ingin konsultasi.
Mengebut dijalan raya memang menyenangkan, namun tetap saja harus memperhatikan lalu lintas untuk menghindari hal yang tidak diharapkan.
Jujur saja, aku memang terburu-buru.
Karena ada agenda lain yang ingin ku kejar setelahnya.
Namun begitu saja, banyak orang-orang yang (mungkin) lebih terburu-buru dari ku hingga menerjang lampu merah begitu saja.
Ah sudahlah, setidaknya mereka selamat.
Kembali dari klinik seusai mengambil hasil lab dan rongent, langsung saja aku cap gas menuju kampus lagi. kembali ke yang katanya miniatur negara itu.
Lancar.
Meski harus mengerjap-ngerjap karena tidak membawa kacamata.
Ekhm, sekian prolognya~
Kampus sudah ada di sebelah kananku, namun macet akan mobil-mobil mewah yang diisi satu dua orang sukses memblokir jalanku.
Setelah menghentikan sebuah mobil fan kurasa jarak antara dua mobil cukup. Perlahan aku menyebrang untuk memasuki kampus.
Namun seketika, Brakk!!
Dengan sedikit kenalaran tentang apa yang terjadi, aku mengegas motor agar tidak tertindih. Huft alhamdulillah..
Eh?
Motor itu terjatuh??
ahh.. debaran itu makin kuat. Apakah.. ini namanya cinta?
*skip
Dua orang. Keduanya lelaki yang kini mengerang dihadapanku.
Dua motor yang tertabrak cukup keras.
Menyadari bahwa ia bukan mahramku, aku hanya melihat saat satpam menghampiri dan membantu berdiri.
Seseorang bahkan begitu kesakitan saat kakinya diluruskan.. Ah pak.. maafkan aku.. Setelah si bapak baikan, aku memberi sedikit uang pengganti untuk spionnya yang copot, dan lukanya yang cukup mengerikan.
Kembali aku pamit untuk melanjutkan agendaku.
Ah tidak, motor yang ku bawa tidak apa-apa.. Kakikupun hanya nyeri dibeberapa bagian..
Tapi jujur saja, hatiku sakit.
Sebut saja aku baper.
Yah kamu benar, aku baper..
Gerbang depan Kampusku selalu ramai, bukan oleh kendaraan yang menyebalkan itu.
Tapi oleh deretan mahasiswa yang memilih menghabiskan waktu senggangnya bercengkrama sambil 'nongkrong' mulai dari gapura hingga ujungnya.
Sabarlah hati.
Melihat hati mereka yang letih.. mungkin sistemnya sudah aus akan canda dan tawa.
Bukan tentang hati mungkin, Gerakan kecil saja tak ada.
Tidak. tidak ada mahasiswa yang membantu.
Bukan aku!
Tak perlu aku yang kalian bantu.
Bahkan mirispun tak tergambar di raut kalian.
Terimakasih.
Itu aja sih.
Untukmu, untuk kita. Mahasiswa.
Apa gerangan dengan hati kita?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar