Ini pertamakalinya anak itu memasuki bangunan itu.
Wanita yang membawanya sibuk melangkah cepat sembari memperhatikan peta bangunan di sudut kanan lorong yang cukup sesak, di kanan kiri dipenuhi orang paruh baya di bangku panjang berwarna hijau.
Dia kembali melangkah mengikuti wanita didepannya, sesekali berhenti sejenak ketika bertemu dengan beberapa orang.
'Bagus. Aku suka bangunan ini, astaga! Lihatlah bahkan ada air terjun di taman itu!' Anak itu tidak pernah berhenti sedikitpun mengamati sekitarnya.
"Misi ya Dek,", seorang pria dengan masker mengejutkannya, ia segera beringsut mendekati tembok di sisi kanannya. Pria itu melenggang dengan kursi rodanya.
'Apa pria itu sedang malas berjalan?'
Sejenak dia berdialog dengan dirinya mengenai alasan pria tersebut berada di kursi roda. Tak hanya satu, bahkan ada anak kecil yang duduk manis di kursi roda, dengan sarung tangan berbahan kain, 'oh lihat! Sarung tangan itu terhubung dengan sebuah kantong air di ujung tiang pada sisi kanannya, anak itu apakah begitu lelah berjalan? Bahkan dibelakangnya seorang lelaki paruh baya mendorog kursinya dengan wajah lelah,'.
'Tempat yang unik'
Dia paham betul tempat apa itu, ia mencoba menghadirkan 'percakapan' untuk menemani diamnya.
Wanita dan anak itu mulai memasuki lorong yang berbeda, dengan banyak pintu.
Nampak lebih sepi dibanding sebelumnya.
Aroma pekat dari bangunan itu, dipadu dengan udara yang panas, menjadikan sensasi lelah ditiap helaan nafas. Berat. Entah apa yang anak itu fikirkan mengenai ini.
-R. Psikiater Anak-
Ia tertegun sejenak,
Sebelum duduk di bangku panjang yang berada tepat di sisi kanan pintu itu, ia sempat membaca tulisan itu, ia terbiasa membaca apapun yang ia lihat. Yah, itu hal biasa karena anak itu sudah mulai membaca tulisan di koran sejak umur 4 tahun.
Dalam diam anak itu berfikir keras, tentang makna psikiater yang tidak ia temukan dalam pengetahuannya.
Ia menyerah, dan mulai memainkan ujung krudung birunya.
'Bosan', ia mencoba turun dan menjelajahi lorong itu, namun langkahnya terhenti ketika namanya disebut oleh seorang wanita berjaket putih.
Ia mengikuti langkah kedua wanita itu, memasuki sebuah pintu.
'Dingin dan segar', sensasi pertama yang ia rasakan ketika memasuki ruangan itu.
Kedua wanita itu mulai becakap dengan nada yang penuh tekanan namum teramat pelan.
Anak itu mulai mengayun-ayunkan kakinya, 'mual' entah mengapa ia merasai mual sejak pertama duduk dikursi tinggi itu. Menggerakkan kakinya seperti memberi dukungan pada perutnya untuk menahan mual itu.
"Halo cantik, apa kabar..?", wanita itu tersenyum sembari menjulurkan tangannya.
Ah, ingatanku.
Hanya tergambar sesosok wanita dengan coretan pensil diwajahnya, bahkan aku tak mengingat sedikitpun tentang percakapan hari itu. Yang aku ingat, anak itu mulai memasang puzzle dengan santai, dan menggambar gunung sesuai gambar pertama yang ia lihat di ruangan itu.
#MePoveEnd
Wanita yang membawanya sibuk melangkah cepat sembari memperhatikan peta bangunan di sudut kanan lorong yang cukup sesak, di kanan kiri dipenuhi orang paruh baya di bangku panjang berwarna hijau.
Dia kembali melangkah mengikuti wanita didepannya, sesekali berhenti sejenak ketika bertemu dengan beberapa orang.
'Bagus. Aku suka bangunan ini, astaga! Lihatlah bahkan ada air terjun di taman itu!' Anak itu tidak pernah berhenti sedikitpun mengamati sekitarnya.
"Misi ya Dek,", seorang pria dengan masker mengejutkannya, ia segera beringsut mendekati tembok di sisi kanannya. Pria itu melenggang dengan kursi rodanya.
'Apa pria itu sedang malas berjalan?'
Sejenak dia berdialog dengan dirinya mengenai alasan pria tersebut berada di kursi roda. Tak hanya satu, bahkan ada anak kecil yang duduk manis di kursi roda, dengan sarung tangan berbahan kain, 'oh lihat! Sarung tangan itu terhubung dengan sebuah kantong air di ujung tiang pada sisi kanannya, anak itu apakah begitu lelah berjalan? Bahkan dibelakangnya seorang lelaki paruh baya mendorog kursinya dengan wajah lelah,'.
'Tempat yang unik'
Dia paham betul tempat apa itu, ia mencoba menghadirkan 'percakapan' untuk menemani diamnya.
Wanita dan anak itu mulai memasuki lorong yang berbeda, dengan banyak pintu.
Nampak lebih sepi dibanding sebelumnya.
Aroma pekat dari bangunan itu, dipadu dengan udara yang panas, menjadikan sensasi lelah ditiap helaan nafas. Berat. Entah apa yang anak itu fikirkan mengenai ini.
-R. Psikiater Anak-
Ia tertegun sejenak,
Sebelum duduk di bangku panjang yang berada tepat di sisi kanan pintu itu, ia sempat membaca tulisan itu, ia terbiasa membaca apapun yang ia lihat. Yah, itu hal biasa karena anak itu sudah mulai membaca tulisan di koran sejak umur 4 tahun.
Dalam diam anak itu berfikir keras, tentang makna psikiater yang tidak ia temukan dalam pengetahuannya.
Ia menyerah, dan mulai memainkan ujung krudung birunya.
'Bosan', ia mencoba turun dan menjelajahi lorong itu, namun langkahnya terhenti ketika namanya disebut oleh seorang wanita berjaket putih.
Ia mengikuti langkah kedua wanita itu, memasuki sebuah pintu.
'Dingin dan segar', sensasi pertama yang ia rasakan ketika memasuki ruangan itu.
Kedua wanita itu mulai becakap dengan nada yang penuh tekanan namum teramat pelan.
Anak itu mulai mengayun-ayunkan kakinya, 'mual' entah mengapa ia merasai mual sejak pertama duduk dikursi tinggi itu. Menggerakkan kakinya seperti memberi dukungan pada perutnya untuk menahan mual itu.
"Halo cantik, apa kabar..?", wanita itu tersenyum sembari menjulurkan tangannya.
Ah, ingatanku.
Hanya tergambar sesosok wanita dengan coretan pensil diwajahnya, bahkan aku tak mengingat sedikitpun tentang percakapan hari itu. Yang aku ingat, anak itu mulai memasang puzzle dengan santai, dan menggambar gunung sesuai gambar pertama yang ia lihat di ruangan itu.
#MePoveEnd
Tidak ada komentar:
Posting Komentar