Setiap hati mudah sekali terkikis oleh arti janji yang mudah sekali melukai..
Iya janji kok nanti..
Iya nanti yaa..
Aku janji deh kalo..
dan bla bla lain.
Janji-janji diperanak dengan atau tanpa rasa sadar yang mengalir tiap berucap
Halus sekali irisannya, atau bahkan mampu menjadikannya hasil irisan yang indah
tetap saja ia mengiris, dilema dalam sebuah janji.
Menanti sebuah janji yang diucapkan bahkan seringkali menjadi irisan unik tersendiri.
Janji.
Suatu cermin datang menghampiriku.
"Wahai pribadi yang berkaca, janjimu cukup banyak melukai tiap hati yang menyimpannya."
Bukan sebuah lagu lama cinta yang saling menepikan arti hati yang terpatri diam-diam. Menyimpan janji untuk hati yang terikat diantara puluhan mil yang tersekat antar pulau.
bukan,
ini tentang arti janji dalam berjanji..
dalam Al-Quran surat An-Nahl, ayat 91: “Dan tepatilah perjanjianmu apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu. Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.”
Awal aku mengenal janji,
tak jarang yang ku ingat hanyalah tentang pengingkaran janji.. tentang sebuah pelanggaran ucapan dari untaian kalimat indah dalam janji.
ingatanku hanya penuh dengan janji yang diingkari, ataupun janji tanpa janji.
Kecewa adalah hal yang manusiawi.
Maka aku belajar merasakan kecewa sejak aku mengenal janji..
entah mungkin janji dan kecewa menjadi kawan seperanakan yang saling mengawani satu sama lain.
Pada dasarnya,
mungkin,
perkawanan itu adalah cara agar kita..
belajar memahami janji, agar membentuk sayatan berfaedah..
belajar menepati janji, agar tak melukai
belajar menyiapkan diri atas janji, agar hati yang kecewa mudah memaklumi.
Ini tentang belajar,
pun tentang bersabar..
#Me End Pov
Tidak ada komentar:
Posting Komentar