ketika agamaMu menyeru untuk menatap dunia di bawahmu untuk membuatmu bersyukur..
melakukannya dengan membuka jendela baru.. meyakini diri bahwa kepemilikan hanyalah titipan..
tak ada tentang milikku, tak ada tentang yang tergenggam..
Ketika agamaMu menyeru untuk menatap dunia di atasmu untuk membuatmu merasa tak ada yang benar benar sempurna selainNya..
melakukannya dengan mempelajari lubang awan dengan berbagai cerita langitnya.. meyakini diri bahwa pribadi ini bukan hal besar dibanding reruntuhan angin..
tak ada tentang kesempurnaan, tak ada yang patut dibanggakan..
andaikan aku seperti mereka..
yang mampu berpegangan dalam segala aspek yang mencangkupi hal itu. Begitu mahir meramu setiap suara hati dengan usaha mereka yang begitu besar, maupun dengan tersenyum begitu saja.
maafkan aku..
maafkan pribadi ini..
bukan hal baik dan begitu nista.
Terkatakan oleh sang wahai, berjalanlah di atas bumi yang luas ini, tataplah setiap inci debu yang membawamu melangkah, dengarlah lantunan dunia yang parau sekaligus berirama indah, pahamilah dengan caramu agar duniamu tak lagi tentang 7 langkah setiap harinya...
Entah bagaimana rasanya begitu rumit.
mugkin aku kurang bertanya.. seringkali bertanya dan meraung pada tembok tembok pucat yang bergeming.
Seringkali khilaf untuk memahami arti sang suci yang terbuka hanya beberapa saat..
maafkan aku..
maafkan diri yang hina dan nista ini..
Tentang pohon, entah mengapa.. berkeliling dalam dunia taman yang terasa bersisik sekaligus licin dan kasat.
Membuatku malu.. dan terus saja bertanya seperti orang menggelikan.
maafkan aku..
maafkan aku yang tak bersyukur dan nista ini..
Untuk hal ini, begitu sulit mencoba..
memeluk pohonku, yang.. begitu berbeda.
sulit.
dan aku terus mencari.. sisi mana yang membuat ku sama dengan pemilik pohon lain.. mencari seperti kesetanan.
Kemudian begitu bingung..
bingung tentang, sebenarnya apa yang aku cari?
kemudian begitu kecewa..
kecewa tentang, sebenarnya apa yang aku harapkan?
mendoakan waktu kembali berputar dengan ketidak mungkinannya..
maafkan aku..
maafkan aku yang nista ini..
maafkan aku yang belum mampu memaafkan waktu..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar