My fans

7 Jan 2017

Candu

Candu,
candu...
Candu.
Berkali-kali sorot mata mematikan waktu dalam diam..
Memandang suhu yang semakin berwarna, entah hitam entah putih..
Tergelak bersama aku dan daku.
Apa yang kulihat?


Aroma angin ini semakin kelabu,
menyisakan detik detik yang tercekat bersama candu.
Aku tak tahu! Kerusakan dilangit negri ini bukan salahku!
katanya..
Kemudian retaklah dua kelopak pelangi tersebab candunya.
Candu langit dan bumi.
Tsing~
Cahaya cinta perlahan menyilaukan
itulah mimpi... kehidupan.
Entahlah,
aku hanya orang yang tidak tahu.
Namun aku selalu mau,
menghentikan candu yang terlalu nista.
Kabar kabari semeliwir membawa aroma barbekyuw, menarik perhatian seketika. Bahkan sebelum irisan daging itu matang.
Indonesia ini ya?
hm, seperti merasa lelah tentang basa basi atas potensinya yang diraup diam-diam oleh kaum penghuni gronggongan yang melaju lebih cepat dan tenang.
Kembali terhuyung bersama candunya, pusing.
Nahkoda ku. Katanya.
Terkulai bak boneka kertas yang kecanduan menelan remah warna sekenanya.. lupa. buta. kemudian menjadi nista.
Wahai awak kapal, akankah kau tetap bersembunyi dibalik badai?
Sedang nahkodamu


Tidak ada komentar:

Posting Komentar