Ashy merasakan gemuruh di dadanya, udara yang ia hirup tiba-tiba terasa sulit.
Belum ada lima menit Redha pergi, setelah pertemuan kedua minggu ini.
'terlalu banyak pertemuan...
'terlalu banyak..
'terlalu banyak kebohongan.
Suara itu menggaung gaung di telinga Ashy.
Ia mondar mandir mencoba mengurangi tegangan yang mengikat tenggorokannya. Ia mencoba mengambil lebih banyak udara dengan tarikan yang lebih kuat.
'bunuh dia..
'bunuh apapun di depanmu saat ini..
'bunuh mereka yang berisik.
Ashy mencoba berbicara dengan dirinya, tapi semua diam. Semua mengabaikannya.
Ia berhenti di depan pintu kamarnya.
BUK! BUKK!!
Beberapa kali ia memukuli tembok keras di depannya.
'gak cukup..
'kamu harus terluka!
"Nggak.. nggak! Aku ga akan lagi lakuin itu!", Ia mendesis kasar sambil tetap mondar mandir di ruangan itu.
Ia mencoba menenangkan diri dan bergerak lebih pelan.
Ashy bergerak mengambil air wudhu dan mengambil segelas air.
"Oke kamu gak apa apa As, gapapa tenang..", ia melangkah memasuki kamarnya.
Ia diam seketika, mendadak ia berjongkok.
Gemuruh itu terasa semakin berat, dadanya sakit. Tenggorokannya panas dan terasa terluka.
Tiba-tiba ia menangis.
"Enggak nggak.. enggak.. udah diem..", ia menangis dan tak henti menangis. Menangis seperti seorang anak yang kelelahan mencari jalan pulang.
Ashy melihat beberapa lembar kertas sisa dari pekerjaan yang sebelumnya dilakukannya dengan Redha.
"Enggak.. bukan!", Ia masih menangis sambil membisikkan kata kata yang ia tak mengerti. Ashy mengambil kertas kertas itu dan mulai merobeknya secara acak.
'segini aja?
Suara itu benar benar menekannya.
Ia bergerak mengambil pisau kecil di atas meja belajarnya.
"Nggak.. nggak! Aku ga akan melakukannya lagi..",
Perlahan.. ia menggunakan pisau ditangannya untuk merobek kertas menjadi semakin kecil.
'haha! Aku tahu kamu tidak puas..
'jangan berbohong! Aku tahu kamu mau juga!
Ashy mendadak terdiam.
Posisinya masih berjongkok, tanpa perubahan posisi sedikitpun.
Ia menegak tetesan air terakhir di gelas abu-abu kesayangannya.
Ashy tersenyum! Ia berhenti menangis dan menyunggingkan senyum tipis
Perlahan, tangannya bergerak ke lantai untuk mengasah ujung pisau.
Tanpa ia sadari.. tangannya bergerak mengasah pisau dengan kertas kertas sebagai media bantu.
Bukan. Ia bukan menghadapi situasinya..
Ashy, lagi lagi sejak awal ia bukan mengendalikan dirinya. Ia ikut mempersiapkan, apa yang mereka minta darinya.
Satu dua garis sudah terbentuk,
Perlahan mengeluarkan darah tipis dari lengannya.
Ia menambahkan garis baru dengan lebih dalam, sambil memejamkan mata.. ia tersenyum.
Ashy menghela napas panjang, "Hmm.. sudah. Hari ini sudah. Aku lelah!", Ia bergerak ke sudut kamarnya, bersandar, dan mulai terpejam.
Ia belum pernah sampai, untuk mengenal apa itu mau, dan apa itu ingin. Semua bagi Ashy hanya kesemuan.
Ia memulai tidur panjang..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar