My fans

2 Des 2017

Kenapa Begitu Rumit?

Hidup akan terasa begitu ringan, ketika kita memaknai bahwa hidup ini bukanlah kehidupan yang kekal dan tak berujung..




Tahukah kamu?
Bahwa..
Sebagian golongan menyatakan bahwa kehidupan yang sesuai adalah, dimana selalu dihadirkannya kesetaraan dan penyamarataan taraf hidup dan kebahagiaan di dalamnya. Puncak kejayaan adalah pernak pernik kehidupan yang wajib dirasakan sekoloni, secara bersama dalam satu kelompok atau populasi tertentu.

Banyak hal yang terlalu rumit dalam pemisahan pada tiap pernyataan mengenai suatu hal tersebut untuk akhirnya dapat diuraikan dan menghasilkan sebuah solusi untuk mengentaskan pertanyaan dan kondisi berat akan kebenaran di sisi-sisi tertentu.

Pernyataan mengenai kebangkitan PKI adalah sebuah fenomena yang dihadapi tiap individu dengan responnya masing-masing.
Ada yang seketika menjadi begitu sensitif dengan perangkat-perangkat Komusnisme dalam bentuk simbol atau perilaku yang tersemat pada banyaknya jenis penguaran ideologi dan kebebasan berpendapat pada masa kini.
Ada juga yang menyambut dengan penguatan diri atas pemahaman pada hak dan batil yang ia tanamkan pada diri dan cara berfikirnya, pun ada juga yang mulai mempertanyakan mengenai situasi tersebut, dimana awalnya ia bahkan belum memahami masing-masing konstruk masalah atau isu yang memiliki titik awal yang dapat ditelaah untuk meningkatkan kemampuan menganalisis masalah terkait isu tersebut,

Bagaimana dengan Anda? mungkin memiliki sisi kreatif dalam menghadapi pernyataan semacam ini yang akan menarik jika kita diskusikan ^^

Golongan ini sendiri memiliki perlawanan yang cukup sengit dengan golongan orang yang memiliki keyakinan kapitalisme.

Dengan pendeknya penyimpulan yang saya coba sederhanakan mengenai konsep kapital adalah, bahwa dalam tatanan bahasa Indonesia yang baik dan mandraguna, kapital atau huruf kapital adalah huruf besar yang hanya berada pada kondisi-kondisi tertentu, bisa berada di awal kalimat, di tengah, maupun di akhir. Namun satu hal yang menyamakan dengan satu dan yang lainnya adalah bahwa huruf kapital hanya ada di awal kata, Awal dari penyebutan tertentu, yang memiliki kualifikasi tersendiri yang menjadi pedoman bagi warga Indonesia untuk diikuti dalam usaha penyempurnaan penulisan. Semakin spesial suatu kata atau dalam kondisi serupa, maka semakin vokal penekanan kapital dan semakin ditiriskan huruf kecil yang menyambanginya, seperti penulisan singkatan.
Konsep penulisan ini sendiri, dipahami dengan konsep yang serupa oleh berbagai Negara di dunia. Konsep pembedaan, pemberiaan kehususan dan keistimewaan yang mencolok pada huruf-huruf yang dimaksud, dan menjadikannya berbeda dari kawan satu kata, bahkan kalimat yang terikat dalam satu nafas.

Pihak ini memiliki titik kenyamanan pada kondisi dimana ia dininabobokan oleh hirarki yang ada, keberadaan peningkatan dalam kesamaan yang hakiki. Penekanan bahwa, manusia akan bahagia bila menempati posisi yang lebih tinggi diantara lainnya, dan memiliki kenyamanan bahwa menampakkan yang tidak dimiliki orang lain adalah hobi yang epik.

Pergulatan ideologi yang diasuh bersama dalam satu momongan, menjadikannya keterikatan yang bersinggungan, semakin kentara dan saling memandang bahwa perihal yang salah adalah pendosa, dan yang satunya adalah lingkaran kebaikan yang sesuai dengan ideologi negara.

Mungkin perihal ini bisa dirunut agar lebih menarik, dengan di tarik pada pertanyaan, apa pertanyaan yang memulai lahirnya perpecahan ideologi ini?

Mungkin jawaban singkat akan mudah tercetus, "Karena Kebutuhan".
Kebutuhan yang sama dengan lahirnya penuntutan kesetaraan pada pendapatan hak wanita, pendapatan hak kemerdekaan suatu negara, dan hak-hak manusia yang dituntut dengan cara-cara tertentu, yang seringkali diabaikan bahwa terdapat kenyataan, hak sendiri dipandang dengan cara yang beragam oleh masing-masing individu.
Pun ketika ia berada dalam satu langkah yang sama.

Masing-masing mengusungkan teori yang menguatkan pandangannya akan hakikat manusia. Hakikat anu anu dalam per anuan manusia yang una inu.
Didasari kebutuhan, perasaan bahwa idealnya kehidupan "bukan begini, tapi begitu"

Ini terlalu singkat barangkali, menghakimi dua ideologi raksasa yang sudah brewokan(?) dan memiliki kerumitan yang tidak rumit dalam memperumit kerumitan itu sendiri.

Barangkali ekor-ekor yang mengamini salah satu paham tersebut, memiliki ketidak tahuan dari kebutuhan awal yang menjadi trigger yang mengawali itu sendiri.
Seperti yang disampaikan oleh seorang kawan yang mulai mendalami ideologi komunis yang nyatanya memiliki awal tujuan yang sama namun tidak menyerupai kebanyakan pemahaman pada paham yang dipahami oleh kebanyakan orang.

Dalam hal ini, saya mencoba menarik sesuatu yang mungkin lebih ringan dan meringankan, insyaAllah.

Kawan, kenapa kita begitu sibuk mempertikaikan sesuatu yang dasarnya memberatkan dan merumitkan?
Sebab jauh sebelumnya,

Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.” (Ghafir: 44)

Fenomena yang mampu mengaliri suka cita penyambutannya melalui getaran dedaunan dan keheningan yang menyejukkan, ketika yang mengakhiri risalah rasul hadir untuk menyempurnakan. 
Assalam, hanya makna keselamatan dari apa-apa yang ia sampaikan. Islam.

Kenapa islam begitu mudah menyeruak rongga-rongga hati yang kusam? sebab hati-hati itu mengetahui ketidak tahuan. Hati-hati yang akhirnya menangisi kesejukan yang akhirnya berembus didadanya.

Islam menghadiri konsep hakikat manusia untuk berjamaah, sekaligus dipimpin oleh satu imam yang dipercayakan. Saling menyilang selang seling dalam kebersamaan dan kesetaraan hak, dan memimpin untuk menjaga dan memberi. 
Cukup. Sebab ia menyempurnakan.

Maka kembali pada pernyataan atas koreksi mengenai konsep kehidupan yang rumit, dan saling bertanya dengan bobot pemahaman yang meyakinkan ia untuk semakin terhimpit ketidak tahuan. Sebab yang mereka tentukan, barangkali adalah atas ketidak pahaman.
Allahu 'alam.

Sebab ini dan itu menjadi mudah, ketika menyadari diri dan alasan dihadirkannya diri pada diri yang merasa terkuasai dan menguasai diri, bahwa diri kita bahwa bukan milik kita. Pun tentang pendirian dan usaha berdiri itu sendiri.
Maka canangkanlah.. pun pribadi ini masih berusaha dalam memahaminya, bahwa segalanya menjadi mudah ketika kita memahamiNya.. memahami titahNya.. memahami cintaNya..

#Me End Pov


Tidak ada komentar:

Posting Komentar