Malam di Kota Jogg tempat Reva dibesarkan memang hanya seukuran petak kecil dibanding kota lain di Provinsi Kina.
Jika air pasang, kota ini bahkan bisa terangkat air dan mengikuti arus jika tidak diikat dengan tembaga tembaga pada batang pohon dan batu besar di hutan sebrang.
Malam itu lebih gelap dari biasanya, Reva pulang larut setelah melakukan konseling mingguan.
Masih teringat pertanyaan wanita tadi, "Apa ketakutan terbesarmu?", Suaranya datar namun tatapannya hangat, diam diam memberikan Reva rasa dihargai tiap melakukan konseling.
Memikirkan pertanyaannya, Reva tiba tiba teringat tentang malam waktu itu. 18 tahun lalu ketika umurnya 4 tahun.
"Gelap..", terbata bata Reva menjawabnya. "Dingin..", seorang anak kecil muncul dalam ingatannya, dengan kaki dan tangan terantai kuat, ia menjerit jerit minta ampun bahkan ketika diangkat dan dimasukan kebawah kotak mainan besar di ruang tamu rumahnya.
"Sesak..", "Berat..", Reva melanjutkan jawabannya.
Anak kecil itu menyadari semua orang meninggalkannya setelah lampu ruang tamu dimatikan. Pintu ditutup dan hanya ada keheningan diselingi tangisannya yang tak kunjung reda.
Ia tahu tidak ada yang akan datang menolongnya. Bukan bibi di depan rumah, bukan nenek baik di samping rumahnya, dan tentunya bukan ibu dan kakaknya yang memilih meninggalkannya setelah meletakkan anak kecil itu disudut.
"Percaya pada seseorang...".
Malam itu Reva akhirnya menangis di depan seseorang yang entah dia percaya atau tidak.
Setelah menghapus air matanya dan berapamitan, ia bergegas pulang karena adiknya sendiri di rumah.
"Dek, kakak pulang nih, makan yuk", adiknya baru 6 tahun, sudah 4 tahun lamanya Reva membesarkannya seorang diri.
Adiknya kini sedang lahap memakan semangkuk sup yang dibawa kakaknya.
Reva bergerak sedikit untuk menyalakan televisi.
"Sekali lagi saya ulangi, malam ini diprediksi akan ada hujan lebat dan badai, seluruh warga Jogg diminta mengungsi ke kapal besar dekat hutan. Perkiraan badai akan datang 15 menit dari sekarang dari arah utara, sekian dari..", tanpa menyelesaikan makanannya, Reva bergegas mematikan tv dan semua lampu dirumahnya, mengambil kantung uang dan baju hangat adiknya.
"Dek ayo ikut kakak", mereka sedikit berlari menaiki tangga untuk keluar, karena rumah mereka berada di bagian bawah rumah teman dari ayah Reva.
Setelah sampai di atas, ia menyadari hanya segelintir orang yang bergegas menuju arah selatan bersama keluarganya.
Hujan deras tiba tiba mengguyur seluruh kota Jogg.
"Dek, sini kakak gendong, kamu pegang yang kuat",
Hati Reva tak karuan, hujan badai 4 tahun lalu menyapu bersih orang orang yang enggan mengungsi, Reva yang kebetulan sedang membawa adiknya mengunjungi teman yang sakit, ikut berlarian ke pengungsian malam itu. Namun semenjak itu ia tidak menemukan jejak keluarganya.
Ia menerobos kerumunan orang dan berhasil menemukan tempat kosong, namun di tepi kapal yang sebenarnya ia hindari.
Udara semakin dingin dan angin kencang membawa air hujan terasa berat dan menyakitkan jika terkena kulit.
Ia memeluk erat adiknya yang hanya terdiam.
"Dek gapapa kok klo nangis.. kamu takut ya?", Ia menoleh dan mengangguk, mulai menangis pelan sambil memeluk Reva.
Air laut mulai naik, posisi Reva cukup rendah, berada di tengah badan kapal karena lantai teratas hanya untuk pejabat kota.
Mengungsi di kapal dimaksudkan jika terkena gelombang air maka kapal akan mengikuti arus dan bisa tetap berada di permukaan. Sedangkan jika di kota, seluruh kota akan tenggelam setinggi 10 kaki atau lebih, belum termasuk posisi kota yang miring 45 derajat karena sebagian terikat dengan pasak di hutan.
Air sudah mengenai pinggang Reva, ia mengangkat adiknya dan memeluknya di dada.
Kapal mulai bergoyang hebat, setengah jam berlalu namun badai masih meronta ronta.
Lampu kapal padam beberapa menit lalu.
Karena terlalu lama mengangkat adiknya, ia merasa kebas dan sesak karena beban berat adiknya, meskipun berat badan adiknya tidak seberapa.
Ia menggenggam erat pinggiran tiang tempatnya duduk. Kesadarannya mulai kabur..
Reva menggelengkan kepalanya keras agar terjaga, jika ia hilang kesadaran, adiknya akan jatuh!
Badannya sudah gemetar hebat, tangannya sudah hampir lepas kendali.
Seseorang di belakang kami tiba tiba bersuara, "Hey, kemarikan adikmu, posisi kami dekat pemanas ia lebih aman di sini", seseorang bertudung entah pria atau wanita, Reva mempercayakan adiknya pada orang itu.
"Adikku harus selamat, tolong jaga dia".
Setela memberikan kain adiknya, ia terhuyung dan pandangannya menjadi gelap.
Ia merasakan seseorang memegang lengannya dengan kencang..
.
.
hingga tiba tiba, terdengar suara seseorang memasak.
"Ah, aku kesiangan lagi..", ia keluar dari kamar kosnya dan mencuci muka.
"Kamu piket ya hari ini", tetangga kos memastikan aku mendengar nya, dan pergi setelah mendengar "iya".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar