My fans

18 Feb 2019

Revat 2.0

Pagi itu masih sama, terasa kering dan sepi.
Ya, jalanan sekitar rumahku masih terbilang ramai penduduk, tapi sangat sepi.
Orang-orang lebih suka beraktivitas di waktu subuh hingga awal pagi dan sore hari menjelang tengah malam.

Disini aku sekarang, tempat favorit ku.
Bersandar malas di teras rumah nenek yang dingin.
Waktu matahari belum terlalu tinggi, pukul 9 siang adalah jadwal ku keluar rumah.

Umi sudah sibuk dengan pekerjaannya, dan abang ku sudah bermain keluar dari sebelum aku bangun.

"Ra!", Suara yang tak asing membuatku refleks menoleh ke sumber suara.

"Raaaa.. Revat nih, kamu liburnya sampe kapan?", Bocah itu ikut duduk bersandar di sisi lain teras.
Aku diam sejenak. Eh? Anak kecil yang kemarin ya?
Jujur saja aku memiliki kesulitan menghafal wajah orang. Payah.

"Eh iya, mm.. kata abang masuknya Minggu depan", bingung.

Yee! Minggu depan aku sudah TK nol besar!
Sebentar lagi aku dan abang akan satu kelas!
(Fikirku kala itu..)

Setelah jeda panjang yang diisi tanpa percakapan.
Tiba-tiba Revat berdiri dan mendekat.

"Main yuuuhhh, aku sekarang punya mainan bongkar pasang! Ada mobilnya sama warnanya bagus!", Dengan semangat yang sangat mengejutkan, dia mengajakku untuk bermain kerumahnya.

Mau? Mau! Satu-satunya mainan di rumahku hanya robot dan mobil yang dibelikan sekaligus dua, mas bahagia, aku? Aku ikut senang dan berusaha memainkannya jika bosan belajar.

"Aku bilang umi dulu ya, kamu dimana rumahnya?", Aku bertanya cepat sambil mengenakan sandal. Ah pasti akan menyenangkan!

"Di deket kali, sebelum terowongan", Revat sedikit berteriak karena aku sudah mulai berlari ke arah rumah.

Tenang, nenekku tak akan terganggu, mayoritas penduduk di sini adalah pedagang di pasar, termasuk nenek. Itulah kenapa daerah rumahku sering sepi.

Setelah mengatur nafas, aku memasuki rumah berpintu coklat itu.

"Mi.. aku mau main ke temen", aku melangkah pelan mendekati umi yang sibuk dengan mesin jahitnya.
"Rumahnya deket kali sebelum terowongan mi, kan deket rumah budhe, boleh ya mi?",
Sebenarnya aku terbiasa dengan larangan, maka saat ini aku mempersiapkan diri untuk tidak diperbolehkan, seperti biasa.

Setelah lama menunggu, sambil meraih kain coklat di sisi kanannya.
Tiba-tiba umi melirikku dan terkejut, dengan posisi sedikit bergerak mundur, umi langsung terjatuh dengan suara keras.

Aku jengah.
Eh?
Umi terdiam dan menunduk, sesaat dia mendengak ke arahku dengan wajah yang cukup mengejutkan.

Umi menangis..

Eh?
Hal konyol yang bisa kulakukan adalah,
dengan depat mengulang semua yang ku katakan sebelumnya, aku hanya teringat Revat yang menuggu, dan segera berlari keluar rumah setelah melihat umi mengangguk.

Setelah menutup pintu, aku mendekati jendela depan rumahku.
Jendela yang hampir dua kali lipat tinggi dan tiga kali lipat lebar tubuhku, dengan jelas dapat kulihat umi yang bergerak, kembali duduk di kursi plastik berwarna hijau dan mulai menjahit lagi.

Masih bingung.
Aku hanya melanjutkan langkahku menghampiri Revat.

"Taraaaa...", Revat menjatuhkan mainan yang ia janjikan dari sebuah kotak kardus.

"Keren kan?", Kembali menampilkan seringai pamer dengan gigi kelincinya.

Aku membulatkan mata, keren.
Mengambil kertas yang ikut terjatuh dan berseru dengan semangat ketika melihat aneka gambar dan formasi yang dibentuk dari mainan ini.

Aku bisa membaca koran sejak usia 2 tahun, kau ingat? Dan.. saat ini aku hanya melempar kertas itu sembarangan, karena memiliki kata-kata yang tidak ku kenal.

Revat mulai menyusun mainan dengan cekatan.
Aku? Aku memperhatikan tiap bagian, karena bentuknya yang berbeda-beda.
"Ini buat apa?", Aku mengangkat benda yang berbentuk bulat dan berlubang.

"Itu jadi orang nok", aku sedikit terperanjat ketika suara wanita dewasa menjawab pertanyaan ku.

"Ini diminum ya, sama ada jajan dimakan aja.. tumben Revat bawa temen ke rumah. Makasih ya..", wanita itu meletakkan nampan di atas meja.

Sambil tersenyum, mengacak-acak rambut Revat, sebelum akhirnya meninggalkan kamar Revat.

Yap, kami bermain di kamar Revat, lebih tepatnya di kasurnya yang lebar.

Sesaat setelah memasuki rumahnya, aku cukup kagum dengan kerapihan dan kesederhanaan di dalam nya.
Ibu Revat sedang menerima tamu, dan Revat langsung membawaku memasuki kamar.

Aku mulai sibuk membangun rumah-rumahan ala kerajaan.

Revat sedang sibuk membangun... Entahlah, seperti bangunan lurus yang sangat tinggi. Aku iseng menyenggol, dan...
'Pranngk..

Matanya sudah berkaca-kaca, aku buru-buru memberikan bangunan ku padanya.
Aku kembali membagun rumah dari awal.

Tanganku terhenti ketika mendengar suara umi memanggilku.

Revat menemaniku keluar rumah setelah pelan-pelan kembali mengajaknya berbicara.

"Eh Ra! Tadi umi nyari.. katanya mau ngajak pergi ke rumah Bila mau nganter pesanan", Seorang wanita paruh baya yang sering datang ke rumah nenek menyampaikan secara singkat, sebelum ia kembali melangkah pergi.

"Rev...", aku melirik Revat dan, Astaga! mukanya sudah sangat jelek. Bahkan sisa air mata sebelumnya masih berbekas.

"Siang aja pulangnya Ra", suaranya bergetar, menahan tangis.

Kami pun kembali ke rumahnya dan melanjutkan permainan. Aku juga senang, karena bisa minum air dingin yang selalu dilarang umi.

Saat ini pukul 1 siang, setelah cukup mengantuk, aku melihat Revat yang sudah tertidur pulas dengan hamburan mainan di badannya.

Aku beranjak turun dan pamit pada ibu Revat.

-Umi ke rumah Bila sama mas-

Aku terdiam melihat secarik kertas yang ditempel di pintu rumah.
Pintu rumah pun dikunci, biasanya jika rumah dikunci maka aku akan diajak pergi, karena umi akan pergi lama.

Terdiam beberapa saat,
Bila temen abang di TK kan ya?
Umi pernah bawa ke toko ka Bila beberapa Minggu lalu, aku ingat! Pasti mereka disana..

Aku berjalan santai
Lapar? Ah aku hanya ingin bertemu umi saat ini.

Aku terus melangkah, melewati pasar, mall besar sampai melewati rel kereta. Jaraknya kurang lebih, jika kamu orang Rawamangun, seperti dari Sunan Giri ke TUgas. Tidak jauh kan?

Di depanku kini, sebuah persimpangan jalan yang sangat luas. Ada 5 ruas jalan yang berbeda. Di salah satu sisi jalan itu, adalah Toko ka Bila.
Aku mulai berjongkok diujung trotoar.
Menunggu.

Umi akan keluar dari sana kan?

Aku hanya berfikir bahwa sangat berbahaya jika aku menyebrang sendiri, dan kini hanya menunggu sambil memperhatikan orang dan kendaraan yang lewat.

Hari mulai sore.

Sudah berkali-kali aku merubah posisi duduk, sesekali bermain di becak yang kosong dan berseru-seru ketika kereta melintas.

"Heh! Ngapain? Ayo sini pulang!", Sebuah tangan menepuk pundak ku agak keras. Aku menoleh refleks.

"Eh mba? Aku nunggu umii..", kembali memunggungi anak dari Budhe ku dan memandangi toko diujung jalan.

"Umi dimana? Heh udah mau Maghrib Ra! Ayo pulang aja nanti ketemu", ia menarik paksa tanganku.

Aku menurut dan melangkah pulang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar