My fans

1 Feb 2019

Ku Cari..

Anggap saja ini potongan film laga.



Angin kencang baru saja berhembus, disertai hujan deras yang singkat dalam beberapa menit. Badai.
Tapi adegan itu berhasil memporak-porandakan area perkemahan para pendaki gunung.

Saat itu aku sedang mengecek kekuatan tali pengikat tenda dengan pasak yang ditancapkan menjorok ke area jurang.

Langit yang mendadak gelap, disertai gemuruh yang entah dari mana, para pendaki wanita mulai berdzikir dengan suara parau. Sedangkan beberapa lelaki lainnya segera mengarahkan kelompok untuk berpegangan pada apapun yang kokoh, dan menutup jaket untuk menutup bagian tubuh yang terbuka.

"Whuzz.." angin mengawali dengan kencang, aku mencoba menggenggam pangkal pohon di sisi kanan, setelahnya mencoba menarik resleting jaket yang terbuka. Hujan deras dengan gemuruh guntur, membuat siapapun yang mendengar bergidik.

"Aaaaakk!", Sebuah teriakan histeris seseorang. Terkejut!
Aku menoleh cepat ke sisi kanan, terlihat warna jaket hitam-kuning, anggota kelompok lain yang sedang kelimpungan mencari pegangan, sambil tengkurap dan mencoba meraih apapun, kini tubuhnya sudah beberapa senti lagi mendekati jurang.

Menangis! Dengan wajah pucat dan tegang,dia mencoba menggapai apapun dengan brutal, tak tentu arah.

Segera kuraih tangannya sekuat tenaga, kutarik lengannya agar menggapai pangkal pohon di sisiku. Tak kuat!

Tanah mulai terangkat angin kencang, kondisi tenda dan lainnya sudah mengenaskan. Beberapa orang berpegangan tangan dan memeluk pohon dan batu besar.

Aku melepas pegangan pada pangkal pohon, kutarik orang itu sekuat tenaga.
Berhasil!

Bebatuan yang berterbangan menampar keras mataku,
Akk!
Limpung,
sambil memejamkan mata, aku menggapai pangkal pohon itu.

Kosong! Tanganku menggenggam dedaunan basah.
Tiba-tiba tanah di sekitarku sedikit bergerak
"Ya Allah..", entah, batinku kelu.

Satu kali.., dua kali..  empat kali! Dengan keras badanku tertubruk sesuatu yang keras dan berat.
Ku coba membuka mata, badanku sudah sangat condong memasuki jurang.
Kakiku menendang-nendang mencoba mencari pijakan.

Tap!
Tanganku menggapai tangkai pohon yang menjorok keluar.
Hanya satu kaki yang berhasil berpijak di batu.

Dengan tiba-tiba, angin mulai tenang, hujan kini hanya tinggal rintik halus.
"Ada apa ya Allah.."

Aku tertunduk, lelah.

Aku mencoba menggerakkan tangan yang lain untuk mencari pegangan. Aku harus bergerak naik!

"Eh?"
Terdiam, aku merasa aneh.
Sedari tadi aku hanya menggerakkan bahuku, eh?
Sambil menahan nafas, ku lihat tanganku.

Lengan jaket terkoyak, darah bercampur dengan tanah. Ah.. begini rasanya..
Aku menghentakkan kaki untuk menghilangkan rasa sakit ketika tanganku sedikit bergoyang.

"Tolong...", Mencoba menengadah, ku buka mata perlahan.
Limpung.
Genggamanku hampir terlepas.
Aku kembali tertunduk, dan mempererat genggaman pada tangkai itu.

'Bertahanlah tangkai.. terimakasih telah mengizinkanku menggenggamu'
Aku terkekeh dalam diam.

"Tolong...", Tenggorokanku sakit!
Aku coba berdehem ringan, uhuk!
Bisa kulihat beberapa tetes darah berhamburan.

"Eugh.. ehem! Ehk.. a.. aaa..", aku memaksa tenggorokanku bertahan.

"Tolong..", seperti orang malas.
Aku berteriak pelan dengan kepala menunduk.

Aih, apa langit memandaku sedang bercanda?

••••

Udara makin dingin, kini tanah basah ditubuh ku mulai mengering.
"Laa Hawlaa Wa Laa Kuwwata Illabillah..", aku mendesis pada tanah di depanku.

Mengantuk.
Ku benturkan kepala pada tanah, aku harus bertahan! Setidaknya.. beberapa menit lagi..

Berkali-kali ku baca syahadat dalam hati, ku bisikkan perlahan dengan sisa suara.
Bersiap.

Tanganku mulai mati rasa.
Kakiku yang sedari tadi bergetar, mulai kehilangan koordinasi pada lututnya.

Aku memejamkan mata, dan menempelkan wajahku pada tanah.
"Ade.. maaf kakak gak pamit, jagain umi..".

Ku coba meremas tangkai baik itu,

•••
"Mba! Nanti pulangnya kita main tepuk korup yaaa", ujar seorang bocah lelaki umur 11 tahun. "Mba belum hafal mainnya boy! Nanti ajarin lagi yaa", aku mengacak-acak rambutnya yang sudah tumbuh menutupi dahinya.

"Mbaa nanti pulangnya berenang ya! Tapi main UNO duluuu", gadis cilik hitam manis itu meringis lucu. Satu tahun dibawa kakaknya. Dia hanya setinggi pinggangku, memeluk dengan gemas. Aku berjongkok dan kembali memeluknya.

"Umi..", ia masih fokus pada koleganya.

Aku menghampiri dan bersalim, segera mengalihkan mataku ke arah adik-adik yang sekarang serius menonton Shaun the sheep.
"Sana mandi! Mba berangkat yaa..
Assalamualaikum.."

"Waalaikumussalam mbaaa", mereka berebut untuk bersaliman. rusuh.

•••
Mataku terbuka dengan suara tadi.
Mencoba mengarahkan mataku pada arah suara,

Seseorang dengan tali melilit tubuhnya, tangannya mencoba menggapaiku.

Aku tersenyum kecil,
Beberapa detik setelah dia menggenggam jaketku, aku limpung.

Gelap.
Aku merasa lebih ringan..
'Umi sehat-sehat ya..' sekelebat sosok wajah umi terbayang, 'maafin aku..

#Chpt
#DeJavuS4
Hmm berlanjut gak yaaa 😮

Tidak ada komentar:

Posting Komentar