Terduduk kaku dipojok lorong yang sesak
Ini, aku disini..
Kupingku pecah.
Mengotori lembar tugas yang tersumpal padat,
Seakan begah tumpang tindih di dalam tas kecil ini
Katamu aku harus belajar dengan benar, ya kan
Agar otakku encer.
Kupun tetap belajar dengan baik agar kau tersenyum
Ah, manisnya senyummu itu.
Satu dua puluhan piagam melatari ruang santaimu
Otakku semakin encer, kan yah?
Kau terenyum manis, saja
Lama- lama aku bosan yah.
Kepalaku terhuyung konyol pagi itu
Isinya cukuplah otakku yang encer
Terombak kecil ditiap langkah
Tak apa, katamu
Senyum manis itu lagi, ah
Sore itu,
Terduduk kaku di pojok lorong yang sesak
Cairan otak mendebur dengan garang, penuh, katanya
Kepalaku mengamuk, ingin dikosongkan.
Lelah menghadirkan ketidak nyamanan, hanya semakin penuh dan penuh
Kupingku pecah.
Bolehkah aku tak belajar sejenak?
Menekuri arti kebenaran sepertinya asik yah
Senyum manis itu mencicit kabur
Tak boleh?
Ah, Aku bosan yah.
Ku panggil sajalah engkau,
kampusku yang manis.
Ceracasku, agar di hari kelahiranmu nanti
Senyummu, Bijakmu
-Sebuah puisi lawas, dari beberapa masa di awal perkuliahan-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar