Hidup akan terasa
begitu ringan, ketika kita memaknai bahwa hidup ini bukanlah kehidupan yang
kekal dan tak berujung..
Tahukah kamu?
Bahwa..
Sebagian golongan
menyatakan bahwa kehidupan yang sesuai adalah, dimana selalu dihadirkannya
kesetaraan dan penyamarataan taraf hidup dan kebahagiaan di dalamnya. Puncak
kejayaan adalah pernak pernik kehidupan yang wajib dirasakan sekoloni, secara
bersama dalam satu kelompok atau populasi tertentu.
Banyak hal yang
terlalu rumit dalam pemisahan pada tiap pernyataan mengenai suatu hal tersebut
untuk akhirnya dapat diuraikan dan menghasilkan sebuah solusi untuk
mengentaskan pertanyaan dan kondisi berat akan kebenaran di sisi-sisi tertentu.
Pernyataan mengenai kebangkitan
PKI adalah sebuah fenomena yang dihadapi tiap individu dengan responnya
masing-masing.
Ada yang seketika
menjadi begitu sensitif dengan perangkat-perangkat Komusnisme dalam bentuk
simbol atau perilaku yang tersemat pada banyaknya jenis penguaran ideologi dan
kebebasan berpendapat pada masa kini.
Ada juga yang
menyambut dengan penguatan diri atas pemahaman pada hak dan batil yang ia
tanamkan pada diri dan cara berfikirnya, pun ada juga yang mulai mempertanyakan
mengenai situasi tersebut, dimana awalnya ia bahkan belum memahami
masing-masing konstruk masalah atau isu yang memiliki titik awal yang dapat
ditelaah untuk meningkatkan kemampuan menganalisis masalah terkait isu
tersebut,
Bagaimana dengan Anda?
mungkin memiliki sisi kreatif dalam menghadapi pernyataan semacam ini yang akan
menarik jika kita diskusikan ^^
Golongan ini sendiri
memiliki perlawanan yang cukup sengit dengan golongan orang yang memiliki
keyakinan kapitalisme.
Dengan pendeknya
penyimpulan yang saya coba sederhanakan mengenai konsep kapital adalah, bahwa
dalam tatanan bahasa Indonesia yang baik dan mandraguna, kapital atau huruf
kapital adalah huruf besar yang hanya berada pada kondisi-kondisi tertentu,
bisa berada di awal kalimat, di tengah, maupun di akhir. Namun satu hal yang
menyamakan dengan satu dan yang lainnya adalah bahwa huruf kapital hanya ada di
awal kata, Awal dari penyebutan tertentu, yang memiliki kualifikasi tersendiri
yang menjadi pedoman bagi warga Indonesia untuk diikuti dalam usaha
penyempurnaan penulisan. Semakin spesial suatu kata atau dalam kondisi serupa,
maka semakin vokal penekanan kapital dan semakin ditiriskan huruf kecil yang
menyambanginya, seperti penulisan singkatan.
Konsep penulisan ini
sendiri, dipahami dengan konsep yang serupa oleh berbagai Negara di dunia.
Konsep pembedaan, pemberiaan kehususan dan keistimewaan yang mencolok pada
huruf-huruf yang dimaksud, dan menjadikannya berbeda dari kawan satu kata,
bahkan kalimat yang terikat dalam satu nafas.
Pihak ini memiliki
titik kenyamanan pada kondisi dimana ia dininabobokan oleh hirarki yang ada,
keberadaan peningkatan dalam kesamaan yang hakiki. Penekanan bahwa, manusia
akan bahagia bila menempati posisi yang lebih tinggi diantara lainnya, dan
memiliki kenyamanan bahwa menampakkan yang tidak dimiliki orang lain adalah
hobi yang epik.
Pergulatan ideologi
yang diasuh bersama dalam satu momongan, menjadikannya keterikatan yang
bersinggungan, semakin kentara dan saling memandang bahwa perihal yang salah
adalah pendosa, dan yang satunya adalah lingkaran kebaikan yang sesuai dengan
ideologi negara.
