My fans

18 Sep 2020

Air Mata Pertama

Bukan hal biasa untuk seorang Reva untuk menangis sedih, ia dikelas 4 dan teman-temannya sesenggukan karena mendengar muhasabah yang mendayu dayu.

Masih teringat kalimat kalimatnya, hampir sama dengan muhasabah di tahun tahun berikutnya. Tapi ada yang berbeda..

Tangisan pertamanya adalah rasa takut, badannya pertama kali bergetar ketakutan setelah kayu sepanjang tangan diulurkan ibunya dengan mudah ke mukanya. Ingatan sebelum SD itu masih teringat jelas. 

Ia tidak menangis kala itu.

Tapi marah. Karena itu membuatnya berdarah dan kesakitan yang panjang, dan Reva diam saja.

Pecutan sabuk di hari hari biasanya, sering membuatnya menangis, tapi tidak ketakutan, pun menangis agar segera usai.

Malam itu, pertama kali ia menangis, mengingat perkataan ibunya, "Tuh Ayah pergi karena kamu".

Malam itu Reva menangis singkat, perasaan takut yang besar. Ia sangat ketakutan ditinggal pergi oleh orang yang baik terhadapnya..

Reva bahkan tidak peduli banyak luka di tubuhnya yang belum kering, diberikan ayahnya karena entah alasan apa. Selama ia bersikap dan berkata baik, maka ia baik baik saja.

Waktu banyak berlalu,

Namun yang tertanam hanya satu.

"Jika ada sebuah kesalahan, maka ia penyebabnya. Tidak ada alasan lain".

Hingga tiba dititik ia memasuki jenjang perkuliahan,

luka ditubuhnya belum kering, sisa pukulan keras terakhir di penghujung libur untuk persiapan menyinggahi kos baru.

Malam yang panjang.

Bulan demi bulan, ia habiskan tanpa libur.

Hingga lupa, dia tak pernah lagi menangis.

Reva merasa hatinya terasa keras ketika melihat kesedihan, meskipun ia berusaha mersimpati.

Tidak ada gerakan sedikitpun dalam hatinya.

Kemudian, tiba tiba saja ia menangis.

Menangis tersedu sedu tentang kerasnya hatinya.

Tangisan pertama untuk dirinya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar