Namanya Revat, dia selalu menemaniku sejak kecil. Sebulan setelah perpindahan ku ke kota asing ini, kota Tegal.
"Ssst, hei, sini main disini, anginnya sejuk", seorang lelaki kecil memanggilku dari atas tembok pembatas.
Sisi kiri rumahku adalah jurang, biasa digunakan oleh penduduk setempat untuk lokasilokasi pemb sampah. Beberapa meter dari tebing, ada hutan yang dialiri sungai dangkal.
Ku hapus air mata yang setengah kering, abangku jahat! Dia mempermainkan aku yang mengejarnya selama setengah jam hanya agar aku bisa ikut bermain.
Usai Dzuhur tadi, Abang bilang agar aku bergegas jika ingin bermain. Bahkan aku tak makan agar cepat bisa bergabung dengan Abang yang sebelumnya sholat di masjid.
Dia dan teman-temannya hanya tertawa dan melengos pergi, dengan sepedanya.
Aku melangkah mendekati pembatas.
"Sini duduk", dia mengelap sedikit ruang kosong di depannya.
Rambutnya coklat gelap, terlihat jelas karena saat ini matahari masih di puncaknya. Tingginya tidak jauh dariku, seumurankah?
"Yah cengeng! Hehe", dia hanya tersenyum dengan gigi kelincinya yang unik.
Pembatasnya tidak tinggi, hanya setengah dari badanku, setinggi anak TK pada umumnya.
"Kamu siapa?", Aku memicingkan mataku karena ledekan itu. Sandal yang ku kenakan, ku lempar ke depan rumah, takut terjatuh.
"Aku Revat, Asherevat", matanya lurus memandang hutan.
"Kamu takut setan?", Revat melirikku sekilas.
"Kata umi, gak boleh takut setan, nanti setannya seneng. Tapi jangan nonton Mumun, nanti manja kalo mau ke kamar mandi", aku mengingat wajah Abang yang meledekku saat takut tidur sendiri.
Tiba-tiba aku berdiri, menarik nafas dalam dalam dan berteriak layaknya orang yang berpidato tentang Rezim Pemerintah di Indonesia.
"Hei kamu para setan! Aku tidak takut pada kalian. Allah kata umi selalu bersama orang yang pemberani! Pergilah kau.. pergi!", Kemudian aku kembali duduk, entah kenapa, rasanya sedikit gamang.
Sosok di sebelahku sudah cekikikan, "Duh ni cewe ya! Haha.. Ra.. Ra.. ", dia tertawa sambil menutupi matanya.
Eh? Dia mengenalku?
Sebelum sempat bertanya, dia sudah melompat turun dan mengenakan sandalnya yang juga dilepas.
"Aku pulang dulu ya, di panggil ibu", dia meledekku dengan ekspresi menangis,
"Yak! Sana pulang",
Sebelum pergi dia sempat berbalik, "Capek tahu nangis, jangan nangis lagi, nanti kita main bareng yaa", dia berlari cepat, aku tak memperhatikan arahnya pergi.
Aku kembali terdiam, menatapi sungai yang terlihat menyegarkan.
Tiba-tiba aku memikirkan dari mana Revat tau ibunya memanggil, ah mungkin dia di beri waktu sebentar untuk bermain dan harus segera pulang.
Ok sekarang aku punya teman.
#chpt
#DeJavuS7
"Ssst, hei, sini main disini, anginnya sejuk", seorang lelaki kecil memanggilku dari atas tembok pembatas.
Sisi kiri rumahku adalah jurang, biasa digunakan oleh penduduk setempat untuk lokasilokasi pemb sampah. Beberapa meter dari tebing, ada hutan yang dialiri sungai dangkal.
Ku hapus air mata yang setengah kering, abangku jahat! Dia mempermainkan aku yang mengejarnya selama setengah jam hanya agar aku bisa ikut bermain.
Usai Dzuhur tadi, Abang bilang agar aku bergegas jika ingin bermain. Bahkan aku tak makan agar cepat bisa bergabung dengan Abang yang sebelumnya sholat di masjid.
Dia dan teman-temannya hanya tertawa dan melengos pergi, dengan sepedanya.
Aku melangkah mendekati pembatas.
"Sini duduk", dia mengelap sedikit ruang kosong di depannya.
Rambutnya coklat gelap, terlihat jelas karena saat ini matahari masih di puncaknya. Tingginya tidak jauh dariku, seumurankah?
"Yah cengeng! Hehe", dia hanya tersenyum dengan gigi kelincinya yang unik.
Pembatasnya tidak tinggi, hanya setengah dari badanku, setinggi anak TK pada umumnya.
"Kamu siapa?", Aku memicingkan mataku karena ledekan itu. Sandal yang ku kenakan, ku lempar ke depan rumah, takut terjatuh.
"Aku Revat, Asherevat", matanya lurus memandang hutan.
"Kamu takut setan?", Revat melirikku sekilas.
"Kata umi, gak boleh takut setan, nanti setannya seneng. Tapi jangan nonton Mumun, nanti manja kalo mau ke kamar mandi", aku mengingat wajah Abang yang meledekku saat takut tidur sendiri.
Tiba-tiba aku berdiri, menarik nafas dalam dalam dan berteriak layaknya orang yang berpidato tentang Rezim Pemerintah di Indonesia.
"Hei kamu para setan! Aku tidak takut pada kalian. Allah kata umi selalu bersama orang yang pemberani! Pergilah kau.. pergi!", Kemudian aku kembali duduk, entah kenapa, rasanya sedikit gamang.
Sosok di sebelahku sudah cekikikan, "Duh ni cewe ya! Haha.. Ra.. Ra.. ", dia tertawa sambil menutupi matanya.
Eh? Dia mengenalku?
Sebelum sempat bertanya, dia sudah melompat turun dan mengenakan sandalnya yang juga dilepas.
"Aku pulang dulu ya, di panggil ibu", dia meledekku dengan ekspresi menangis,
"Yak! Sana pulang",
Sebelum pergi dia sempat berbalik, "Capek tahu nangis, jangan nangis lagi, nanti kita main bareng yaa", dia berlari cepat, aku tak memperhatikan arahnya pergi.
Aku kembali terdiam, menatapi sungai yang terlihat menyegarkan.
Tiba-tiba aku memikirkan dari mana Revat tau ibunya memanggil, ah mungkin dia di beri waktu sebentar untuk bermain dan harus segera pulang.
Ok sekarang aku punya teman.
#chpt
#DeJavuS7
Tidak ada komentar:
Posting Komentar