Mungkin perihal ini
bisa dirunut agar lebih menarik, dengan di tarik pada pertanyaan, apa
pertanyaan yang memulai lahirnya perpecahan ideologi ini?
Mungkin jawaban
singkat akan mudah tercetus, "Karena Kebutuhan".
Kebutuhan yang sama
dengan lahirnya penuntutan kesetaraan pada pendapatan hak wanita, pendapatan
hak kemerdekaan suatu negara, dan hak-hak manusia yang dituntut dengan
cara-cara tertentu, yang seringkali diabaikan bahwa terdapat kenyataan, hak
sendiri dipandang dengan cara yang beragam oleh masing-masing individu.
Pun ketika ia berada
dalam satu langkah yang sama.
Masing-masing
mengusungkan teori yang menguatkan pandangannya akan hakikat manusia. Hakikat
anu anu dalam per anuan manusia yang una inu.
Didasari kebutuhan,
perasaan bahwa idealnya kehidupan "bukan begini, tapi begitu"
Ini terlalu singkat
barangkali, menghakimi dua ideologi raksasa yang sudah brewokan(?) dan memiliki
kerumitan yang tidak rumit dalam memperumit kerumitan itu sendiri.
Barangkali ekor-ekor
yang mengamini salah satu paham tersebut, memiliki ketidak tahuan dari
kebutuhan awal yang menjadi trigger yang mengawali itu
sendiri.
Seperti yang
disampaikan oleh seorang kawan yang mulai mendalami ideologi komunis yang
nyatanya memiliki awal tujuan yang sama namun tidak menyerupai kebanyakan
pemahaman pada paham yang dipahami oleh kebanyakan orang.
Dalam hal ini, saya
mencoba menarik sesuatu yang mungkin lebih ringan dan meringankan, insyaAllah.
Kawan, kenapa kita
begitu sibuk mempertikaikan sesuatu yang dasarnya memberatkan dan merumitkan?
Sebab jauh sebelumnya,
“Dan
aku menyerahkan urusanku kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Melihat akan
hamba-hamba-Nya.” (Ghafir: 44)
Fenomena yang mampu mengaliri suka cita penyambutannya melalui getaran dedaunan dan keheningan yang menyejukkan, ketika yang mengakhiri risalah rasul hadir untuk menyempurnakan.
Assalam,
hanya makna keselamatan dari apa-apa yang ia sampaikan. Islam.
Kenapa islam begitu mudah menyeruak rongga-rongga hati yang kusam? sebab hati-hati itu mengetahui ketidak tahuan. Hati-hati yang akhirnya menangisi kesejukan yang akhirnya berembus didadanya.
Islam menghadiri konsep hakikat manusia untuk berjamaah, sekaligus dipimpin oleh satu imam yang dipercayakan. Saling menyilang selang seling dalam kebersamaan dan kesetaraan hak, dan memimpin untuk menjaga dan memberi.
Cukup.
Sebab ia menyempurnakan.
Maka kembali pada pernyataan atas koreksi mengenai konsep kehidupan yang rumit, dan saling bertanya dengan bobot pemahaman yang meyakinkan ia untuk semakin terhimpit ketidak tahuan. Sebab yang mereka tentukan, barangkali adalah atas ketidak pahaman.
Allahu
'alam.
Sebab ini dan itu menjadi mudah, ketika menyadari diri dan alasan dihadirkannya diri pada diri yang merasa terkuasai dan menguasai diri, bahwa diri kita bahwa bukan milik kita. Pun tentang pendirian dan usaha berdiri itu sendiri.
Maka
canangkanlah.. pun pribadi ini masih berusaha dalam memahaminya, bahwa
segalanya menjadi mudah ketika kita memahamiNya.. memahami titahNya.. memahami
cintaNya..
#Me End Pov
Tidak ada komentar:
Posting Komentar